• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

18 September

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 18 SEPTEMBER 2005

  

HUKUM ISLAM:

(Lanjutan)

PROSES JATUHNYA HUKUMAN

Oleh : Ustadz Sambo 

Pada pertemuan yang lalu dibahas preses/tahapan sistem hukum diberlakukan.  Sekarang kita bahas proses jatuhnya hukum, karena hukum itu tidak bisa dijatuhkan langsung, ada tahapan-tahapan yang harus dipenuhi.  Kalau tahapan penerapan hukum dimulai dari dakwah, pencitraan, simulasi, dsb.; kini untuk menjatuhkan hukum atau suatu perbuatan akan kena hukum apabila disertai bukti yang meyakinkan bahwa ia telah melanggar hukum.  Bukti ini harus yakin, baru ia kena hukum.  Tetapi kalau tidak yakin, hakim dapat membebaskannya.  Keyakinan itu harus 100 persen, tidak boleh kurang.  Dalam kaidah ushul fiqih dinyatakan bhawa setiap manusia dianggap bersih, kecuali ada bukti yang menyatakan ia bersalah.  Dalam hukum positif dinamakan asas praduga tak bersalah.

Bukti hukum ada dua, yaitu saksi dan pengakuan.  Saksi harus melihat jelas perbuatan itu, tidak ngintip, tidak dalam keadaan samar-samar, tidak orang yang kondisi matanya tidak sehat, dll.  Bukti berikutnya adalah pengakuan bersalah dari orang tersebut.  Bukti pengakuan itu sifatnya tidak mutlak.  Artinya, kalau ia mengaku tetapi pada saat hukum akan dijatuhkan ia mencabut pengakuan tersebut, maka hukum tidak jadi dilaksanakan.  Dalam bahasa sekarang mungkin disebut Berita Acara Pemeriksaan (BAP).  Pengakuan itu bukan suatu syarat yang mutlak, kalau dcabut pengakuannya: selesai!  Tetapi kalau ada saksi, mengaku atau tidak mengaku, tetap salah.  Misalnya, orang mengaku berzina, saat hukum akan dilaksanakan, dijilid 100 kali kalau ia masih bujangan atau rajam kalau ia sudah menikah/berpasangan, kalau ia mencabut pengakuannya, ia tidak boleh dihukum.  Ini kalau buktinya pengakuan.  Tetapi kalau ada saksi, pencabutan pengakuan tidak bisa membatalkan hukuman.  Ada peristiwa yang menimpa salah seorang Laskar Jihad di Ambon, ia mengaku berzina dan ingin hukum Islam ditegakkan.  Teman-temannya menyarankan agar ia bertaubat saja.  Tetapi ia sendiri tetap ingin hukum dilaksanakan.  Ketika hukuman akan dilaksanakan, ditawarkan kepadanya untuk mencabut pengakuan itu; tetapi tetap ia tidak mencabut pengakuannya.  Kalau ia mencabut pengakuannya, sesungguhnya hukum tidak jadi dilaksanakan.  Pengakuan ini menyangkut taubat.

Peristiwa serupa menimpa sahabat nabi yang mengaku berzina, “Ya rasulallah, saya telah berzina”.  Kata Nabi, “Tidak betul kau berzina, paling hanya pegang-pegang saja”.  Kembali lagi ia kepada rasul, “Ya rasulullah, benar saya telah berzina, ini buktinya saya hamil”.  Jawab Nabi, “Ya sudah engkau pulang lahirkan dulu bayimu”.  Padahal kalau ia tidak datang lagi ke rasulullah, hukuman tidak dilaksanakan.  Dalam Islam, tidak boleh mengejar-ngejar pengakuan seseorang, kecuali ada saksi.  Menjebak orang atau mengintai itu tidak boleh.  Intel dalam hal seperti ini tidak boleh.  Sudah hamil pun oleh rasul diminta pulang hingga ia melahirkan.  Selesai melahirkan ia datang lagi, “Ya rasulullah, ini anak yang saya lahirkan, tolong tegakkan hukum, bersihkan diriku”.  Jawab rasul, “Sudah, pulanglah, susui anakmu hingga besar”.  Sebenarnya kalau ia tidak kembali lagi, hukum tidak dilaksanakan.  Sesudah anaknya besar, datang lagi untuk dihukum.  Baru hukum dijatuhkan, berarti orang ini benar-benar pengakuannya.

Ada seorang laki-laki data kepada rasul mengaku berzina.  Kata rasul, “Ah tidak betul itu, mungkin engkau hanya bergumul saja”.  Artinya apa?  Sudahlah, kalau tidak ada saksi yang melihat langsung tidak perlu ngotot-ngotot, bertaubat sajalah.  Itu kalau buktinya pengakuan, boleh dicabut..  Kalau dalam hukum positif sering terdengar pengakuan itu keluar karena tidak tahan atas siksaan pada saat pemeriksaan, daripada bonyok.  Ada anekdot: berapa umur suatu mumi?  Umur mumi bisa dengan mudah diketahui di Indonesia.  Kalau di luar negeri, dilakukan penelitian dulu, dites ini-itu, baru dihitung-hitung perkiraan umurnya.  Tetapi kalau di Indonesia, masukkan saja ke tahanan, maka segera ia ketahuan umurnya, karena diinterogasi, “Berapa umurmu?  …. prek …prek !”, hardik dan hajar polisi.  Akhirnya mumi pun berbicara! Tidak tahan atas siksaan itu.  Sampai seperti itu anekdot cara polisi memperoleh bukti pengakuan.  Ini terjadi pula di Bogor, seorang yang sudah berpangkat kolonel, komisaris besar, memukuli anak buahnya.  Itu menunjukkan bahwa memukuli orang itu sudah menjadi kebiasaan.  Coba kalau ia tidak pernah memukul orang?  Memukul orang itu tidak gampang, malah gemetaran ia.  Padahal itu pun saudara sendiri, kawan satu korps, anak buah; masih digebukin.  Bagaimana kalau orang lain?  Padahal masalahnya hanya sepele: perkelahian yang menyangkut keluarganya.  Masa’ begitu saja harus turun tangan!

Ada syarat-syarat untuk menjadi saksi, yaitu yang bersifat umum dan yang bersifat khusus (pribadi).  Syarat-syarat saksi adalah:

 1.  Akil Balig

Saksi itu harus orang yang sudah akil balig, dewasa, tidak boleh anak-anak.  Karena anak-anak itu bisa saja tidak mengerti, tidak tahu.

 2.  Berakal

Seorang saksi harus berakal, tidak boleh orang gila menjadi saksi.

 3.  Adil

Saksi itu mesti orang yang adil.  Seorang bandit, diketahui bajingan, tidak boleh menjadi saksi, karena bisa saja itu menjadi tuduhan, konspirasi.  Allah berfirman dalam surat Al Hujurat (49) : 6:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Dari ayat ini, terlihat tata urutan hukum, yaitu pertama, bahwa hukum itu harus ada saksi.  Kedua, tidak boleh memutuskan hukum dalam keadaan ragu-ragu, harus yakin (ilmu).  Jangan sampai memutuskan sesuatu dengan kebodohan (lawan yakin), harus dengan bukti yang kuat.  Saksi harus kuat dan adil.  Kalau tidak, tolak!

Dalam surat Ath Tholaq (65) : 2 Allah berfirman:

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.

Meskipun ayat ini berkaitan dengan perkawinan, tetapi juga berlaku secara umum.  Perkawinan saja saksinya harus adil, apalagi menyangkut pidana.  Syarat orang adil itu bahwa orang itu harus shalat, puasa, dsb.  Ia adalah orang yang bertaqwa, orang yang punya track record yang bersih.

Firman Allah SWT dalam surat Al Maidah : 8:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Jadi, adil itu adalah orang yang bertakwa, termasuk orang yang tidak berat sebelah, fair. 

 4.  Tidak boleh terlalu dekat atau benci

saksi itu tidak boleh orang yang membencinya.  Saksi juga tidak boleh orang yang dekat dengannya, seperti kedekatan hubungan kekeluargaan: bapak, anak, menantu, ipar, isteri, dsb.; nanti bisa tidak adil.  Demikian juga kebencian itu bisa menyebabkan ketidakadilan.

 5.  Melihat langsung dengan jelas

Dalam Islam, saksi ilmu atau saksi ahli itu tidak boleh, apalagi dukun.  Saksi itu harus melihat sendiri.  Sidik jari pun tidak boleh.  Sidik jari itu untuk dugaan saja, mengarah ke sana, ya!  Sebab, itu bisa direkayasa.  Jadi, berat proses hukum Islam itu.  Kadang-kadang orang tahunya hukum Islam itu: potong tangan, rajam, jilid, dll.  Hanya itu saja, tanpa mengetahui proses yang sebenarnya.

 6.  Minimal dua laki-laki

Saksi itu jumlahnya minimal dua orang laki-laki, kalau perempuan jumlahnya minimal 4 orang.  Ini khusus masalah non zina, kalau zina saksinya harus 4 orang laki-laki, tidak berlaku saksi perempuan.  Keterlaluan kalau perempuan menjadi saksi perzinahan.  Misalnya, suatu malam terjadi perzinahan, mau kerja apa perempuan malam-malam berkeliaran lihat perzinahan?  Allah berfirman dalam surat An Nisaa’ : 15:

Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.

Kalau zina, saksinya harus laki-laki, kalau bukan zina boleh perempuan.  Khusus untuk zina, saksinya harus 4 orang dan laki-laki, sedang yang lain dua orang.  Allah berfirman dalam surat An Nuur : 4:

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.

Kalau saksinya tiga orang, yang salah bukan yang zina; walaupun perbuatan itu benar dilakukan.  Untuk di pengadilan, saksinya harus 4 orang laki-laki, kalau hanya 3 orang, yang kena hukum adalah saksinya (yang melaporkan).  Bayangkan, apa ada saksi 4 orang menyaksikan orang berbuat zina?  Kalau saksi mau melaporkan, hitung dulu saksinya: 4 orang atau kurang?  Kalau kurang, jangan dilaporkan, bisa kena hukum yang melaporkan itu.  Jadi, ini menunjukkan bahwa urusan zina itu bukan perbuatan main-main.  Orang yang bersedia dilihat oleh orang sebanyak itu (4 orang), memang sudah keterlaluan.  Pelacur saja tidak demikian.  Kalau ada yang menuduh seseorang menjadi pelacur, maka ia harus bisa membuktikan dengan 4 orang saksi.  Kalau tidak, ia bisa kena hukum (cambuk).  Jadi, tidak gampang menuduh orang zina.  Orang yang dituduh zina bisa menuntut untuk dibuktikan dengan 4 orang saksi.  Hakim bisa memanggil orang yang menuduh itu, “Betul kamu menytakan orang ini berzina?”.  Jawbanya, “Betul”.  Hakim : “Mana 4 orang skasinya?”.  Ia jawab, “Tidak ada, tetapi saya melihat langsung ia berzina”.  Hakim menghukum orang yang menuduh itu, “Cambuk 80 kali!”. 

Dalam Islam tidak gampang, hati-hati menuduh seseorang berzina.  Melihat sendiri bahwa seseorang berzina, lalu kita ngomong; kita bisa dituntut.  Kalau melihat sendirian, tidak ada saksi lain; sudah, diam saja.  Itu aib orang lain, tutup jangan sampai orang lain tahu.  Atau kita bertiga melihat orang berbuat zina, maka kita tidak bisa menuduh ia berzina.  Saksinya harus 4 orang.  Itu menunjukkan bahwa zina itu yang dihukum itu seperti binatang perilakunya.  Mana ada zina dengan 4 orang saksinya?  Kalau ada 4 orang saksi langsung, berarti perbuatan itu dilakukan di muka umum. Apa tidak pantas orang model begini dihukum?  Kalau masih sembunyi-sembunyi, berarti ia masih punya malu; tetapi bukan berarti boleh!

Demikian pula tidak boleh dihukum, misalnya seorang mel,ihat seseorang berbuat zina, lalu ia memanggil teman-temannya untuk menyaksikannya.  Tetapi begitu sampai, perbuatan itu sudah selesai; walaupun keduanya tidak berpakaian, maka mereka tidak boleh dituduh berzina, tidak kena hukum.  Bila saksi itu mengadukan atau menuduh, maka mereka yang kena hukum.  Jadi, tidak gampang menuduh orang berzina.  Cuma yang orang banyak tahu adalah: zina? Jilid! Rajam!  Mencuri?  Potong tangan!  Tidak mengetahui prosesnya.  Jadi, dalam Islam itu ada hukum pencemaran nama baik.  Misalnya, bisa saja seseorang diadukan ke polisi, karena menuduh zina.  Maka polisi memanggilnya, “Betul Saudara menuduh orang ini berzina?”.  Dijawab, “Betul”.  Kata polisi, “Ada saksinya?”.  Jawabnya, “Ada, dua orang”.  Maka orang yang menuduh itu kena hukuman.

Dalam hubungan suami isteri pun, bisa saja terjadi saling menuduh.  Misalnya, suami melihat sendiri isterinya berbuat zina dengan orang lain; tidak bisa ia menuduhnya.  Allah berfirman dalam surat An Nuur : 6 – 9:

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.

Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.

Kalau masing-masing (sami-isteri) saling bersumpah, maka itu dinamakan li’an, saling melaknat; hakim akan menceraikannya.  Boleh saja siteri/suami menolak tuduhan itu dengan cara bersumpah.  Keduanya tidak dihukum, tetapi diceraikan.  Tetapi kalau mengaku berzina, maka hukum dijatuhkan.  Kalau dilihat proses hukum yang seperti ini, coba cari, hukum positif mana yang seperti itu?

Termasuk menuduh zina adalah kalau mengatakan, “Ini bukan anak saya”.  Misalnya, seorang suami merantau, lalu begitu pulang isterinya punya anak, lalu mengatakan, “Itu bukan anak saya”.  Maka itu berarti menuduh isterinya zina.  Kalau isterinya membantah, maka suaminya bisa diadukan ke polisi.  Kalau keduanya saling melaknat, maka diceraikan oleh hakim.

Jadi, dalam hukum Islam, urusan memutuskan hukuman itu sangat ketat, tidak gampang.  Kalau sudah tahu hukum Islam seperti itu: mulai dari dakwah, sosialisasi, hingga proses penjatuhan hukuman; maka tidak ada alasan orang menolak hukum Islam.  Orang yang menolak hukum Islam itu dua kelompok, yaitu pertama adalah memang orang itu tidak mengerti.  Tetapi kalau sudah tahu, maka ia masuk kelompok kedua, yaitu memang ia “ditanam” oleh musuh Islam.

Pertanyaan:

Ada banyak zina, misalnya zina mata, zina hati, dsb.  Mohon penjelasannya.

Tanggapan:

Yang dimaksud dalam pengertian hukum adalah zina kelamin.  Tetapi, dalam pengertian dosa, bisa saja mata, hati , dll, itu berbuzt zina.  Tetapi itu tidak kena hukum, ia tetap berdosa.  Tentang teknologi, tidak bisa dihjadikan, tetapi untuk penyelidikan yang mengarah ke sana bisa.  Dalam Islam tidak boleh orang mengintai, menjebak kejahatan orang lain.  Allah berfirman dalam surat Al Hujurat : 12:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut menunukkan bahwa hukum itu tidak boleh dengan prasangka.  Istilah tajassasuu dalam ayat tersebut lebih tepat diartikan “memata-matai”, mencari-cari kesalahan.  Tidak boleh juga memancing, mengumpan sehingga orang berbuat salah.  Sebenarnya orang tidak mau berbuat salah, tetapi karena diumpan itu, maka orang berbuat salah.  Seperti kasus Mulyana, dalam Islam tidak boleh, menjebak, men-set up.  Kejahatan itu baru terkena hukum kalau pintu yang mengarah ke sana tertutup.  Misalnya, “Wah, ustadznya kita umpan dengan wanita cantik; nanti sehabis ceramah supaya menginap di hotel …. “.  Ini tidak boleh, karena kejahatan timbul setelah diset up.

Ada kejadian dalam jaman Umar bin Khatab.  Umar itu kurang apa ketakwaannya, keadilannya?  Diakui oleh semua orang.  Umar itu pekerjaannya setiap malam keliling untuk memeriksa kehidupan rakyatnya.  Pada suatu malam Umar menghampiri rumah seorang bujangan dan terdengar ada sepasang laki-laki perempuan, terjadi perzinahan.  Pintunga ia dobrak, “Kalian ditangkap!”, kata Umar.  Apa kata orang yang berzina itu?  “Umar, dosaku hanya satu, tetapi dosamu tiga.  Pertama, kau mengintip.  Allah berfirman dalam surat Al Hujurat : 12 (rupanya orang ini mengerti tentang agama: walaa tajassasuu, jangan kau mengintip).  Yang kedua, kau masuk rumah tanpa ijin.  Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (An Nuur : 27) 

Yang ketiga, kau masuk rumah tidak mengucapkan salam”.  Mendengar itu Umar sadar, “Astaghfirullaah, saya salah, saya minta maaf”.  Padahal Umar itu khalifah, koq dibegitukan.  Akhirnya ornag itu bertaubat, “Saya juga bersalah dan tidak akan melakukannya lagi”. 

Ini menunjukkan bahwa betapa dalam Islam itu segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum pidana sangat ketat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: