• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

21 Agustus

MASJID AL FALAH YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 21 AGUSTUS 2005 

TAFSIR SURAT AL BAQARAH (2) : 49

Ust. Sambo

  Pada ayat tersebut dinyatakan yastahyuuna dari kata hayya yuhyi, artinya menghidupkan.  Hayatan artinya kehidupan.  Di sini aslinya ditambah alif/hamzah, sin dan ta, menjadi istahya-yastahyu-yastahyuuna yang berarti membiarkan hidup.  Seperti kata ‘aana-ya’iinu artinya menolong, tetapi ista’iinu artinya minta pertolongan.  Contoh lainnya: ghafara artinya mengampuni, tetapi istaghfara (istigfar) artinya mohon ampun. Kata adziimun pada akhir ayat tersebut artinya besar.  Kata ini bukan mensifati rabb (tuhan) kalian, tetapi mensifati balaaun.  Jadi artinya ujian yang besar dari Tuhan kalian.  Dalam bahasa Arab, suatu sifat itu harus sama dengan sesuatu yang disifati, seperti balaaun (tidak memakai al, memakai tanwin dhomah), yaitu adziimun.  Seperti ghofuuran adziiman, kedua-duanya adalah sifat yang sepadan (sama).  Dengan demikian ayat tersebut diterjemahkan sebagai berikut: Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Ayat ini sebenarnya adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Bani Israil untuk mengingat nikmat (yang telah diberikan).  Untuk lebih jelasnya, ayat yang bunyinya sama, hanya pada awal ayat tersebut ditambah dengan “Ingatlah akan nikmat…” itu bisa kita lihat dalah surat Ibrahim (14) : 6:

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir`aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu”.

Pada awal ayat ini disebutkan “untuk mengingat nikmat Allah”, sedang dalam surat Al Baqarah : 49 “mengingat Allah”-nya disebutkan terlebih dahulu, yaitu disebut pada surat Al Baqarah ayat 47:

Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat

Sedangkan pada surat Ibrahim ayat 6, “nikmat” disebutkan pada ayat itu juga.  Jadi, dari surat Ibrahim ayat 6 ini yang menerangkan apa yang kita bahas hari ini, yaitu surat Al Baqarah (2) : 49; ternyata sesuatu yang “enak”, yaitu diselamatkan dari siksaan itu merupakan hal yang nikmat, karena ini mengingat karunia Allah SWT.  Tetapi walaupun ini sesuatu yang nikmat, ujungnya disebut wa bi dzaalikum balaaun (pada yang demikian itu merupakan ujian atau cobaan dariTuhan kalian).

Nah, pantaslah kalau surat Ibrahim (14) : 6 itu kelanjutannya, ayat 7-nya, adalah ayat yang sering kita ucapkan bersama, yaitu:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Cobaan dari Allah SWT kalau dilihat dari konteks ayat ini (Al Baqarah: 49), kita diperintahkan untuk mengingat nikmat, ternyata berarti itu cobaan.  Al Qur’an banyak menyebut, salah satunya adalah Fir’aun.  Ia adalah orang yang banyak dikaruniai nikmat.  Fir’aun itu gelar bagi raja-raja Mesir yang kafir pada saat itu.  Hal ini sering ditanyakan ketika dialog Islam dengan agama lain, kan Fir’aun itu pada jaman Musa, orang menyebutnya Ramses, yaitu Ramses III.  Jadi, Fir’aun itu adalah gelar, seperti Qishro itu juga gelar.  Dari sini, maka contoh yang perlu kita ambil yaitu yang tidak “lulus” dengan nikmat yang dikaruniakan, yaitu ujian berupa kenikmatan dari Allah SWT adalah Fir’aun.  Makanya, Fir’aun ini dianggap tidak lulus ujian oleh Allah SWT karena ia bertobat pada saat sudah sampai kepada kematian.  Sendainya dia sebelum mati, sebelum sakarotul maut datang, ia betobat, maka sesungguhnya tidak ada dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT, termasuk dosa syirik.  Dosa syirik itu bias diampuni oleh Allah SWT kalau ia bertobat sebelum mati. Kita lihat, bagaimana dosa syiriknya Umar bin Khatab sebelum ia masuk Islam.  Tetapi Umar bin Khatab taubat, lalu masuk Islam, meninggalkan semuanya, berjuang dalam Islam.  Maka Umar bin Khatab yang dulunya pernah mengalami kemusyrikan dengan menyembah berhala, dsb, tetapi akhirnya menjadi orang yang dijamin masuk surga.  Maka kita bisa melihat dalam surat Yunus (10) : 90:

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

 Mulai hari ini kita harus berpikir positif dalam kehidupan kita bahwa kalaulah kita mau mencari apa pun di dunia ini, yang jelas kita tidak akan pernah sampai kepada kenikmatan dunia sebagaimana dialami oleh Fir’aun, tetapi penyesalan yang didapat kalau kita melakukan hal-hal seperti yang dialami Fir’aun: dapat nikmat, dapat yang lain, tidak bersyukur kepada Allah.  Ini yang seharusnya kita lihat agar kita berhati-hati.  Penyesalan Fir’aun, ia mengaku Islam, paling tidak ia ingin berserah diri kepada Allah, setelah ia menghadapi kematian yang sudah dekat. Oleh karena itu, pelajaran bagi kita dari Fir’aun ini : kita sudah Islam dari dulu, maka jangan pernah menyesal menjadi Islam.  Sebagai tanda tidak menyesalnya kita kepada Islam, maka perbanyaklah pengetahuan, perbanyaklah pengamalan tentang agama kita ini, tentang Islam; sebelum kita menyesal.  Karena, kehidupan yang paling nikmat seperti dialami Fir’aun di dunia ini : dia jarang sakit (kalau kita: sedikit-dikit makan sesuatu, kadar gulanya naik, tensi naik, sedikit-sedikit sakit).  Fir’aun kalau mau apa saja, ia tidak perlu berusaha sendiri.  Untuk hal-hal yang berkenaan dengan makanan, ia tinggal tunjuk sana-sini, sudah datang makanan yang dia inginkan.  Mau makan apa pun, Fir’aun bisa memperolehnya.  Bahkan bila saat itu Indonesia sudah dikenal, mungkin akan ia cari.  Apalagi kalau Fir’aun menginginkan wanita lain, ia tinggal tunjuk.  Wanita seperti apa pun, ia bisa mendapatkan.  Tetapi dapat kita lihat, ia yang seperti itu, yang tidak bisa kita tandingi (kita bisa menandingi bagaimana, menunjuk wanita lain yang kita inginkan, misalnya, samping kanan-kiri kita akan marah, apalagi yang memiliki wanita itu, pasti akan sangat marah).  Tetapi Fir’aun tidak, tidak ada yang mampu menolaknya, karena ia seorang raja, apa pun bisa ia lakukan.  Tetapi kenikmatan yang demikian itulah yang mengantarkan Fir’aun tidak sempat taubat, baru saat menghadapi kematian ia bertaubat. Allah berfirman dalam surat Yunus (10) : 90:

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. 

Kadang-kadang terjadi, hari ini orang mengaku muslim, dia juga tidak punya nikmat apa-apa, nikmatnya ya cuma segitu-gitunya yang diberikan oleh Allah, dia tidak mempergunakan keislamannya dengan sebaik-baiknya; ia pasti akan menyesal.  Amat tidak nikmat: di dunia tidak mendapat apa-apa, gara-gara dia tidak mau sebenar-benarnya dalam agama Islam ini, maka menyesalnya mungkin sama dengan Fir’aun; menyesalnya sama: sama-sama masuk neraka.  Ia mengaku Islam, tetapi tidak pernah mau belajar, tidak mau beribadah, tidak mau berusaha; sama-sama nanti dikumpulkan di neraka.

Ada dua golongan yang merugi.  Kalau Fir’aun wajarlah di neraka, dia habis-habisan, sebab di dunia nikmatnya sudah habis-habisan.  Sedangkan kita batasnya jauh dengan yang dilakukan oleh Fir’aun.  Oleh karena itu, dari ayat ini sebenarnya awal pada surat Al Baqarah : 49 di atas, Allah sudah memberikan sinyal bahwa disadari atau pun tidak, sebenarnya kalau kita mau merenungkan, hidup itu sendiri adalah ujian bagi kita.  Makanya tidak ada masalah bagi seorang muslim, mau susah atau senang, sebenarnya itu adalah ujian.  Ini yang kadang-kadang tidak kita sadari.  Kalau pas susah itu dikatakan ujian atau cobaan.  Giliran pas senang, itu bukan cobaan.  Pada hari ini mari kita ingat ayat-ayat-Nya yang menyatakan bahwa kenikmatan atau kebaikan itu juga ujian; keburukan itu juga ujian.  Seperti disebut dalam surat Al Anbiya (21) : 35:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. 

Dalam ayat itu penyebutannya menggunakan “keburukan dan kebaikan” (asy syarri wal khoir).  Dalam surat lain disebut hasanat dan sayyiat, yaitu dalam surat Al A’raaf (7) : 168:

Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). 

Sebenarnya disadari atau tidak bahwa nikmat yang baik-baik atau bencana yang buruk-buruk itu semuanya adalah cobaan dari Allah SWT.  Oleh karena itu, untuk menyiapkan diri kita dalam rangka menghadapi kehidupan ini sebenarnya harus disadari tiga prinsip.  Yang pertama adalah dari ayat tadi kita tidak bias lari dari cobaan atau ujian dari Allah.  Ujian dari Allah itu pasti adanya.  Jangakan kita yang sudah sebesar ini, ketika kita belum sebesar ini, itu sudah diuji, perjuangannya sudah jelas.  Kita ini sebelum masuk sel telur saja, kita ini adalah satu dari dua ratus juta “sel telur” yang dimiliki oleh laki-laki.  Jadi, kita ini dipilih Allah dari dua ratus juta.  Makanya Allah menyatakan dalam surat Al Insan (76) : 2 bahwa awal kita keluar ke dunia ini mendapatkan ujian dari Allah SWT.  Yang jelas ujian itu pasti datangnya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. 

Manusia dalam hidup ini sebenarnya tinggal siap-siap saja, kapan Allah akan menguji kita?  Karena sudah pasti itulah, kita harus dididik untuk tidak pernah menolak apa pun yang terjadi di dunia ini.  Karena kita tidak menolak itulah, sebenarnya 50% dari sebuah masalah yang datang kepada kita sudah selesai.  Maka walaupun banyak orang mentertawakan, sebenarnya kita akan lebih baik seperti apa yang dikatakan oleh orang Jawa, “Untung matanya hilang satu.  Untung masih satu yang hilang, masih ada satu lagi; kalau dua-duanya?”.  Tertabrak, kakinya hilang satu, masih untung baru kaki satu, bukan dua-duanya. Mati tertabrak dikatakan, “Untung mati, kalau hidup, ia tidak akan mampu lagi menghadapi kehidupan”.  Orang yang sudah menerima seperti itu sebenarnya sudah 50% jawaban masalah selesai, karena ia sudah tidak memikirkan apa-apa.  Karena, kalau ditanya kenapa terkena musibah, misalnya, lama-lama akan menjadi orang yang menyalahkan orang lain.  Seperti, tidak ada hujan, tidak ada angin, lantas ban mobilnya copot di jalan tol atau bannya kempes.  Kalau kita tidak terima atas kejadian itu, woo ia akan menyalahkan orang lain.  Padahal itu sudah terjadi.  Itu adalah pelajaran, berarti nanti harus dicek: kalau mau berangkat, periksa bannya.  Tidak bisa ditanya, kenapa tadi tidak dicek?  Kalau sudah terjadi, urus berapa kerugiannya, siapa yang celaka.  Sudah.  Itu yang dipikirkan.  Maka, yang demikian itu setengah masalah sudah terselesaikan.   

Prinsip yang kedua yang harus kita miliki, yang akan memberikan penyelesaian 25% lagi adalah mengakui bahwa Allah itu maha baik, maha logis; tidak pernah mendholimi hamba-hamba-Nya.  Makanya, kalau kita mendidik diri kita bahwa kalau sesuatu terjadi, Allah maha baik, Ia tidak mendholimi hamba-Nya; ini berarti sudah 75% dari suatu masalah sudah selesai.  Allah menegaskan seperti pada surat Ali Imron (3) : 108:

Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. 

Di awal ayat disebut “Itulah ayat-ayat Allah”, tetapi di ujungnya disebut bahwa Allah tidak berkehendak untuk mendholimi kita semua.  Artinya, yang terjadi di dunia ini, Allah tidak berbuat dholim. Kalau ada orang berbuat salah lalu ia mendapat teguran dari Allah, Alah tidak berbuat dholim; sebenarnya itu adalah kasih saying Allah.  Kalau itu disadari, orang itu sudah spesial.  Hal yang sama juga dijelaskan pada surat An Nisa’ (4) : 40:

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah (sedikitt pun), dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. 

Dalam kehidupan ini, Allah tidak mungkin berbuat dholim kepada kita.  Yang Allah berikan kepada kita pasti baik.  Dari dua prinsip ini, yaitu yang pertama adalah kita terima bulat-bulat dan kedua diterima dan itu adalah baik; walaupun kenyataannya kita mendapat musibah yang sungguh besar, tetapi kalau diterima, 50% kita sudah bisa menyelesaikan masalah itu dan ini dianggap baik bagi kita.  Ingat: ini baik bagi kita.  Allah tidak berbuat dholim kepada kita (An Nisa’ : 40).  Pada ayat tersebut disebut “sedikit pun” (sebesar zarrah), apa lagi kalau banyak.  Oleh karena itu kalau terjadi sesuatu yang buruk, ya jangan nyalahin Allah.  Kita harus possitive thinking, berarti Allah menginginkan kebaikan bagi kita, walaupun nampaknya yang terlihat merupakan sesuatu yang sangat buruk. 

Prinsip yang kedua ini harus kita pegang agar kita “lulus” ujian, baik ujian itu kenikmatan ataupun ujian itu kesusahan.  Nah, akhirnya kalau sudah demikian, prinsip yang ketiga adalah untungnya pasti buat kita.  Jadi, kalau kita hadapi, kita terima, kemudian kita yakin bahwa dari peristiwa yang terjadi, misalnya kita terima kekayaan ini dan yakin bahwa kekayaan itu baik untuk kita, dan sadar bahwa itu ujian dari Allah; pasti orang seperti ini akan betul-betul menghadapi masalah dengan hati-hati.  Kalau sadar bahwa itu ujian dari Allah, ia akan hati-hati dan keuntungan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.  Demikian pula sebaliknya, sesuatu yang tidak enak pun itu untungnya, bila ditunaikan sesuai dengan ketentuan Allah, adalah bagi dirinya sendiri; karena kita ingin masuk surga.  Jalan masuk surga itu adalah melalui ujian itu.  Ujiannya entah kita akan mendapat sesuatu yang buruk ataupun sesuatu yang baik.  Kalau kita “lulus” ujian dari sesuatu yang buruk ataupun yang baik, kita akan mendapatkan suatu keuntungan dari Allah.  Walaupun masalah yang berat sekali di hadapan kita, dengan tiga prinsip atau sifat yang demikian itu, maka kalau jiwa kita sudah seperti itu, maka mencari solusinya tinggal 5% saja.  Jadi, kenapa jaman Rasulullah seberat apapun masalah yang dihadapi orang, tidak menjadikan masalah, karena keyakinan sepenuhnya itu menentukan penyelesaian masalah yang tinggal 5%.  Kalau sekarang kan tidak.  Kita membuat hitung-hitungan 90%, mental di diri kita hanya 10%.  Makanya masalahnya tidak selesai-selesai.  Padahal kalau persiapannya mental dulu, mentalnya sudah seperti tadi (tiga prinsip tadi), menjadi amat ringan menyelesaikan masalah dalam kehidupan ini.  Akan tetapi banyak orang tidak bisa bersyukur walaupun ia sudah belajar tentang syukur, karena mentalnya tidak pernah dibina.  Kalau mentalnya bersyukur, ia yakin bahwa ini ujian dari Allah, mendapat kekayaan: ujian dari Allah.  Karena Allah tidak mendholimi kita, dan sedikit saja kebaikan yang kita berikan, akan dilipatgandakan oleh Allah.  Tetapi sebaliknya, walaupun misalnya seluruh Indonesia dikasihkan, masih kurang juga; karena mentalnya tidak dibina. 

Oleh karena itu, yang akan meringankan dalam kehidupan ini adalah tiga prinsip tadi.  Akhirnya, kita harus berjuang dalam rangka meringankan beban ujian dalam kehidupan.  Yang pertama adalah siapkan diri kita untuk terus berbuat baik, bertobat karena segala sesuatu yang akan menimpa kita tidak pernah membuat kita aman dan kita tidak mengetahuinya. Artinya apa?  Jangan ditunda-tunda untuk berbuat baik.  Jangan kita merasa aman di dunia ini, aman dari Allah SWT.  Orang boleh merasa aman kalau berbuat baik setiap hari, setiap saat.  Makanya wajar kalau tsunami itu datangnya pada saat orang-orang terlena.  Ini yang harus kita sadari: tidak boleh merasa aman dari adzab Allah.  Maksudnya adalah waktu itu jangan diisi dengan keburukan sedikit pun.  Karena, kalau kita mengisi waktu dengan keburukan, berarti kita merasa aman dari adzab Allah.  Isilah waktu itu dengan kebaikan-kebaikan.  Coba kita lihat surat Al a’raaf (7) : 97 – 99:

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Dari ayat ini, walaupun kita jauh dari mana-mana, kita tidak akan pernah merasa aman dari Adzab Allah.  Tidur nyenyak tidak ingat apa-apa, tidak ingat dosa, dll.  Ini sebenarnya telah ditegaskan oleh Allah apakah penduduk suatu negeri merasa aman bahwa mereka tidak akan mendapat adzab saat mereka sedang tidur?  Apakah seseorang merasa aman sedangkan adzab Allah bisa dating ketika matahari naik dan dia sedang bermain-main?  Ketika terjadi tsunami, misalnya, seperti ini: ketika matahari sedang naik, mereka sedang main-main, mainnya di pantai.  Kalu mainnya karena ia refreshing untuk menghilangkan kepenatan, capeknya beribadah, itu bersyukur.  Tetapi kalau mainnya karena maksiyat, itu ia merasa aman dari adzab.  Disebut merasa aman, kita terlena, tidak pernah memikirkan, tidak pernah berpikir tentang Allah di waktu-waktu senggang kita.  Karena bisa jadi kita sedang ngapain, sesuatu terjadi.  Musibah itu bisa datang tiba-tiba.  Oleh karena itu, gunakanlah kesempatan ini untuk jangan kita merasa aman dari adzab Allah.  Makanya kita harus selalu berbuat baik. 

Yang kedua, adalah jangan mengeluh, jangan lemah; tetapi harus siap menghadapi dan menyelesaikan hingga sukses kehidupan kita ini.  Dalam surat Ali Imron (3) : 146 Allah berfirman:

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

Hadapi kehidupan di dunia ini dengan semangat, pikirkan perbuatan baik apa yang kita kerjakan hari ini.  Yang dimaksud sabar itu adalah kita jangan terlena pada waktu-waktu kita mendapat kenikmatan.  Rasulullah menyatakan bahwa yang tidak disadari manusia itu biasanya adalah nikmat “sempat” dan nikmat “sehat”.  Kalau sedang sehat, semua – apapun akan dilakukan, tidak berpikir  bahwa harus menjaga kesehatannya.  Apalagi kesempatan.  Kalau banyak waktu luang, biasanya kita banyak nganggur, santai-santai; tidak pernah berpikir mau berbuat kebaikan.  Itu yang disebut oleh Rasulullah sesuatu yang menyenangkan.  Jadi, tidak ada kata santai bagi kita, tetapi berjuang dan terus berjuang.  Musuh yang terdekat itu adalah dunia yang melengahkan, syaiatn yang selalu membisiki.  Itu adalah sesuatu yang menyebabkan orang menyerah.  Kalau menyerah dengan musuh yang jelas-jelas, mungkin kita tidka mau. Misalnya, ada orang yang menyerang agama kita, kita siap fight.  Tetapi giliran musuhnya yang dekat-dekat kita: hidup enak, waktu luang, dsb; tidak pernah merasa bahwa itu harus digunakan untuk mendapatkan kebaikan, itu musuh kita.  Seringnya, kalau orang Indonesia, tidak mengerjakan apa-apa malah menjadi loyo, tidak ada semangat, santai saja.  Mestinya dari kesempatan itu minimal kita berdzikir kepada Allah, santainya dengan belajar agama, baca buku; itu enak, semuanya masuk.  Tetapi, ini dari pagi sampai sore tiduran terus, balas dendam, karena satu minggu sudah bekerja mati-matian, giliran libur terus tidur, menge-charge energi.  Padahal kalau ngecharge battery kalau kelamaan bisa jebol.  Kita pun demikian, kalau kebanyakan santai, lama-lama terlena dengan waktu santai kita.

Yang ketiga adalah tidak ada kata gagal dalam kehidupan kita.  Misalnya, anak kita masu masuk UI, ternyata gagal. Bukan berarti gagal kehidupannya.  Tidak ada kata gagal, karena kita belum tahu apakah meninggal dunia dalam keadaan kafir atau meninggal dunia dalam keadaan muslim.  Yang dikatakan gagal itu adalah kita tidak pernah melakukan kebaikan dan mati dalam keadaan berkamsiyat kepada Allah.  Itu yang dikatakan betul-betul gagal.  Kita tidak boleh mencap orang lain, “Ini tukang maksiyat, kurang ajar”.  Ia masih hidup, masih bisa bertaubat, masih bisa memperbaiki diri.  Boleh kita mengambil pelajaran dari orang yang telah meninggal, tetapi jangan bicarakan dengan orang lain, “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti tetanggaku, ia mati dalam keadaan maksiyat kepada-Mu”.  Boleh mengambil kesimpulan seperti itu, karena sampai titik akhir kesempatan, ia memang jelek.  Tetapi kalau belum sampai meninggal dunia, jangan berprasangka buruk pada orang lain.  Makanya kata putus asa itu hanya dimiliki oleh orang kafir.  Itu adalah sifat-sifat orang kafir yang melekat pada dirinya.  Bagi kita: tidak ada kata gagal, berarti tidak ada putus asa.  Inilah yang diajarkan sebagaimana difirmankan dalam surat Yusuf (12) : 87:

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Kalau tidak ada kata gagal, berarti tidak ada putus asa.  Misalnya, “Saya sudah tua tidak bisa baca Qur’an.  Saya sudah gagal”.  Nah kalau sudah tua nggak bisa baca Qur’an, terus tidak mau belajar, kalau tiba-tiba meninggal dunia, ya itu memang gagal.  Tetapi kalau ia sudah tua, tidak bisa baca Qur’an, ia belajar lalu meninggal, itu bukan gagal.  Itu masalah waktu saja, bukan masalah ia gagal.  Perjuangannya yang dinilai dan dihargai betul oleh Allah SWT.  Ya kalau masih muda, ia belajar giat baca Qur’an, ya itu wajar.  Ini sudah kakek-kakek merasa belum bisa baca Qur’an, diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki diri, berusaha mati-matian; itu baru hebat.  Berbeda dalam berinfaq.  Kalau infaq pada saat sudah tua, bau tanah baru infaq, itu adalah hal yang wajar; karena ia sudah tidak butuh apa-apa lagi: mobil sudah tidak kuat bawa, makan makanan yang enak tidak boleh, tekanan darah naik, gula naik, semuanya naik; maka infaq itu wajar-wajar saja.  Tetapi kalau masih muda, ia masih ingin macam-macam, lalu infaqnya besar; itu baru hebat.  Makanya Rasulullah dalam hadis Buchori-Muslim, mengatakan bahwa infaq yang terbaik adalah:

Wa antashoddaqo wa antashohiihun syahiid ta’mulul ghina wa takhsyal fakro (sebaik-baik shodaqoh itu kalau kalian bershodaqoh dan kalian masih sehat dan masih ingin, ingin kekayaan dan takut miskin/kekurangan).  Jadi, infaq yang terbaik adalah ketika masih muda, misalnya, umur 40 tahun, lagi sukses-suksesnya, banyak keinginan.  Itulah infaq yang terbaik.  Pada waktu masih muda, masih ingin mobil ini, masih ingin ganti mobil itu, rumah ini-itu, dll; infaq pada waktu itu oleh Rasulullah disebut terbaik.  Pada waktu masih muda, semua orang takut kekurangan (takhsyal fakro).  Makanya, infaq masa tua itu wajar-wajar saja.  Kalau mau yang terbaik, ya mumpung masih muda.  Pada waktu masih muda, makan duren kuat 10 biji sehari; ketika itu infaq banyak-banyak: hebat!  Kalau sudah tua, makan duren saja sudah tidak mampu; infaqnya besar, wajar-wajar saja.

Yang terakhir, keempat, ternyata menghadapi kehidupan itu semangat yang harus kita miliki adalah tidak ada batas akhir untuk mengukur keberhasilan hidup kita.  Tidak ada batas akhir.  Yang ada dalam agama kita, yang disuruh adalah matilah kita dalam keadaan husnul khotimah (akhir yang baik).  Soalnya kita tidak tahu akhir kita.  Kan kita tidak tahu kapan kita mati.  Makanya husnul khotimah itu, akhir yang baiuk, akhir dalam keadaan ibadah; harus dimulai dari sekarang.  Mohon dalam kehidupan kita ini diisi dengan kebaikan-kebaikan, karena kita tidak tahu kapan matinya.  Begitu kita mati, mati dalam keadaan berbuat baik.  Tetapi kalau kita pilih-pilih waktu, selang-seling, jangan-jangan pas kita mati, pas yang lagi tidak baik.  Ini yang perlu ditakutkan.  Inilah yang disebut oleh allah dalam surat Ali Imron (3) : 185:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Di situ tidak ada batas akhir yang mengukur keberhasilan kita.  Yang ada adalah siap-siaplah kita akhiri kehidupan kita dengan kebaikan.  Yang bermasalah adalah akhir kehidupan itu kita tidak tahu kapan datangnya.  Karena kita tidak tahu itu, maka terus saja kita berbuat baik.  Jangan sampai kita sok tahu kita matinya nanti kalau sudah tua, sekarang santai-santai dulu, nanti kalau sudah tua baru semangat.  Sekarang saja dimulai, masalah mati tidak ada yang tahu.  Oleh karena itu, tidak ada batas akhir.  Kalau sudah mati, itulah akhir; baru bisa diukur, kita hitung-hitungan.  Kita isi kesempatan hidup kita untuk berbuat kebaikan.  Kita ini ending-nya nanti baru bisa dikatakan “Oh saya sudah berhasil”.  Kita semua bisa mengatakan berhasil atau tidak nanti pada hari kiamat.  Kalau berhasil, kita dijauhkan dari neraka, dimasukkan dalam surga.  Itu baru bisa dikatakan berhasil.  Tetapi kalau sekarang, jangan sombong dulu.  Jangan merasa lebih baik dari yang lain, lebih berhasil dari yang lain dalam kehidupan; misalnya saja dalam beribadah, dsb.  Di dunia ini kita berjuang terus, perbaiki terus sampai mati.

 Pertanyaan:

Ada orang yang dalam hidupnya dikatakan sedang mencari kebenaran.  Sehingga kita tifak boleh memvonisnya: berhasil atau gagal.  Mungkin orang-orang yang menganut Ahmadiyah atau pengikut JIL juga sedang mencari kebenaran.  Mohon penjelasannya.

 Tanggapan:

Kata-kata “mencari, mencari, dan mencari kebenaran” itu sebenarnya adalah kata-kata filsafat.  Bagi kita yang sudah tahu agama Islam, sudah disampaikan bahwa gunakan pikiran dengan sejernih-jernihnya, tidak hanya asal ikut-ikutan, dsb.  Mencari dari sumber-sumber lain, sebenarnya itu bukan “mencari”, tetapi untuk menambah keimanan.  Bagi orang Islam, belajar Al Qur’an itu menjadi hal utama, karena yang diyakini dari Kitab Allah dan kita pelajari hari ini, sehingga membuat kita tambah yakin, itu baru benar mencari kebenaran.  Misalnya, saya membaca ayat ini, tiba-tiba ketemu ayat lain, ternyata ada kaitannya dan itu telah  kita praktekkan dalam kehidupan; seperti inilah yang dilakukan oleh seorang muslim.  Kita dituntut untuk mengetahui sesuatu yang tidak tahu itu bukan gara-gara kita tidak belajar.  Dengan belajar itu kita akan bertambah pengetahuan untuk beramal.  Imam Syafii, misalnya, dalam kitabnya ada yang disebut qoulul qodim dan qoulul jadiid; ada fatwa-fatwa Imam Syafii yang lama dan ada fatwa-fatwa yang baru.  Kenapa demikian?  Karena dengan kematangan usia, dengan kematangan ilmu yang dimiliki (ia berusia 17 tahun sudah disuruh mengeluarkan fatwa), wajar saat masih muda berusia 17 tahun, lalu semakin lengkap ilmunya lalu yang di awal-awal itu diperbaiki.  Itu mungkin saja.  Itu yang perlu kita contoh.  Tetapi kalau tahu dari orang lain, seperti Ahmadiyah, itu kesesatannya dari dirinya sendiri.  Kenapa tidak tanya kepada orang lain?  Mengapa tidak belajar kepada orang lain juga?  Seperti orang Ahmadiyah itu, sekarang masih sesat, tetapi kita tidak tahu akhir hayatnya.  Kalau masih seperti itu, berarti memang ia sesat.  Kita tidak boleh ngotot meyakini apa yang kita ketahui hari ini, sedang orang lain menyampaikan kebenaran; kecuali yang miring-miring.  Suara hati kita itu dibimbing oleh Allah untuk tidak menerima yang miring-miring itu, karena yang miring-miring itu selalu yang dibuat-buat.  Tidak ada kesesatan itu kecuali dibuat-buat.  Seperti Jil pun, itu dibuat-buat.  Sesuatu yang miring itu tidak ada yang keluar dari hati yang paling dalam.  Kalau itu keluar dari hati yang paling dalam, berarti dia sudah tidak beragama.  Hari ini ia bisa beragama Kristen, besok Budha, lusa Islam, lalu Hindu, baru nanti Islam lagi; karena mereka beranggapan bahwa semua agama benar.  Kalau itu keyakinannya, coba ia pindah agama!  Kan ia sampai sekarang masih mengaku Islam.

Pertanyaan:

Kita memang disuruh untuk terus berusaha, tetapi bagaimana bila tidak berhasil?

Tanggapan:

Kalau usaha mati-matian, lalu tetap juga belum bisa, terus saja didorong untuk terus berusaha.  Hasil tidak sempurna itu tidak menjadi masalah.  Seperti sudah tua belajar baca Al Qur’an, tidak bisa-bisa, ya sejadi-jadinya; yang penting ada kemauan untuk berusaha.  Kadang-kadang orang sudah tua belajar bbaca Qur’an, inginnya bacaannya mirip Imam Masjidil Haram, ya jangan berharap seperti itu.  Karena Imam Masjidil Haram dari kecil sudah bagus suaranya, sudah belajar.  Orang belajar Qur’an itu, ia bisanya begitu, ya tidak apa-apa, yang penting terus saja belajar sampai nanti mati, jangan membayangkan belajar baca Qur’an hasilnya mirip Muammar.  Wah, ya sulit.  Sebenarnya yang penting adalah semangatnya.  Atau misalnya, umur 50 tahun  bertaubat, ngaji, lalu inginnya menjadi kyai, bisa ceramah; jangan bayangkan seperti itu.  Paling tidak, belajar itu untuk diri sendiri, yang lainnya berupa perbuatan yang bisa dicontoh orang lain.  Itulah yang harus kita kejar.  Jadi, sekali lagi, tidak ada kata gagal dalam hidup ini.  Jaman Nabi, misalnya, orang bisanya seperti itu, ya tidak apa-apa, yang penting tetap dalam agama Islam, tidak menyimpang dari aturan.  Kalau bacaan, misalnya ha daibaca kho, bisa dibetulkan; tetapi seperti hamzah dan ain susah dibedakan; ya sabarlah, lama-lama juga bisa.  Inilah yang disebut tidak gagal, tidak boleh putus asa.  Yang penting perjuangannya betul-betul maksimal.

Wallaahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: