• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

23 Oktober

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 23 OKTOBER 2005

  KENDALA-KENDALA BULAN RAMADHAN 

Oleh : Ustadz Sambo  

Kita telah mempelajari hakekat dan manfaat dalam bulan ramadhan.  Kita telah mengetahui betapa besarnya manfaat bulan ramadhan.  Kendala yang dihadapi adalah mengapa ramadhan itu berlalu begitu saja, kurang banyak dampaknya kecuali hanya lapar dan dahaga saja? 

Ramadhan adalah salah satu bentuk training yang Allah berikan kepada kita.  Perusahaan mana yang setiap tahun menyelenggarakan training sebulan penuh?  Paling yang diselenggarakan hanya beberapa hari atau minggu saja dan itu pun tidak setiap tahun.  Tetapi ramadhan ini adalah sebulan penuh, setiap tahun, selama 24 jam selama sebulan penuh kita ditraining.  Kalau pegawai perusahaan ditraining sebulan penuh setiap tahunnya, apa dampaknya? 

Kita tahu bahwa di bulan ramadhan itu yang menjadi “guru” adalah langsung Allah.  Kalau selama ini kita diajar oleh ustadz, oleh guru biasa, mungkin belum “nyambung”, oleh guru yang lain juga “belum nyambung”; tetapi ini Allah secara langsung “turun tangan”: Ia yang mendidik, Ia yang membina kita.  Seharusnya, seyogyanya, kalau “guru”-nya itu langsung dari “guru yang pertama”, maka mestinya menjadi lebih mantap, hasilnya pun luar biasa.  Tetapi pada kenyataannya ada perbedaan antara yang terjadi dengan yang diharapkan, antara das sein dan das solen.  Inilah yang menjadi pertanyaan: mengapa hal ini bisa terjadi? Kita akan telaah beberapa faktor penyebabnya yang mungkin bisa dijadikan renungan sehingga jangan sampai sisa waktu ini terbuang sia-sia; kita perbaiki dan melengkapinya.  Beberapa faktor dimaksud adalah : (1) Salah persepsi, (2) Salah tata laksana, dan (3) Hasil tidak tercapai.

 1.  Salah Persepsi 

Yang pertama adalah salah persepsi, salah paradigma dalam memandang ramadhan oleh kaum muslimin.  Karena salah memandang, hasilnya pun menjadi berbeda dari yang diharapkan.  Kita tahu bahwa merubah manusia itu mesti dimulai dari merubah cara pandang/paradigmanya.  Sikap manusia tidak akan banyak berubah, sebelum cara pandangnya dirubah; termasuk cara pandang ramadhan ini.  Kalau cara pandangnya sudah benar, insya Allah akan benar sikap dan perilakunya.  Salah persepsi ini ada beberapa macam, yaitu:

a.  Rutinitas 

Banyak orang memandang bahwa ramadhan itu sebatas rutinitas saja, sama seperti ibadah yang lain.  Dalam istilah lain, ibadah itu hanya sebatas ritual saja, hanya dikerjakan tata cara fisiknya saja.    Ramadhan dipersepsikan sebagai rutinitas, secara ritual saja, dalam arti tata cara fisiknya saja.  Oleh karena itu banyak orang yang menyangka kalau sudah meraskaan lapar dan dahaga, kalau sudah bisa tidak berhubungan “suami-isteri” di siang hari sampai maghrig, merasa sudah “puasa”.  Demikian juga shalat, kalau sudah shalat, merasa sudah segalanya; tidak peduli syarat-syarat dan rukunnya sudah dipenuhi atau belum, apalagi khusyu’nya, itu urusan nomor sekian.  Yang penting “saya sudah shalat, syukur saya shalat!”.  Memangnya untuk siapa shalat itu?  Kalau diingatkan, jawabannya: “Syukur saya shalat, yang penting telah shalat”.  Padahal kita beri peringatan itu supaya shalatnya benar, dampaknya terasa.

Akibat persepsi yang salah ini, implikasi ramadhan akhirnya sebatas hanya mengerjakan puasa: menahan lapar dan haus, hasilnya nol, not more than that.  Begitu juga dengan ibadah-ibadah yang lain.  Zakat pun begitu, sekedar mengeluarkan, selesai!  Pokoknya sudah zakat, perkara zakatnya sudah dicek betul atau tidak, apakah zakat itu disalurkan dengan baik atau tidak; apakah tujuan zakat sudah dipenuhi atau belum; tidak peduli.  Pokonya sudah zakat, selesai!  Demikian halnya haji, sekedar pergi ke Mekah, memakai pakaian ihrom, melakukan nafar; selesai!  Perkara hajinya beres atau tidak, ia tidak peduli.  Yang penting saat pulang sudah bisa dipanggil “Pak Haji”.  Ibadah yang hanya ritual atau fisik semata, tidak ada maknanya.  Fisik itu hanya simbol.  Semua ibadah itu ada fisiknya, tetapi itu hanya simbol.  Memang fisik ini pun harus dikerjakan.  Di balik simbol itu seharusnya yang muncul apa?  Apa yang seharusnya timbul dari shalat yang lima waktu itu?  Akan yang akan timbul dari puasa ramadhan?  Semacam perusahaan, kalau sudah training pegawai sebulan penuh , biaya sudah keluar banyak; terus hasilnya hanya begitu-begitu saja, bagaimana? 

Kalau kita ingin ramadhan ini berhasil, harus kita ubah dulu persepsi/cara pandang kita terhadap ramadhan: ramadhan bukan hanya ibadah fisik, bukan hanya sebatas ritual belaka; harus lebih banyak ibadah non fisiknya.  Makanya kata rasulullah, “Kam min shooimin laysa lahu min shiyamihi illal juu’i wal ‘athosi (Betapa banyak orang yang puasa tidak mendapat apa-apa, kecuali lapar dan dahaga)”.  Hal ini menunjukkan bahwa lapar dan dahaga itu bukan sesuatu yang hebat.  Kalau hanya bisa menahan lapar dan dahaga saja, itu tidak hebat.  Anak-anak juga bisa.  Binatang lebih hebat lagi dalam menahan lapar dan dahaga.  Misalnya, beruang kutub utara bisa tidak makan dan tidak minum selama berbulan-bulan.  Kita berpuasa masih ada buka dan sahur; binatang bisa menahan total.  Buaya, misalnya, bisa tahan tidak makan-minum, diam, dalam waktu yang lama.  Kalau ukurannya hanya lapar dan haus, apa hebatnya kita?  Jadi, tujuan puasa bukan hanya menahan lapar dan haus.  Itu hanya sebatas simbol.  Maknanya itu yang harus kita gali, yang harus kita cari, agar kita tahu manfaat ramadhan, supaya kita betul-betul bisa menjadi orang yang shooim, bukan orang yang jawa’ (menahan lapar).

    b.  Ramadhan bertujuan lebaran

Banyak orang yang berpersepsi bahwa tujuan akhir ramadhan adalah lebaran.  Ending ramadhan ini adalah lebaran, bukan takwa.  Makanya begitu ramdhan mau berakhir, begitu lebaran sudah mulai dekat; wow sambutannya gila-gilaan, hawa lebaran sudah begitu kencangnya bertiup: mal dan pasar penuh.  Orang disibukkan dengan membeli baju baru, makanan, cat rumah baru, kursi baru (asal jangan isteri baru!).  Tujuannya bukan la’allakum tattaquun, tetapi la’allakum lebaran.  Ramadhan mau berakhir, lebaran makin dekat; masjid malah kosong, terminal penuh.  Seharunya terbalik, ramdhan mau berakhit, seharusnya merenung: apakah ramadhan ini berhasil?  Apakah nanti bertemu lagi dengan ramadhan?  Ini tidak, grafiknya makin turun.  Sepuluh hari terakhir, mestinya grafik untuk ibadah naik, jangan tinggalkan masjid, karena itu puncaknya.  Di situ Allah menurunkan lailatul qadr.  Kalau kita tidak demikian.  Kalau untuk dunia, kita ingin mendapatkan yang besar, sedangkan untuk akhirat yang cemen-cemen saja.  Kita bikin kue, misalnya, bukankan itu juga ibadah? Kilahnya.  Betul! Tetapi yang demikian itu cemen, recehan.  Mudik itu kan silaturahmi?  Betul!  Setelahnya juga bisa.  Di bulan ramadhan, yang demikian itu adalah cemen, receh.  Bahkan, maaf, hubungan suami isteri itu memang ibadah, tetapi di bulan ramadhan itu cemen.  Fokuskan di bulan ramadhan untuk hal-hal yang besar, seperti lailatul qadr.  Allah berfirman:

maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Al Baqarah : 187) 

Sayang, kalau malam lailatul qadr, malaikat sedang bagi-bagi bonus, ini kita cari yang cemen-cemen.  Memang pada waktu di luar ramadhan, itu ibadah; tetapi saat i’tiqaf di masjid, tinggalkan yang demikian itu; walaupun itu boleh, tidak dilarang, tetapi sayang.  Dikatakan bahwa pada malam lailatul qadr itu malaikat turun memenuhi langit dan bumi untuk membagikan pahala bagi orang yang sedang ibadah.  Kalau saat itu kita sedang ngorok, ya tidak kebagian pahala.  Kalau kita niatnya i’tiqaf, tidurnya juga dinilai i’tiqaf; tetapi ya jangan tidur terus.  Malaikat juga tahu, “Wah, orang ini tidur melulu …”, tidak jadi dibagikan pahala.  Jadi, itulah kebanyakan pemahaman ramadhan, bukan bertujuan la’allakum tattaquun, tetapi la’allakum lebaran.  Maka sampai ada keterangan (ada yang menyatakan ini hadis, tetapi ada pula yang menyatakan ini bukan hadis) : “Laisal ‘iid liman libasul jadiid walakinnal ‘iid liman tho’atul jadiid (Bukanlah yang namanya idul fitri itu orang yang memakai baju baru, tetapi yang namanya idul fitri itu adalah orang yang ketakwaannya bertambah”.  Orang yang ketakwaannya tidak bertambah bahkan menurun, tidak pantas menyatakan “minal ‘aaidin wal faaizin”.  Mungkin lebih tepat minal mudik ilal lebaran.  Persepsi yang seperti ini yang mesti kita perbaiki.  Persepsi seperti ini adalah persepsi anak-anak terhadap ramadhan.

 c.  Makna ramadhan diambil secara parsial

Ramadhan sering diambil secara parsial.  Padahal ramadhan itu adalah paket satu bulan (30 hari atau 29 hari).  Satu paket, tidak bisa kita ambil depannya saja, tengahnya   saja atau ujungnya saja.  Kalau kebanyakan kita ambil paket hemat, pahe, depannya saja.  Makanya tidak mengherankan kalau masjid itu di hari pertama atau minggu pertama penuh.  Karena ambil paket hemat.  Ramadhan itu paket 30 hari, artinya dikatakan sukses kalau selama 30 hari itu kita kerjakan semuanya, lengkap; tidak ada celah.  Bahkan yang paling menentukan itu di ujungnya.  Ujung itu menjadi penentu keberhasilan.  Seperti, betapa pun penderitaannya di waktu kecil, tetapi kalau ujungnya senang, hidupnya akan senang.  Betapa pun enaknya, tetapi kalau endingnya tidak bagus, ya gagal.  Lebih baik menjadi bekas preman dari pada bekas ustadz, tetapi bukan bekas preman lalu menjadi garong; itu “peningkatan” namanya. 

Jadi, ramadhan itu tidak bisa diambil sebagian, ditinggal sebagian.  Dalam Al Qur’an disebutkan:

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah : 185) 

Sempurnakan semuanya.lengkapkan semuanya, jangan sebagian-sebagian.  Kalau kita kan tidak demikian, yang terakhir-terakhir/ujungnya malah ditinggalkan.  Bahkan dalam Al Qur’an disebutkan:

dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. (Adh Dhuhaa : 4) 

Kalau kita, makin terakhir, makin gagal.  Lihat diri kita, apakah dalam 10 hari terakhir ibadah kita makin meningkat atau malah menurun?  Kalau meningkat, berarti husnul khotimah, tetapi kalau menurun berarti su’sul khotimah.

 d.  Ramadhan adalah bulan tanpa maksiyat

Ini persepsi yang banyak dianut orang.  Apakah ada yang salah dalam kalimat tersebut?  Kalimat itu tidak ada yang salah, tetapi belum cukup.  Bukan ramadhan saja yng bulan tanpa maksiyat, bulan lain pun bulan tanpa maksiyat.  Kalau kita kan tidak.  Kalau ramdhan tidak ada maksiyat, begitu di luar ramadhan, kambuh lagi maksiatnya.  Dengan kata lain, seolah-olah menjaga hawa nafsu itu hanya dilakukan pada waktu pagi sampai maghrib; setelah itu boleh.  Sesudah maghrib boleh mencaci maki.  Kalau diajak ngomongin orang di waktu siang/sore, “Maaf, saya sedang puasa, nanti malam saja ya kita ngerumpinya”.  Ini persepsi yang salah, seolah-olah yang tidak boleh itu hanya di waktu pagi sampai sore atau yang tidak boleh itu hanya di bulan ramadhan saja.  Kalau di bulan ramadhan ada orang yang mau menyuap, “Maaf, ini bulan ramadhan”.  Tetapi di luar itu?  Bulan ramadhan: maksiyat no, ibadah yes!  Itu tidak salah, tetapi kurang lengkap; sebab berarti kalau tidak ramadhan boleh maksiyat; bisa dipersepsikan lain.  Dan ternyata faktanya seperti itu.  Ini persepsi yang mesti diluruskan.  Kalau persepsi ini masih ada pada kaum muslimin, maka apa yang dijadikan tujuan ramadhan, tidak akan tercapai.  Jadi, bulan menjaga mulut itu bukan hanya bulan ramadhan, bukan hanya di siang hari saja pada bulan ramadhan.

 e.  Ramadhan itu identik dengan lemas, loyo

Ini yang sering nampak pada kaum muslimin, kalau ramadhan terlihat lemas, loyo, letoy.  Sering didengungkan “Tidur di bulan ramadhan adalah ibadah”.  Hadis ini tidak ada yang salah, tetapi masalahnya apakah hanya tidur saja di bulan ramadhan itu?  Apa saja bisa menjadi ibadah, termasuk tidur.  Tetapi kalau tidur melulu, apa arti ibadahnya?  Dari pagi sampai sore tidur terus, kecuali saat shalat dan makan.  Apakah begitu?  Kalau untuk anak-anak, ya sekolahnya libur.  Itu untuk anak-anak.  Tetapi tidak ada libur kerja di bulan puasa itu, kecuali dalam 10 hari terakhir.  Di bulan ramadhan bukan berarti aktivitas yang lain menjadi berhenti, bukan berarti tidak boleh main bulutangkis lagi, silahkan!  Tetapi harus tahu waktu, itu cemen juga.  Jangan sampai gara-gara bulu tangkis, shubuh lewat, ngaji lewat.  Ini persepsi yang salah.

Ramadhan adalah bulan berjuang, bulan jihad.  Bahkan nabi menganjurkan agar kita jangan terlihat kalau sedang berpuasa, kalau perlu berminyak supaya terlihat segar.  Kalau kita, terbalik.  Kita menampakkan puasa: loyo, lemas.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa itu tidak menambah capek.  Hanya saja kalau bekerja jangan banyak yang membuang keringat, karena bisa terjadi dehidrasi.  Ibu-ibu menyusui juga keluar air, sehingga boleh tidak berpuasa.

 2.  Salah Tata laksana

Tata laksana itu sangat berkaitan dengan persepsi/paradigma.  Sehingga kalau persepsinya salah, tata laksananya juga cenderung salah.  Beberapa hal yang berkaitan dengan salah dalam tata laksana ramadhan adalah sebagai berikut:

 a.  Jarang punya program

Dalam bulan ramadhan jarang ada program atau jarang ada pekerjaan yang terporgram.  Ibadah itu ada programnya.  Gunanya punya program/skedul adalah supaya pekerjaan itu menjadi terarah dan berhasil.  Pada umumnya ramadhan itu tidak terprogram, asal-asalan seperti air mengalir saja.  Air mengalir itu kalau kita ikuti ujungnya adalah comberan: bangkai ada di situ, sampah ada di situ.  Tetapi ikuti, cari sumber air itu.  Ini perjalanan mendaki.  Ini penuh tantangan.  Mudah-mudahan masjid ini punya program yang bagus.  Kebanyakan hanya rutinitas: tarawih dan ceramah, tidak ada bagaimana program meningkatkan kebersamaan, kejamaahan; bukan hanya yang rutin.  Susun program agar jamaah tetap banyak.  Hidup tanpa program, tidak akan terarah.

 b.  Tidak ada target

Berkaitan dengan tidak ada program, ramadhan ini umumnya tidak ada target.  Kalau perusahaan pasti punya target.  Untuk apa gunanya target?  Supaya kita bisa mengukur diri apakah berhasil atau tidak.  Kalau tidak ada target, tidak bisa mengevaluasi keberhasilan.  Apa target kaum muslimin dalam bulan ramadhan?  Tahun ini, misalnya, saya bisa baca Qur’an dengan baik, tahun depan bisa menerjemahkan karena sudah belajar buroq; tahun depannya sudah bisa tata bahasanya, tahun depannya lagi tafsir, dst.  Berapa amal tahun depan?  Demikian juga ibadah-ibadah yang lain.  Coba kalau ada program menghafal ql qur’an, kalau sudah hafal, shalat berjamaah menjadi enak.  Ini yang dibaca Qulhu melulu, setiap shalat yang dibaca qulhu.

Kalau orang hidupnya tidak punya target, apalagi untuk urusan akhirat, tidak akan ada kemajuan-kemajuan.  Kita terbalik, kalau untuk dunia ada target: setahun bekerja beli motor, tahun berikutnya rumah, mobil, dst.  Kita punya target kalau urusan dunia.  Itu yang membuat dunianya ada kemajuan.  Tetapi mengapa itu tidak kita lakukan untuk akhirat juga?  Apa target kita untuk akhirat?  Target tahun depan baca Qur’an 30 juz selesai, tahun berikutnya berikut terjemahannya, hafal 5 surat, dst.  Sekarang sedekahnya berapa?  Tahun depan berapa?  Kalau pasang target, insya Allah, sedekahnya naik.  Kalau tidak punya target, akhirnya seperti air mengalir, menurun.

 c.  Kurang istiqomah/konsisten

Kaum muslimin itu banyak yang kurang istiqomah dalam amal.  Karena tidak ada target, akan muncul ketidak-istiqomahan.  Begitu hari pertama ramadhan, semangatnya jor-joran.  Shalat semangat, baca amin-nya paling kencang.  Hari kedua, masuk ke shaf belakang, mulai agak kendor baca amin-nya.  Hari ketiga ke belakang lagi.  Hari keempat: hilang!  Ramadhan itu 30 hari, jangan hari pertama semangatnya langsung dihabiskan.  Nabi menyatakan bahwa sebaik-baik amal itu biar sedikit tetapi terus menerus.  Sedikit-sedikit tetapi terus, itu baik.  Lebih hebat lagi kalau banyak dan terus menerus.

Di bulan ramadhan banyak yang kurang konsisten, apalagi di luar ramadhan.  Makanya tidak sedikit orang begitu ramadhan selesai, semua amalan selesai juga.  Di bulan ramadhan saja sudah nampak pengurangannya, apalagi di luar ramadhan.  Lihat nanti shubuh di hari pertama takbiran/lebaran.  Itu baru satu hari setelah ramadhan.  Ya, kan mudik! Kilahnya.  Kita itu sering menjustifikasi diri sendiri, “Yah, sudah puasa ini, tahun depan sajalah!”.  Beramal itu tidak pernah berhenti.  Makanya setelah ramadhan selesai, banyak yang shalat malamnya lewat, amalan-amalannya juga lewat.  Jangankan di luar ramadhan, di bulan ramadhan saja tidak ada konsistensinya.  Kita dengan “puasa” ini merasa sudah “puas”.  Ibarat anak sekolah, ketika besoknya pulang sekolah, lalau besoknya tidak sekolah, dan ketika ditanya “Kenapa tidak sekolah?”; dijawab, “Kan kemarin sudah sekolah!”.  Kan tidak begitu mestinya.  Demikian juga dalam beribadah, bukan berarti kalau sudah beribadah, selesai!  Allah berfirman:Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al Baqarah : 195) Ayat ini asbabun nuzulnya adalah ketika sahabat setelah manang perang, Mekah sudak takluk, islam sudah jaya; sahabat datang kepada rasulullah, “Ya rasulullah, kita kan sekarang sudah menang, musuh sudah kita taklukkan.  Selama ini kami sudah berinfak banyak untuk perang.  Bagaimana sekarang kalau kami tidak infak lagi?”.  Turunlah ayat ini.  “Tetap kalian berinfak di jalan allah.  Karena kalau berhenti berinfak sama dengan memasukkan tangan kalian ke dalam kehancuran”.  Kalau berhenti beramal, akan menghancurkan.  Demikian pula di bulan ramadhan: rajin mengaji.  Lalu selesai ramdhan tidak mengaji lagi.  Ini juga menghancurkan.  Makanya perlu konsistensi/istiqomah, supaya amal itu tidak hancur.  Kenapa Allah menyuruh kita beramal selama sebulan penuh?  Karena sebulan itu cukup untuk menjadikan kebiasaan, sehingga setelah ramadhan menjadi terbiasa.  Konsisten dalam shalat berjamaah, minimal shalat shubuh berjamaah.  Ngaji pun demikian, harus konsisten.  Jangan mentang-mentang, “Ah sudah bukan ramadhan!”.  Kita punya 12 bulan, yang sebulannya inti, yang lain tekor.  Jangan berhenti, teruskan. 

d.  Kurang banyak merenung Kita kurang banyak merenung dalam setiap amalan, kurang banyak menggali ibadah-ibadah yang bersifat fisik itu non fisiknya apa.  Gunanya ada itiqaf itu intinya agar banyak merenung.  Selama ini kita mungkin terlalu sibuk dengan dunia, sehingga tidak sempat merenung; yang banyak adalah melamun.   Itiqaf itu ibarat kita lari menuju garis, kita perlu istirahat sebentar untuk mengevaluasi, mengatur strategi, dsb.  Jangan diforsir terus, nanti bisa tumbang di tengah jalan.  Untuk ramadhan terutama dalam 10 hari terakhir.  Kalau tidak dapat 10 hari, gunakan Sabtu-Minggu atau malamnya saja.  Kalau tidak bisa borongan dalam itiqaf, ketengan pun jadi.  Tentu saja berbeda antara borongan dan ketengan, tetapi tidak mengapa; minimal ada.  “Ustadz, saya bisanya dari jam 00.00 sampai jam 03.00!”.  Tidak apa-apa, asal jangan begitu masuk masjid langsung tidur.  Lho katanya tidurnya orang itiqaf itu ibadah juga?”.  Betul, tetapi itu buat orang yang itiqafnya 24 jam.  Kalau hanya 3 jam lalu tidur, kapa itiqafnya?   Merenung itu bagus.  Dengan merenung itu akan muncul apa gunanya program, target dan istiqomah; bisa mengevaluasi diri, intrispeksi, sehingga begitu keluar ramadhan, muncul semangat baru.  Akhirnya terjadi peningkatan dalam bidang akhirat.  

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: