• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

9 Oktober

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 9 OKTOBER 2005

  MANFAAT BULAN RAMADHAN 

Oleh : Ustadz Sambo

Pada waktu yang lalu kita telah membahas tentang salah satu manfaat bagi kaum muslimin, bagi orang-orang yang beriman, yang berpuasa; tentu saja kalau puasanya dilandasi atas keimanan, keikhlasan, sesuai dengan tuntunan rasulullah SAW, maka akan mendapat berbagai manfaatnya. 

Pertama, berkaitan dengan kesehatan: sehat spiritual yang ditandai dengan kita merasa nikmat beribadah, Tuhan terasa lebih dekat.  Kalau perasaan ini muncul, Tuhan terasa memperhatikan kita.  Ini yang dilatih di bulan ramadhan.  Keyakinan betapa Allah itu sangat dekat dengan kita.  Tidak ada orang yang berpuasa itu berani berbuat curang.  Kalau kita tanya mengapa tidak berani berbuat curang, jawabnya, “Tuhan tahu”.  Tetapi sayangnya begitu selesai ramadhan, itu dilupakan.  Apakah Tuhan hanya ada di bulan ramadhan saja?  Jadi, merasa diawasi oleh Allah itu meruapakan salah satu kesehatan spiritual.

Yang kedua, puasa itu akan membuat kita sehat secara mental.  Artinya, orang yang berpuasa itu akan tahan dalam berbagai macam kondisi.  Betapa pun paarnya dia, tetap tahan.  Betpa pun tidak enaknya dalam berpuasa: menahan hawa nafsu, menahan berbagai macam godaan; itu sangat tidak enak, tetapi ia tahan, stabil.  Sehingga ini akan bermanfaat dalam kehidupan kita di luar bulan ramadhan.  Betapa pun kondisi tidak enak, tetap stabil.  Ini dilatih di bulan ramadhan.  Sehingga kalau ada orang yang berpuasa lalu stress, deperesi, berbagai permasalahan kejiwaan; itu menunjukkan bahwa puasanya belum sukses, perlu diperbaiki. 

Yang ketiga adalah kesehatan secara emosional.  Orang yang berpuasa itu akan terlatih emosinya, lebih stabil, tidak membuat cepat marah, termasuk juga tidak membuat cepat senang.  Emosi itu bukan masalah marah saja, tetapi termasuk juga urusan senang.  Kecintaan yang berlebihan itu juga termasuk bagian dari emosional.  Betapa pun kita sangat cinta kepada isteri, tidak boleh kita “nyelonong” di bulan ramadhan, ia tahan, meskipun itu halal.  Pertanyaan kita adalah: yang halal saja kita tahan untuk tidak melakukannya, apalagi isteri orang.  Jadi, emosional itu bukan hanya urusan marah saja, tetapi: marah, benci, suka, sedih, dendam, dsb.  Itu bagian dari emosi dan dilatih di bulan ramadhan ini, agar emosi kita lebih terkendali.  Betapa pun marah kita, tetapi tetap bisa mengendalikan diri.  Maka dalam ramadhan ini kalau kita diajak gelut, katakan tiga kali, “Inni shooimun”.  Hanya saja kita masih bingung juga terhaddap hadis ini, apakah batasnya 3 kali itu artinyanyang keempatnya boleh berantem?  Ada yang menyatakan bahwa tiga kali itu artinya banyak.  Termasuk juga dalam kondisi seperti saat ini, BBM naik, macet; ini membuat emosi kita cepat naik.  Pemerintah menaikkan harga BBM tahu betul mementumnya, menjelang puasa; karena kalau puasa tidak boleh cepat marah. 

Sehat emosional ini sangat penting dalam kehidupan kita.  Dalam pergaulan antar manusia, emosi itu pasti terlibat: apakah emosi bencikah, atau emosi senangkah?  Kadang-kadang kita senang kepada seseorang bisa membuat gelap mata.  Terlalu sayang kepada anak bisa membuat kita gelap mata, akhirnya apa pun yang diperbuat anak dibiarkan, hal-hal yang tidak baik bagi dia kita biarkan.  Terlalu cinta kepada isteri, apapun permintaannya dipenuhi, juga bisa membuat gelap mata.  Termasuk juga terhadap makanan juga demikian.  Memang di waktu pagi sampai sore, emosi kita bisa dikendalikan.  Tetapi begitu sore tiba, buka puasa, lepas kontrol.  Sebenarnya yang namanya buka puasa itu bukan sekedar diperbolehkan makan minum, tetapi emosi tetap terkendali.  Jangan mentang-mentang boleh makan, semua diembat.  Artinya, tidak boleh marah itu bukan hanya di waktu puasa saja, tetapi juga pada waktu tidak puasa.  Jangan, “Awas ya, nanti kalau saya sudah buka puasa …. “.  Jadi, sama saja, puasa atau sudah buka, harus bisa menahan marah.

Yang keempat adalah sehat secara intelektual.  Orang itu pada hakekatnya kalau perutnya kosong, dalam pandangan Islam, otak itu cemerlang.  Kalau kenyang malah kurang cemerlang, karena semua tenaga, energi hanya diturunkan ke perut.  Makanya kalau orang kenyang itu bawaannya ngantuk, ingin tidur; karena semua energi terkumpul di perut untuk mengolah makanan.  Akhirnya energi untuk yang lain-lain berkurang.   Coba saja, kalau orang kekenyangan, inginnya tidur; malas bawaannya.  Saynganya, ramadhan yang begini bagusnya, banyak orang Islam yang bodoh.  Seharusnya kan pintar-pintar.  Itulah faktanya, tidak sama dengan apa yang diharapkan.  Nabi menyatakan, “Al ilmu nuurun”, ilmu itu cahaya.  Cahaya itu tidak masuk ke hati yang banyak dosanya.  Ramadhan ini kita banyak menyucikan diri, istighfar, mohon ampun sehingga hati kita menjadi bersih dan akhirnya memudahkan cahaya Allah itu masuk.  Dalam pandangan Islam, pintar itu bukan hanya sekedar uruusan IQ, tetapi tahu mana yang benar dan mana yang salah, serta konsisten terhadap kebenaran itu.  Kalau sekedar tahu saja, belum dikatakan pintar.  Makanya kalau mencuri itu jelas dilarang, tetapi dilakukan juga; maka orang itu bodoh namanya.  Sudah jelas korupsi, misalnya, itu dilarang agama, tetapi kenapa dilakukan?  Itu menunjukkan bahwa orang itu bodoh.  Makanya dalam Islam, orang bodoh itu identik dengan kemaksiatan.  Abu Jahal itu begitu Islam datang, ia tidak memeluk Islam, padahal sebelumnya bergelar “Profesor Hukum (Abu Ahkam).  Ia jadi Abu Jahal, artinya “Bapakanya Kebodohan”.  Jadi, yang namanya pintar itu bukan sekedar IQ, bukan urusan ia punya titel doktor atau lainnya.  Buka  itu.  Tetapi yang namanya pintar itu tahu mana yang benar dan salah dan konsisten terhadap kebenaran itu.  Makanya kata rasulullah, “Semua orang berakal itu masuk surga”.  Orang yang di neraka itu adalah orang yang tidak berakal.  Allah berfirman dalam surat Al A’raaf (7) : 179:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Ayat tersebut menyatakan bahwa penghuni neraka itu seperti binatang, karena akalnya tidak dipakai.  Dalam Islam, orang berakal itu pasti beriman.  Makanya iman dan ilmu itu tidak bisa dipisah: orang berilmu itu beriman dan orang beriman itu berilmu.  Oleh karena itu yang namnya pintar, pandai, cerdas, itu adalah orang yang menetahui mana yang benar dan konsisten dengan kebenaran itu.  Ini dilatih di bulan ramadhan.

Yang kelima adalah sehat secara fisik.  Orang yang berpuasa itu fisiknya sehat.  Ini diakui di dunia kedokteran.  Makanya kalau mau check up, ia harus berpuasa dulu.  Mau olah raga, misalnya, harus puasa dulu; kalau makan dulu, maka akan megap (sakit).

Kini kita akan membahas manfaat berikutnya, yaitu yang keenam, yaitu sehat secara sosial.  Kenapa ramadhan itu sehat sosial?  Kenapa orang yang puasa itu peka terhadap keadaan sosial masyarakat?  Kita lapar, kita merasakan betul betapa tidak enaknya lapar.  Puasa itu sebenarnya bukan sekedar tidak enak karena lapar.  Kalau itu saja yang dirasakan, berarti puasanya belum berhasil, belum sampai pada tujuan ramadhan.  Tujuannya apa?  Kalau kita tahu betapa tidak enaknya lapar, berarti kita tergerak untuk membantu orang untuk meringankan dari kelaparan, agar orang tidak lapar.  Makanya sedekah dalam bulan ramdhan itu adalah intinya, untuk membangun kepekaan.  Kalau ada orang berpuasa bakhil, itu sama dengan “Ikan sembung bawa pisau, nggak nyambunglah yau”.  Orang seperti ini puasanya tidak benar.  Padahal inti puasa itu agar kita peka, membangun kepekaan.  Makanya sedekah di bulan ramadhan rasulullah itu seperti angin. 

Membangun kepekaan itu tidak hanya masalah sedekah, tetapi juga bagaimana kalau kita sebagai pejabat, misalnya, kalau membuat SK itu adalah SK yang memperhatikan orang-orang yang menderita.  Kini bisa kita lihat, apakah pemimpin/pejabat kita kalau membuat SK memperhatikan orang-orang yang menderita?  Sebab, betapa tidak enaknya orang menderita itu.  Kalau pejabat naik mobil, misalnya, ia ttidak pernah kena macet, karena pakai “tuing … tuing … tuing”.  Coba kalau pejabat itu ke mana-mana naik angkot?  Saya yakin di Indonesia tidak akan ada kemacetan.  Jadi, cara mengatasi kemacetan itu gampang: semua pejabat disuruh naik angkot.  Ia kalau akan membuat SK pasti yang tidak membuat jalanan macet.  Makanya pada jaman rasulullah dan sahabat itu pemimpin bergaul dengan rakyat biasa, supaya merasakan betapa susahnya kalau menjadi orang biasa.  Sehingga ketika membuat aturan, berpihak pada rakyat biasa.  Akhirnya para pejabatnya berpikir bagaimana menyelesaikan masalah ini.

Jadi, membangun kepekaan itu bukan sekedar sedekah saja, tetapi bagaimana kita memperhatikan orang-orang yang dalam penderitaan.  Makanya kalau ada orang berpuasa tetapi masih bakhil, tidak peka terhadap keadaan sosial masyarakat sekitar, maka puasanya itu tidak benar.  Pejabat pada jaman rasulullah/sahabat itu makin tinggi jabatannya, makin sedikit fasilitasnya.  Umar bin Khatab, misalnya, pernah diprotes dipertanyakan dari mana baju yang dipakainya.  Ketika ia akan naik mimbar, salah seorang bertanya, “Amirul mukminin, interupsi, sebelum kau naik mimbar, kau jelaskan kepadaku, sebelum aku mendengarkan khutbahmu.  Perasaanku, sewaktu kita mendapatkan pembagian ghonimah, kita mendapatkan kain dengan lebar yang sama.  Badanmu besar, bagaimana kau mendapatkan baju besar seperti itu?”.  Ini masalah kelebihan kain saja diprotes.  Umar bilang, “Hai Abdullah, terangkan masalah ini kepadanya!”.  Abdullah adalah anak Umar bin Khatab, menjawab, “Sesungguhnya jatah ghonimah untukku, kukasihkan Bapakku agar cukup untuk membuat bajunya”.  Kalau sekarang?  Jangankan kelebihan baju selembar, ini ya mobil, rumah, dsb; malah diambil dengan sengaja.  Makanya kalau kita baca sirah para pemimpin dahulu, kita bisa menangis.  Itulah model pemimpin yang sebenarnya, seperti hayalan untuk saat ini.  Demikian pula kalau kita baca kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, bisa menangis kita.  Ia itu kaya sekali, minyak wanginya saja bisa tercium dari jarak yang jauh, ketika sebelum menjadi khalifah.  Ditanya oleh rakyatnya, “Umar, kenapa bajumu bagus sekali?”.  Ia jawab, “Yang aku sedekahkan lebih besar dari pada yang kupakai”.  Itu prinsip dia ketika sebelum menjadi khalifah.  Setelah menjadi khalifah, prinsipnya berubah, “Aku hanya mengambil apa yang aku butuhkan”.  Semua fasilitas dan kekayaannya diberikan ke baitulmal.  Umar bin Abdul Aziz itu bukan keturunan langsung dari raja/khalifah, ia menantu.  Karena tidak ada yang lebih senior, ia yang diangkat menjadi khalifah.  Sebenarnya jalur yang sebenarnya adalah isterinya.  Rumahnya sangat sederhana, uratnya menonjol-nonjol, mukanya terlihat sangat tua; baru enak-enak tidur, datang anaknya, “Pak, bangun!  Bapak enak-enak menjadi khlaifah tidur, lihat rakyatmu menderita”.  Ia bangun, kembali mengurus rakyatnya.  Setiap malam sering menangis.  Ketika ditanya mengapa menangis, ia jawab, “Aku takut ketika dihisab nanti, aku tidak dapat mempertanggungjawabkan kepemimpinanku.  Bagaimana aku bisa enak-enak, sementara rakyatku menderita?  Ia akan menuntut aku kelak di hari hisab”.  Bagaimana dengan pemimpin sekarang?  Camat?  Lurah?  RW?  Hati-hati lho yang menjadi pejabat!

Hadirin, sekalian, ramadhan itu pada intinya adalah membangun kepekaan.  Kalau semua orang peka, tidak ada orang miskin.  Makanya di jaman Umar bin Abdul Aziz, tidak ada orang yang mau menerima zakat di seluruh jazirah kekuasaannya dalam waktu 30 bulan kepemimpinannya.  Berarti tidak ada orang miskin.  Coba kalau di negeri kita ini ada orang seperti itu!  Ketika di jaman sahabat, untuk menjadi pemimpin itu dorong-dorongan, tidak ada yang mencalonkan diri.  Mengapa?  Mereka takut, pemimpin itu tanggung jawabnya besar, fasilitasnya minim.  Coba lihat pemimpin sekarang.  Kalau diberi fasilitas seperti di jaman sahabat, tidak ada yang mau menjadi pemimpin.  Hanya orang-orang pilihan yang mau.  Mengapa sekarang orang berebut menjadi walikota, gubernur, menteri?  Karena ada fasilitas yang menggiurkan. 

Pemimpin itu diibaratkan dalam tubuh kita, makin ke atas, makin sedikit fasilitasnya.    Tubuh kita yang paling mahal fasilitasnya apa?  Kaki: sepatu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: