• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

2 Juli

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 2 Juli 2006


PENDALAMAN SHALAT SEBAGAI ALAT KALIBRASI

Oleh : Ustadz Sambo

clip_image001

Salah satu manfaat besar shalat adalah bahwa shalat itu merupakan alat pemelihara, perbaikan, penyembuh, penguat, dan penyuci jasmani dan ruhani. Kalau jasmani dan ruhani kita sehat, perlu dipelihara agar tetap sehat. Kalau dalam keadaan baik, dipelihara kebaikan itu. Tetapi kalau jasmani dan ruhani kita rusak, maka shalat itu berfungsi sebagai alat untuk memperbaikinya. Kalau jasmani dan ruhani sakit, maka shalat itu sebagai penyembuhnya. Kalau jasmani dan ruhani lemah, maka shalat itu sebagai penguatnya. Demikian juga kalau jasmani dan ruhani kotor, maka shalat adalah alat pembersihnya. Oleh karena itu kajian kita ini adalah tentang manajemen shalat menuju khusyu’ dan nikmat untuk membangkitkan kesehatan dan kekuatan diri. Yang dipelihara, diperbaiki, dikuatkan, disembuhkan, dan disucikan ada 5 (lima) komponen, yaitu: Spiritual, (2) intelektual, (3) emosional, (4) fisik, dan (5) sosial. Manusia itu adalah makhluk dengan 5 komponen tersebut.

1. Spiritual

Shalat adalah alat untuk memelihara, memperbaiki, menyembuhkan, sebagai penguat dan penyuci spiritual seseorang. Bagaimana caranya shalat bisa memperbaiki spiritual? Ada beberapa penyimpangan spiritual, sehingga spiritual itu perlu diperbaiki. Pertanyaannya adalah pada bagian shalat yang mana yang bisa memperbaiki penyimpangan-penyimpangan itu, maka itulah yang akan kita kaji. Penyimpangan/penyakit/gangguan spiritual itu adalah:

a. Melakukan dosa besar

Kalau ada orang melakukan dosa besar, maka pada diri orang itu terjadi penyimpangan spiritual. Karena, orang yang spiritualnya lurus, tidak mungkin melakukan penyimpangan seperti ini. Dosa ini pun bisa kita bagi lagi menjadi: besar-sedang, besar-besar, dan sangat besar. Dosa besar-sedang itu adalah dosa-dosa yang tidak ada hukum ta’dzir-nya, tidak ada hukuman fisiknya. Contohnya adalah menceritakan aib seseorang. Ini dosa besar-sedang, tidak dihukum ta’dzir (hukuman fisik). Contoh yang lain adalah makan babi, darah, bangkai. Kalau judi dan minum khamr itu ada ta’dzirnya, dengan hukuman cambuk (40 kali cambuk). Ini termasuk dosa besar-besar. Termasuk dosa besar-besar yang lain adalah mencuri, berzina, membunuh, durhaka, lari dari medan perang (khianat/desersi). Dosa yang sangat besar adalah dosa yang menjerumuskan kepada kekafiran dan kemusyrikan: syirik, sihir, percaya kepada dukun, kafir. Kafir pun ada jenjangnya. Ada orang yang kafir, tetapi belum keluar dari Islam, seperti meninggalkan kewajiban, menolak hukum-hukum Islam. Di sini pelakunya sebelum dihukum mati, disuruh taubat lebih dulu. Orang yang tidak shalat, misalnya, sebelum dihukum disuruh taubat dulu. Kalau ia bertaubat, tidak dihukum. Tetapi kalau sudah keluar dari Islam, tidak bertaubat, langsung dibunuh. Semuanya itu bisa diperbaiki dengan shalat. Kita lihat pada surat At Taubah : 11:

clip_image002

Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.

Para pelaku dosa yang paling besar itu baru diampuni kalau ia taubat dan melaksanakan shalat. Dalam surat Al ‘Ankabuut : 45: disebutkan;

clip_image003

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Jadi, obatnya adalah shalat. Bab mananya yang menjadi obat, ini yang harus kita kaji. Secara umum dikatakan bahwa obatnya adalah shalat. Intinya bahwa shalat itu dapat mengobati penyakit yang senang membuat kemaksiatan dan kemunkaran. Dalam ayat tersebut dikatakan (diterjemahkan) “mencegah”, artinya adalah mengobati. Kalau shalatnya dilakukan dengan benar, pelan-pelan penyakit itu akan sembuh.

b. Hambar/gersang dalam ibadah

Kalau kita merasa hambar dalam ibadah, kering dalam ibadah; itu merupakan salah satu ciri rusaknya/penyimpangan spiritual kita. Ibadah di sini adalah ibadah dalam arti luas: shalat, puasa, haji, dsb. Kita mengerjakannya, tetapi asal saja, hanya sekedar menunaikan kewajiban saja. Hambar. Kalau hambar lalu sampai meninggalkan kewajiban, berarti penyimpangannya sudah parah. Ada orang yang hambar ibadahnya, tetapi ia tetap mengerjakannya. Ada lagi orang yang hambar dalam ibadahnya, kadang-kadang saja mengerjakannya, belang-bentong. Kalau lagi mood, shalat; kalau sedang tidak mood, tidak shalat. Puasa juga demikian. Zakat juga begitu, kalau lagi mood bayar zakat, kalau tidak, ngemplang. Yang seperti ini adalah bagian dari kegersangan ibadah. Kalau masih gersang saja, tetapi masih mengerjakannya, itu penyimpangan yang relatif kecil. Tetapi kalau sudah meninggalkan, itu penyimpangan besar. Mari kita lihat surat Az Zukhruf : 36:

clip_image004

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Yang dimaksud dzikri, “mengingat” di sini dalam konteks shalat adalah ia shalat, tetapi tidak ingat Allah. Ia ibadah, tetapi dalam ibadah itu ia tidak ingat Allah. Kering ibadahnya. Ketika ia berpaling, syaitan yang masuk. Orang yang tidak khusyu’ itu kawannya syaitan. Kalau tidak ingat Allah, syaitan bermain, maka akan hambar ibadah itu. Ia merasa masih beribadah, merasa masih OK, padahal sebenarnya ibadahnya telah rusak.

c. Kurang yakin/percaya kepada Allah

Allah terasa jauh. Yang seperti ini bisa saja bertingkat. Kalau rajin mengerjakan maksiat, maka ibadah akan terasa hambar, terus berujung pada kurang percayanya kepada Allah, Allah terasa jauh. Makanya ada lagu yang liriknya, “Aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat, Engkau dekat. …..” Kalau kurang yakinnya sedikit, penyimpangannya juga sedikit. Tetapi kalau kurang yakinnya sudah sampai melewati batas toleransi, sampai putus asa; berarti itu sudah kacau. Akhirnya anak dibunuh, misalnya. Yang seperti ini adalah akibat putus asa, karena khawatir terhadap masa depan anaknya. Takut rejeki, takut ini-itu. Ini termasuk kurang percaya kepada Allah. Kalau sudah putus asa, maka itu termasuk golongan kafir. Allah berfirman di dalam surat Yusuf : 87:

clip_image005

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Ada seorang wanita berjilbab melompat dari jembatan bersama dua orang anaknya karena putus asa. Demikian pula ada yang tega membunuh anaknya karena khawatir terhadap masa depan anaknya. Orang yang seperti ini hukumannya adalah hukuman mati. Karena, kalau ia masih hidup, akan tersiksa juga, tidak bisa menghapuskan ingatannya. Kenapa harus dilakukan hukuman mati? Secara psikologis ada dua alasan, yaitu pertama, ada kecenderungan ia akan lebih mudah membunuh lagi, dan yang kedua, ia akan dihantui oleh rasa bersalah. Membuat ia akan tersiksa seumur-umur. Oleh karena itu orang yang membunuh itu dibunuh. Walaupun ada dalil yang menyatakan bahwa membunuh anak itu tidak termasuk qishash. Tetapi kalau sudah membunuh sampai 3 orang anak? Lebih baik ia dihukum mati saja, karena kalau hidup akan terngiang-ngiang anaknya. Sebelumnya disuruh taubat lebih dulu.

Ketidakyakinan kepada Allah bisa saja sampai titik nadir, yaitu putus asa. Kalau sudah begitu, maka itu sudah termasuk golongan kafir. Karena tidak ada yang putus asa atas rahmat Allah, kecuali orang kafir. Hanya orang kafir yang putus asa itu.

d. Cinta dunia

Orang seperti ini menomorsatukan dunia, menomorsatukan/memperturutkan hawa nafsu. Kalau tingkatnya sudah sampai kepada mempertuhankan hawa nafsu, berarti penyimpangannya sudah fatal tetapi kalau sekedar, misalnya, memakai baju yang number one ketika ke pesta, tetapi kalau shalat bajunya acak-acakan; ini termasuk penyimpangan spiritual yang relatif kecil,lebih mencintai dunia daripada akhirat. Kalau untuk hura-hura puluhan juta rupiah keluar duitnya, tetapi kalau untuk infaq Rp, 100.000,- saja terasa mahal sekali. Kalau mengejar-ngejar dunia sampai meninggalkan ibadah, maka itu sudah penyimpangan yang berat. Sibuk cari duit, lupa shalat. Sibuk nonton sepak bola, shubuh lewat. Nonton bola boleh, tetapi shalat malam juga jangan ditinggalkan. Jangan sampai gara-gara dunia, kewajiban kacau. Mari kita lihat surat Maryam (19) : 59:

clip_image006

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

Kalau kita balik pengertiannya, maka kalau shalatnya benar, beres; maka hawa nafsu akan terkendali. Kita lihat pula surat An Nuur : 37:

clip_image007

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

e. Sulit menerima nasihat

Orang yang sulit menerima kebenaran, sulit menerima nasihat, termasuk juga males: males belajar, males ngaji; itu adalah penyimpangan spiritual. Yang parah itu adalah kalau sulit menerima kebenaran dan akhirnya menolak kebenaran. Tingkatannya: males – sulit – menolak. Nabi mengatakan, “Man lam tadkhul mau’idzotu fi qolbihi tsalaatsatal ayyami maata qalbuhu, barang siapa yang tidak menerima/masuk ke dalam hatinya pelajaran/nasihat selama tiga hari, maka matilah hatinya”. Makanya disebutkan di dalam surat Al ‘Ashr:

clip_image008

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Kalau orang sudah tidak tawashau bilhaq, maka rusaklah spiritualnya.

Kelima penyimpangan spiritual itu tergantung pula tingkatannya. Untuk memperbaikinya, pada bab mananya dari shalat itu yang menjadi obat, inilah yang perlu dikaji. Dalam ayat itu hanya dikatakan obatnya itu adalah shalat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: