• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

3 Desember

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 3 Desember 2006

TAFSIR SURAT AL BAQARAH : 47 – 48

(Lanjutan 3)

Ustadz : Sambo

clip_image001

clip_image002

Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat

clip_image003

Dan jagalah dirimu dari (`azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa`at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.

Dalam ayat yang ke-47 telah dibahas bahwa kelebihan yang Allah berikan kepada masing-masing umat itu bukan sesuatu yang menunjukkan kemuliaannya; kalau kelebihan itu adalah hal-hal yang bersifat duniawi; karena kemuliaan itu letaknya adalah pada ketakwaan. Termasuk juga kelebihan yang Allah berikan kepada kita, umat Nabi Muhammad SAW, itu bukan berarti tanpa syarat, tanpa kondisi-kondisi yang harus kita penuhi. Oleh karena itu pada ayat yang ke-48 ini kita diingatkan, walaupun ayat ini ditujukan kepada Bani Israil, tetapi itu juga berlaku bagi siapa saja yang membacanya, termasuk kita kaum muslimin. Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk wattaquu yauman, yang artinya “takutlah kalian”, boleh juga diartikan “jagalah oleh kalian”. Jadi, “takut” dalam kata bahasa Indonesia itu diambil dari bahasa Arab: “taqwa”. Artinya, “Takutlah kalian akan suatu hari atau jagalah dirimu terhadap suatu hari yang tidak dapat menolong setiap jiwa terhadap jiwa yang lain sedikitpun dan tidaklah akan diterima dari jiwa itu syafaat dan tidak juga akan diambil daripadanya tebusan dan tidaklah pula mereka ditolong”. Jadi ayat ini menjelaskan kepada kita untuk takut pada suatu hari nanti, maksudnya adalah hari kiamat, hari ketika manusia dibangkitkan oleh Allah SWT, hari di mana manusia dikumpulkan di padang mahsyar. Perintah takut ini bukan sekedar “takut”, tetapi berisi konsekuensi, yaitu: kalau kalian takut, apa yang harus dikerjakan? Kalau dibilang takut, semua orang juga takut menghadapi hari itu. Siapa sih yang tidak takut pada hari itu? Yauma laa dzhilla illa dzhillu, pada hari itu tidak ada naungan, kecuali naungan Allah. Jangankan pada hari berbangkit, hari kiamat, kejadian tsunami saja kita sudah ngeri. Padahal itu peristiwa yang kecil, apalagi hari kiamat. Tetapi ktakutan ini bukan semata-mata takut, tetapi apa konsekuensi dari takut ini? Konsekuensinya adalah kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kenapa kita mempersiapkan diri pada hari itu? Karena pada hari itu tidak ada tolong menolong. Bagi orang yang tidak punya bekal, tidak ada tolong menolong, tetapi bagi orang yang punya bekal, mudah pertolongannya. Jadi, supaya nanti mendapat pertolongan, persiapkan diri kita. Di sana nanti tidak ada tolong menolong, boro-boro menolong orang lain, semua sibuk dengan dirinya sendiri. Kita perhatikan surat ‘Abasa:

clip_image004

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya,

clip_image005

dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.

clip_image006

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.

Pada hari itu anak tidak bisa menolong bapaknya, begitu pula sebaliknya. Masing-masing lari menyelamatkan dirinya sendiri, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Jadi, boro-boro menolong orang lain, menyelamatkan diri sendiri saja belum tentu bisa. Misalnya terjadi kebakaran hebat, boro-boro mikirkan orang lain, kita sendiri saja belum tentu selamat. Oleh karena itu, persiapkan diri kalian untuk menghadapi hari itu, supaya bisa menolong dirimu sendiri, agar tidak menjadi orang yang limbung nanti di sana. Tetapi bagi orang yang telah bersiap, asyik nanti di sana, orang lain kepanasan, kita pakai AC. Itulah gambaran orang yang bersiap. Siapa mereka itu? Yaitu pemimpin yang adil, pedagang yang jujur, orang yang cinta masjid, orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu, orang yang rajin berinfaq, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, orang yang bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Orang lain sibuk kepanasan, mereka memakai AC, mendapat dzhillu dari Allah SWT. Itulah sifat yang pertama.

Apa sifat yang kedua? Kalau kita tidak mempersiapkan, tidak akan ada pertolongan. Syafaat itu hanya diberikan kepada orang-orang yang telah siap, yang tidak mempersiapkan diri tidak akan mendapatkannya. Sebagaimana telah kita bahas, syfaat itu artinya menggenapkan. Syafi’ itu artinya genap. Menggenapkan itu artinya kalau kurang baru bisa digenapkan, ditambah. Kalau tidak ada yang harus ditambah, apa yang mau ditambah? Ibarat kain, ia adalah sebagai penambal. Kalau kainnya tidak ada, apa yang mau ditambal? Jadi, kalau tidak siap, tidak ada syafaat. Kalau kita siap, akan ada syafaat. Misalnya, dalam ibadah kita kurang-kurang sedikit, maka itu nanti digenapkan. Misalnya, kita mempunyai anak meninggal, kita sabar, itu bisa memberikan syafaat. Ini untuk menggenapkan yang kurang-kurang. Tetapi kalau kurangnya adalah kurang banget, apa yang mau digenapkan? Nanti ada bermacam-macam syfaat, ada syafaatul kubro, dlsb. Bagi yang tidak ada persiapan tidak mendapatkan syafaat apa pun. Bapak tidak bisa memberikan syafaat kepada anak dan sebaliknya anak tidak bisa memberikan syafaat kepada bapaknya. Tidak bisa juga menyalahkan orang lain saja, misalnya, “Oh saya seperti ini kan gara-gara bapak saya?!”. Tidak bisa demikian. Bagi orang yang telah mempersiapkan diri, sementara orang lain lari tunggang langgang, ia tenang-tenang saja. Orang-orang yang seperti ini dijaga oleh para malaikat.

Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apa yang perlu kita persiapkan supaya kita tidak terkena sifat-sifat seperti yang disebutkan dalam ayat yang ke-48 tadi?

1. Iman yang bersih dari syirik

Agar kita terjaga dari sifat-sifat yang digambarkan tadi, maka kita harus beriman kepada Allah dan bebas dari syirik. Mari kita lihat surat Al An’aam : 82:

clip_image007

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Jadi, agar kita aman, tidak takut, maka kita harus iman dan bebas dari syirik. Kalau ada syirik, kita tidak akan aman; karena syirik itu akan merusak iman. Syirik di sini adalah syirik yang besar maupun yang kecil. Yang pertama adalah Syirik besar itu adalah syirik yang menyangkut ketuhanan, kita menduakan Tuhan. Ada lagi syirik yang kedua yaitu ibadah, yaitu menduakan Tuhan dalam ibadah. Artinya di samping ia menyembah Allah, ia pun menyembah yang lain. Model seperti ini adalah modelnya orang Nasrani: Ada Tuhan Bak, Tuhan Anak, dan Tuhan Ibu. Ada pun syirik ketuhanan itu seperti orang Hindu, ada tiga Tuhan, ada Tuhan Pencipta namanya Brahma, ada Tuhan Pemelihara namanya Wisnu, dan ada Tuhan Perusak namanya Syiwa. Mereka Tuhannya 3 person. Kalau orang Nasrani Tuhannya 3 dalam penciptaan. Mereka tidak menyatakan Tuhannya 3 person. Mereka menyembah Yesus, di samping menyembah yang lain dalam beribadahnya. Kalau dikatakan kepada orang Nasrani, “Koq kalian menyembah 3 Tuhan?!”. Jawabnya, “Oh, tidak. Tuhan kami satu”. Dalam bertuhan memang satu, tetapi dalam peribadatannya menyembah 3 tuhan. Kalau ada orang yang menganggap Tuhan itu 3 dalam beribadah atau sebagai person, mereka kalau berdoa, memintanya kepad 3 Tuhan itu. Orang Nasrani, misalnya kalau berdoa kepada 3 Tuhan: Kepada Allah, kepada Yesus dan kepada Bunda Maria.

Mungkin syirik seperti disebutkan di atas (person maupun ibadah) bisa saja kita menghindainya. Kalau kelompok syirik yang disebutkan tadi tidak ada kadarnya, syirik saja, sifatnya “hitam-putih”. Yang berikutnya, adalah syirik yang ketiga. Ini memakai kadar, misalnya syirik hukum. Artinya ada hukum lain yang kita percayai selevel dengan hukum Tuhan. Untuk yang ketiga ini bisa tidka kita sadari.

Ada lagi syirik yang lain, yaitu syirik Doa. Ini masuk dalam golongan syirik ketiga. Ini juga banyak menimpa pada kita: percaya kepada dukun, percaya kepada benda-benda yang bisa “menyelamatkan”. Banyak orang yang berdoa seperti itu. Janganlah kita mencampurkan Tuhan dengan hal-hal yang demikian.

Syirik yang kelima adalah syirik cinta, ada sesuatu yang sama atau setara atau bahkan lebih dicintai daripada Allah. Kita lihat dalam surat At Taubah : 24:

clip_image008

Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Kalau di dalam hati kita ada yang lebih dicintai, itu bermasalah juga. Hanya ini ada kadar-kadarnya. Kalau syirik-syirik yang menyangkut ketuhanan dan ibadah itu terang, jelas. Kalau syirik cinta ini ada tingkatannya. Kita jauhkan kita dari sifat ini.

Kita tidak hanya beriman dan bebas dari syirik saja, tetapi juga iman yang istiqomah. Yang seperti ini juga termasuk orang-orang yang aman. Kita lihat pada surat Fushilat : 30:

clip_image009

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Kita lihat lagi firman Allah dalam surat Al Ahqaaf : 13:

clip_image010

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

Artinya istiqomah itu adalah sampai mati tetap beriman, jangan keluar masuk. Orang yang istiqomah itu tidak akan takut.

2. Persiapan Amal

Usahakan amal baik kita lebih banyak daripada amal buruknya. Kalau amal baiknya lebih banyak dari yang buruk, maka kita akan aman. Sebaliknya kalau amal baiknya lebih sedikit dari amal buruknya, maka tidak akan aman. Maka hitunglah amal-amal kalian sebelum amal-amal kalian dihitung, hasibuu anfusakum qabla antuhasabuu. Oleh karena itu usahakan yang baik itu lebih banyak, perbanyak amal dan persedikit dosa. Kita perhatikan surat Al Qaria’ah : 6-8:

clip_image011

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.

Orang yang timbangan kebaikkannya lebih berat, maka ia akan aman. Kalau timbangan kebaikannya sedikit, ia tidak akan aman. Amal-amal kebaikan itu banyak sekali, mulai dari zakat, infaq, shodaqoh, shalat wajib, shalat sunat, dll.

3. Perbanyak shodaqoh/infaq

Yang paling berat diperjuangkan nanti di akhirat itu adalah menyangkut harta. Sampai-sampai masalah harta itu dijadikan peringatan. Kita lihat dalam surat Al Baqarah : 254:

clip_image012

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.

Pertanggungjawaban yang berat nanti di akhirat itu adalah menyangkut harta. Kalau yang telah kita bahas di atas adalah amal-amal yang umum: shalat, zakat, puasa, haji, dll. Ini adalah infaq. Kalau zakat itu ada ukurannya, tetapi kalau infaq ini tidak ada batasnya. Yang berat itu adalah masalah infaq, karena bisa bervariasi sekali. Kita perhatikan surat Al Munaafiquun : 10:

clip_image013

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Orang mati nanti, pertanggungjawaban yang pertama itu menyangkut harta. Bagi orang yang tidak pernah berinfaq, ingin ditangguhkan kematiannya agar bisa berinfaq. Karenanya urusan yang paling berat itu adalah urusan harta. Makanya Nabi dulu yang ditakutkan itu adalah masalah harta. Makanya sebelum meninggal, yang ditanyakan adalah berapa hartanya. Harta yang tertinggal adalah 8 dirham. Itu Nabi, yang dijamin masuk surga. Begitu pingsan dan kembali sadar, yang ditanyakan pertama adalah hartanya, bukan isterinya; apakah harta yang 8 dirham itu sudah diinfaqkan atau belum. Setelah diberi tahu, minta segera diinfaqkan. Infaqkan itu yang akan menyelamatkan. Infaq itu adalah menyerahkan hartanya untuk jalan Allah, fii sabiilillaah, untuk menyekolahkan orang, untuk membantu memberi makan orang tua, memberi makan anak-isteri, dll.

4. Carilah amal-amal spesial

Yaitu amal-amal yang bisa menjadi andalan melalui fak-fak, spesialisai masing-masing. Kalau amal-amal yang telah kita bahas itu adalah amal-amal yang sifatnya umum. Tetapi ini amal spesial. Kalau kaya dengan hartanya, yang berilmu dengan ilmunya, miskin dengan sabarnya, pemimpin dengan keadilannya, pedagang dengan kejujurannya. Nabi bersabda bahwa orang yang diberi naungan oleh Allah ada 7 kelompok di mana pada saat itu tidak ada naungan, kecuali naungan Allah SWT, yaitu: (1) pemimpin yang adil, (2) pedagang yang jujur. Sulit menjadi pedagang yang jujur, menyangkut kualitas, harga, dlsb. (3) orang yang cinta masjid. Kalau tidak bisa menjadi pemimpin, tidak bisa beraagang, maka cintailah masjid. Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid. (4) orang yang bisa menahan hawa nafsunya. Ketika ada orang yang mengajak serong, ia tidak mau, takut kepada Allah, seperti Nabi Yusuf. (5) Orang yang menyendiri dan menangis karena takut kepada Allah. Oleh karena itu perbanyaklah menangis, karena air mata itu bisa menjadi penyelamat dari api neraka. Kata Nabi bahwa ada dua mata yang tidak terkena api neraka, yaitu mata yang berjaga-jaga dalam perang, dan mata yang menangis karena Allah. Paling tidak kalaupun masuk neraka, insya Allah, matanya tidak ikut terbakar. (6) orang yang bersedekah dengan tangan kanannya, tangan kirinya tidak tahu; atau sebaliknya. Artinya tidak ria’, tidak ujub, tidak menyebut-nyebut untuk menyakiti yang diberi, dan (7) bertemu karena cinta kepada Allah dan berpisahpun karena Allah.

Tentang amal yang spseial ini, dasar ayatnya adalah surat Al Ahzaab : 35:

clip_image014

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Laki-laki dan perempuan muslim yang mungkin saja amalnya sedikit, seperti yang hidup sebagai minoritas, untuk ibadah saja sulit, mengaku Islam saja sudah berat, mencari masjid sulit; untuk mempertahankan keimanannya saja berat; mereka itu termasuk golongan orang-orang yang aman. Kemudian laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, maksudnya adalah isteri taat kepada suami, laki-laki taat kepada pemimpin (yang taat kepada Allah), ia akan masuk surga dengan ketaatannya itu.

Orang bisa masuk surga bisa karena shodaqohnya, kesabarannya, kejujurannya. Juga orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Termasuk juga orang yang kaya yang bershodaqoh, orang yang berpuasa. Juga orang yang mejaga kehormatannya, tidak menyeleweng, tidak berselingkuh. Jangan sampai ini berselingkuh malah diabadikan. Cukuplah malaikat saja yang mengabadikan. Termasuk juga orang yang berdzikir.

5. Memperkecil dosa

Hindari dosa-dosa jackpot, dosa kepada manusia. Kalau dosa kepada Allah jelas, mudah mohon ampunnya. Tetapi dosa kepada manusia itu berat, apakah mendzalimi, membunuh, mengurangi timbangan, dlsb. Yang paling berat adalah dosa kepada orang tua. Kalau kepada Allah, mudah, bisa dihapus; setiap kebaikan bisa menghapus keburukan. Kalau dosa kepada manusia, harus minta maaf dulu kepadanya. Tetapi bukan berarti silahkan saja berdosa kepada Allah, maksudnya lebih ringan, langsung bisa minta ampun. Bagaimana kalau dosa kepada manusia ini kita tidak bertemu dengannya untuk minta maaf? Ada tiga, pertama, kalau itu menyangkut dengan hartanya, kita ambil hartanya, ahli warisnya tidak ada; maka bersedekahlah dengan nama orang itu. Waktu masih kuliah, misalnya, mengambil tahu 5 mengaku dua, setelah dicari orang yang jual tahu itu sekarang tidak ada; maka besedekahlah dengan nama orang itu. Ketika dulu naik kereta tidak beli karcis, misalnya, itu juga berdosa, merugikan negara. Caranya bagaimana? Beli karcis yang banyak, lalu sobek-sobek, buang! Berapa kali dulu tidak beli karcis? Beli karcis, buang! Bisa saja tidak beli karcis itu, misalnya, karena terburu-buru tidak sempat beli karcis. Jadi, kalau berkaitan dengan harta, bersedekah atas nama dia. Termasuk juga, misalnya, mencuri listrik!

Yang kedua, kalau berkaitan dengan kehormatan seseorang, kalau kita rendahkan; maka kita angkat derajatnya. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengangkat derajatnya, itu kita lakukan. Kalau kita jelek-jelekkan, kita sebut-sebut kebaikannya. Kalau ia sudah meninggal, misalnya, sebut saja, “Oh, ia itu baik, rajin shalat, dsb”. Dulu kita jelek-jelekkan, sekarang kita baik-baikkan. Yang ketiga, adalah dengan mendoakannya. Kata Nabi, “Barang siapa pernah aku sakiti, aku caci maki, maka itu akan menjadi rahmat baginya”. Ini adalah doa. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang seperti ini. Sebenarnya kalau kita tahu, orang menyebarkan kejelekan orang itu juga termasuk membuat dosa kepada orang yang dijelekkan itu. Orang yang menyebarkan “video porno” ke TV-TV itu dosanya berat sekali. Itu berarti menghancurkan diri orang itu dan keluarganya. Kalau kita menceritakan seperti itu, ancamannya seperti dicantumkan dalam surat An Nuur : 11 dan 19. Yang lebih kacau adalah TV itu menyiarkannya dengan jelas, sensornya hanya bagian tertentu, ditutupnya dengan warna yang abu-abu, bukan hitam, sehingga masih nampak juga. Mukanya pun dinampakkan.

clip_image015

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.

clip_image016

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: