• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

4 Juni

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 4 Juni 2006

PERBEDAAN PEMAHAMAN (TERJEMAH)

SURAT 29 : 45

Oleh : Ustadz Sambo

clip_image001

Ada dua pertanyaan yang muncul pada kesempatan ini. Kita bersyukur bahwa pertanyaan ini cukup berat, berarti di sini sudah mulai banyak yang belajar, tidak hanya sekedar menerima, tetapi juga sudah mulai berpikir atas hal-hal yang sampai pada kita. Pertanyaan pertama berkaitan dengan terjemahan Fiqih Sunnah karangan Said Tsabit, bahwa dzikir kepada Allah itu lebih besar daripada shalat. Ini ada dua kemungkinan, yaitu pertama bahwa terjemahannya salah. Coba nanti kita periksa kitab aslinya. Kemungkinan kedua, itu memang pandangan penulis berdasarkan pemahamannya atas ayat. Tetapi pendapat ini sangat aneh, yaitu pemahaman atau terjemahan surat Al Ankabuut (29) : 45:

clip_image002

Terjemahan yang umum kita gunakan adalah sebagai berikut

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Yang terjadi perbedaan terjemahan adalah pada kalimat “waldzikrullaahi akbar”. Ada perbedaan pemahan atas kalimat tersebut. Pemahaman pertama atas kalimat tersebut adalah “Sungguh dzikir kepada Allah itu lebih besar nilainya”, dzikir ini dikembalikan kepada shalat. Yang dimaksud dzikir ini adalah shalat. Artinya, mengingat Allah di dalam shalat itu paling tinggi nilainya dibandingkan dengan dzikir-dzikir yang lain. Jadi, dzikir yang paling hebat itu adalah shalat. Dzikir di luar shalat itu adalah dzikir yang bersifat tambahan, dengan alasan bahwa dzikir yang wajib itu adalah shalat. Selain shalat, di luar shalat, tidak wajib. Karena shalat itu sendiri adalah dzikir. Kita bisa lihat dalam surat Thaaha : 14:

clip_image003

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Shalat itu adalah dzikir, bukan hanya sekedar mengingat, tetapi betul-betul berjumpa. Dzikir itu maknanya mengingat dan juga menyebut. Dalam ayat tersebut dikatakan “Tegakkan shalat untuk mengingat-Ku”. Hal ini menunjukkan bahwa shalat itu untuk mengingat Allah. Jadi, shalat itu sendiri adalah dzikir. Dalil yang kedua adalah surat Al Jumu’ah (72) : 9:

clip_image004

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Yang dimaksud dengan “dzikrillaahi”, mengingat Allah, itu adalah shalat. Maknanya dikembalikan ke ash shalaah. Jadi, kalau diseru adzan, bersegeralah untuk shalat (Jum’at). Kata dzikrillaah di sini bermakna shalat, karena sebelumnya disebutkan kata “shalat”. Berdasarkan ini, maka yang dimaksud dengan dzikrullaah pada surat Al Ankabuut (29) : 45 itu kembalinya ke shalat, karena keterangan sebelumnya adalah tentang shalat, yaitu:

clip_image005clip_image006

dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar

lalu dilanjutkan dengan kata-kata:

clip_image007

Kata-kata ini artinya tentang shalat. Dari mana kita memahami bahwa dzikir akbar itu adalah shalat? Dalam ayat ini konteksnya adalah shalat. Dengan demikian, karena konteksnya adalah shalat, maka dzikir di sini artinya adalah shalat. Inilah makna yang dipahami secara umum oleh para ulama kita. Inilah pendapat umum, pendapat yang terbanyak.

Kalau orang memahami seperti yang ditulis dalam buku Said Tsabit tadi, berarti ia mengambil garis demarkasi, pemisah, antara dzikrullaah dengan shalaah. Ini pendapat yang aneh. Kalau ayat itu letaknya umum, di mana-mana, maka memahaminya seperti itu boleh saja. Misalnya, letaknya di mana begitu, tidak ada kaitannya dengan shalat, lalu ujug-ujug waladzikrullaai akbar, maka pemahaman seperti itu bisa dimengerti. Tetapi dalam kasus ini tidak demikian, ia masuk ke dalam konteks shalat. Jadi, maknanya tidak bisa lepas dari konteks itu, yaitu shalat. Seperti pada surat Al Jumu’ah tadi, konteks sebelumnya adalah tentang shalat. Jadi, makna dzikrullaah di sini adalah shalat. Pendapat seperti makna di luar shalat itu menjadi aneh, walaupun memang ada kaedah ushul fiqih yang menyatakan bahwa suatu konteks itu bisa kita lepaskan. Tetapi dalam konteks ini kita sulit mengambil yang demikian.

Dalam kaedah ushul fiqih, “Al ibrotu biumumil lafadz laa bikhushuushis sabaab”. Ibroh, ibarat, petunjuk, itu kita ambil dari umumnya lafadz, bukan karena konteksnya itu. Misalnya tentang poligami, ayat yang menjelaskan tentang poligami ini konteksnya adalah berkaitan dengan menikahi perempuan yatim (anak yatim). “Daripada engkau menikahi anak yatim yang dalam pengawasanmu sehingga engkau bisa berlaku tidak adil gara-gara menikahi anak yatim yang berada dalam pengawsanmu, lebih baik engkau nikahi wanita lain dua, tiga atau empat”.

clip_image008

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Misalnya seseorang ketitipan anak yatim untuk mengurusnya. Dari kecil dididik, setelah besar ia pikir, “Wah, cantik juga anak ini”, lalu terpikir untuk dinikahinya. Ayat tersebut menerangkan bahwa daripada menikahi anak yatim yang berada dalam pengawasannya, yang nantinya bisa membuat dia tidak adil terhadapnya, karena anak itu selalu dididik sejak kecil, maka lebih baik menikahi orang lain. Misalnya anak tersebut dinikahinya, maka bisa tidak adil, “Kau dari kecil kan sudah aku beri makan?!” Di sini ada semacam tekanan-tekanan terhadap anak itu, karena sudah diberi makan sejak kecil sampai besar, sehingga kalau menjadi isterinya sang suami bisa tidak adil. Karena, anak ini ingin berbalas budi terhadapnya. Kalau diberi “jatah” sedikit pun, si anak tidak bisa protes. Tidak ada kesetaraan suami-isteri. Ayat ini turun untuk mencegah kekhawatiran-kekhawatiran itu. Lebih baik menikahi orang lain dua, tiga atau empat. Berdasarkan kaidah ushul fiqih tadi, ibroh itu diambil dari umumnya lafadz, bukan khususnya sebab. Oleh karena itu tidak dikaitkan dengan konteks itu. Ini boleh dan kalau ada pendukungnya, sehingga konteksnya ditarik keluar.

Contoh yang lain adalah tentang shalat qashar. Shalat qashar itu konteksnya bukan shalat di perjalanan. Shalat qashar itu konteksnya adalah kalau kita ketakutan kalau ada orang kafir, ketika kita sedang shalat. Kita lihat surat An Nisaa’ : 101:

clip_image009

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Ini konteksnya adalah mengqashar shalat kalau dalam kondisi takut kepada orang kafir. Tetapi pada faktanya sekarang orang shalat qashar itu bukan karena takut kepada orang kafir, tetapi karena melakukan perjalanan. Pelaksanaan shalat qashar saat ini tidak tergantung pada konteks ayat itu. Kenapa? Karena ada keterangan lain di mana nabi juga pernah melakukannya. Walaupun ayat ini konteksnya karena takut kepada orang kafir, tetapi pada faktanya nabi banyak melakukan shalat qashar walaupun tidak ada rasa takut itu. Ini bukti yang lain. Jadi, boleh out of contects, tetapi ada keterangan pendukungnya.

Kembali kepada pemahaman ayat tentang shalat tadi, kalau dzikrullaahi itu ditarik keluar dari pengertian shalat, pendukungnya apa? Apa dalilnya sehingga ditarik ke luar? Dalam kitab itu tidak ada dalil lain, kecuali pendapat dia (kalaupun benar ia berpendapat begitu). Ini bisa kita kritisi. Toch yang menulis buku itu bukan nabi, tetapi manusia biasa yang bisa saja salah. Kecuali, nabi yang mengatakan begitu. Kalau nabi yang mengatakan bahwa dzikir itu lebih besar daripada shalat, baru bisa kita tarik keluar dari makna shalat. Tetapi kalau hanya pendapat orang, bisa dikritisi, karena pendapatnya aneh. Berdasarkan logika kita saja, misalnya, mana yang lebih besar, dzikir di luar shalat atau dzikir di dalam shalat? Di dalam shalat! Karena, dalam shalat itu dzikir yang wajib. Kalau di luar shalat, dzikir itu tidak wajib. Subhanallah, alhamdulillaah…, itu tidak wajib ketika di luar shalat. Dzikir yang wajib itu adalah shalat. Ini perlu dicek dulu dalam kitab aslinya, apa ada keterangan tambahannya. Jadi, buku itu tidak boleh kita terima bulat-bulat. Kalau aneh, ya kita kritisi. Karena ini di luar logika: “dzikir di luar shalat lebih besar daripada shalat”. Kalau dzikir di luar shalat, tidak ada ikatannya. Misalnya: boleh tanpa wudhu, tidak harus menghadap kiblat, tidak harus menutup aurat. Dzikir itu kapan saja, kecuali dzikir yang berupa wirid-wiridan tertentu. Di kamar mandi apa boleh dzikir? Boleh! Tetapi dzikir di dalam hati. Kalau tidak boleh, lalu yang kita ingat siapa? Coba lihat juga buku Fiqih Sunah terjemahan yang lainnya, karena terjemahan buku Fiqih Sunah ini ada banyak.

Ada lagi terjemahan lain yang berbeda dari yang biasanya tentang surat Al Ankabuut : 45 ini, yaitu berdasarkan Al Qur’an yang diterbitkan oleh Pembinaan Mental Angkatan Darat:

clip_image002[1]

Katakanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Al Qur’an dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya Allah mengingat kamu lebih besar (banyak) dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

Dalam terjemahan yang umum adalah “Sungguh mengingat Allah (shalat) itu lebih besar”, lebih tinggi dibandingkan dengan dzikir-dzikir yang lain. Terjemahan yang disampaikan di atas ini aneh, “Sungguh Allah mengingat kamu lebih besar”. Di sini “Allah yang mengingat kamu lebih besar daripada kamu mengingat-Na”. Terjemahan ini memungkinkan dari segi pemahaman. Pendapat ini menggunakan dalil surat Al Baqarah : 152:

clip_image010

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.

Dalam hadis dikatakan, “Kalau engkau mengingat Aku (Allah) dalam kelompok yang kecil, maka Aku akan mengingatmu dalam kelompok yang besar. Kalau engkau mengingat Aku dalam kelompok yang besar, Aku mengingatmu dalam kelompok yang lebih besar lagi”. Terjemahan 29: 45 seperti di atas sepertinya dipahami dalam konteks seperti hadis tadi dan Surat Al Baqarah : 152 itu, “Kalau kita ingat Allah, maka allah akan mengingat kita lebih lagi”. Jadi kata-kata “waladzikrulaahi akbar” itu dipahami “Allah yang mengingat”. Tetapi yang umum dipahami adalah “Mengingat Allah”, pelakuknya adalah kita, yaitu: “Sungguh kalau kamu mengingat Allah”. Ini terjemahan umum. Tetapi kalau terjemahan di atas itu tidak demikian, pelakunya adalah Allah. Dari segi logika bahasa, ini juga dimungkinkan, Allah menjadi pelaku. Tetapi ini pendapat yang aneh.

Contoh perbedaan terjemahan yang lain adalah pada surat Jin (72) : 6.

clip_image011

Terjemahan yang umum adalah:

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

Di sini, jin itu yang akan menambah dosa dan kesalahan pada manusia. Tetapi dalam terjemahan lain (Terjemahan Qur’an oleh Badan Pembinaan Mental AD), justru manusia yang menambah dosa dan kesalahan jin, yaitu sbb:

Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari golongan manusia berlindung kepada beberapa orang laki-laki dari jin, maka mereka menjadikan jin bertambah sesat.

Menurut terjemahan ini, yang sesat adalah jinnya. Kalau terjemahan yang umum, yang sesat adalah manusianya. Perbedaan seperti ini juga mungkin saja. Karena, bahasanya: “Sekelompok manusia minta tolong kepada jin, maka mereka menambahkan kepada mereka dosa dan kesalahan”. Siapa “mereka” yang pertama dan siapa “mereka” yang kedua? Pemahaman yang mumum, “mereka” yang pertama itu adalah jin, sedangkan “mereka” yang kedua, sebagai obyek, adalah manusia. Maka jin itu menambah dosa dan kesalahan. Orang yang minta tolong kepada jin pada hakekatnya tidak mendapat apa-apa, kecuali makin bertambah dosa dan kesalahannya. Inilah pemahaman yang umum.

Pemahaman yang tidak umum itu pun tidak bisa disalahkan, karena pemahamannya diurut menurut kata, “Sekelompok manusia minta tolong kepada jin. Maka mereka (manusia) menambah kepada mereka (jin) …”. Urutannya di sini adalah “AB AB”. Kalau pamahaman yang umum, urutannya adalah “AB BA). Inilah indahnya Al Qur’an, dua-duanya bisa dipahami. Kalau ada sekelompok manusia minta tolong kepada jin, keduanya saling menyesatkan. Berdasarkan pemahaman ini, jin muslim itu tidak pernah mau dimintai tolong. Hanya jin-jin kafir yang mau dimintai tolong. Karena, jin muslim kalau dimintai tolong tidak saling menyesatkan. Kalau jin kafir, maka makin sesat ia, makin sombong dia, “Kau minta tolong kepada gua, kan ?!” Makin lama kesombongannya makin besar. Sama halnya dengan kita, kalau orang makin bergantung kepada kita, lama-lama menjadi besar kepala. Jadi, di situ maknanya saling menyesatkan. Hanya saja, pemahaman yang umum adalah pemahaman yang pertama, yaitu jin menyesatkan manusia.

Pertanyaan:

Ada hadis yang menyatakan bahwa mengingat Allah satu detik lebih besar pahalanya daripada shalat seribu rakaat. Mohon penjelasannya.

Tanggapan:

Saya tidak mengetahui kualitas hadis ini. Kalaupun hadis itu benar, pemahamannya adalah “Satu detik ingat Allah dengan benar lebih baik daripada shalat tetapi tidak ingat sama sekali, shalat tetapi lalai terus”. Itu kalau memang hadisnya benar. Yang sedikit tetapi kualitasnya number one jauh lebih baik daripada kuantitasnya banyak tetapi kualitasnya jelek. Tetapi pernyataan ini aneh, makanya perlu diperiksa kebenarannya. Sebab shalat itu sendiri adalah dzikir. Dzikir itu artinya ingat atau menyebut. Kalau itu benar, maka pemahamannya seperti itu. Ini sama dengan hadis:

Naumun ‘alaa ‘ilmin khoirun min sholaati ‘alaa jahlin

Tidurnya orang yang berilmu jauh lebih baik daripada shalatnya orang yang bodoh.

Kalau kita memakai konteks ini, orang berilmu itu tidurnya lebih baik daripada ibadahnya orang yang bodoh. Artinya, tidurnya orang yang berilmu itu berpahala, sementara shalatnya orang bodoh malah berdosa. Kenapa? Ia shalat, tetapi tidak tahu syarat dan rukunnya, shalat tetapi lalai terus bawaannya. Ini bisa dipahami, dengan catatan kalau hadis itu benar. Tetapi aneh juga, dzikir satu detik lebih baik dari shalat 1000 rakaat, sedangkan shalat itu sendiri adalah dzikir. Tetapi kalau tafakur, bisa jadi ya, karena tafakur itu maknanya menggali suatu ilmu. Mendapatkan ilmu yang baru lebih baik daripada ibadah lain yang banyak. Kenapa? Karena kalau ibadah itu untungnya untuk diri sendiri untuk diri sendiri, tetapi kalau tafakur itu mendapatkan ilmu untungnya untuk orang banyak. Amal itu ada prioritasnya, ada tingkatan nilainya. Shalat malam berlama-lama dibandingkan dengan mencari ilmu, nilainya lebih tinggi mencari ilmu. Karena shalat malam itu ibadah yang sifatnya untuk pribadi kita, tetapi kalau mencari ilmu ini untuk kepentingan orang banyak. Makanya Imam Syafii itu jarang shalat malam, tetapi ia juga tidak tidur malam. Ngapain?

Imam Syafii pernah menginap di rumah Imam Ahmad selama 3 hari. Ini juga pelajaran, sebaiknya sekali-kali kita menginap di rumah sahabat. Rupanya anaknya Imam Ahmad memperhatikan gerak-geriknya Imam Syafii. Setelah Imam Syafii pulang, anak itu bertanya kepada bapaknya, Imam Ahmad, “Pak, kawan Bapak itu aneh. Katanya orang berilmu, tetapi saya perhatikan perangainya seperti orang tidak berilmu, seperti ‘bagaimana’ begitu?! Ibadahnya itu aneh”. Kata bapaknya, “Apa yang kau lihat?” Ia jawab, “Pertama, ia makannya banyak. Setahu saya orang berilmu itu makannya tidak banyak. Ini koq makannya banyak! Kemarin saya lihat beliau lahap sekali makannya. Gembul juga orang itu. Yang kedua, kalau malam saya lihat tidak pernah shalat malam. Ia begadang saja, tidak shalat malam. Yang ketiga, ia shalat shubuh tidak pakai wudhu.” Ia tahu bahwa Imam Syafii tidak ke belakang mengambil air wudhu. Kata bapaknya, “Cobalah kau tanya sendiri kepadanya, mana kutahu?!” Akhirnya pada waktu bertamu ke rumah Imam Syafii, ia tanyakan hal itu. Jawaban Imam Syafii, “Pertama, aku ini menghormati yang punya rumah, sudah masak banyak-banyak, mas’ aku tidak makan? (Jadi, kalau diundang makan orang, ya makan yang lahap untuk menyenangkan tuan rumah). Yang kedua, aku tidak shalat malam, tetapi aku semalaman juga tidak tidur. Aku memecahkan 70 masalah setiap malam. Yang ketiga, aku tidak wudhu, karena wudhuku waktu shalat Isya tidak batal hingga shubuh.”

Jadi, ada amalan-amalan yang lebih baik dari yang lain. Misalnya, kita punya uang pas-pasan, mau berangkat haji. Tiba-tiba ada tetangga kita atau saudara kita sakit keras dan membutuhkan dana pertolongan. Mana yang lebih baik, haji atau kita membantu? Lebih bagus kita menolong orang yang sakit itu. Karena, ini sama-sama hukumnya wajib. Menolong orang atau tetangga kita yang sangat membutuhkan itu hukumnya wajib. Itu namanya infaq. Infaq itu ada yang wajib dan ada infaq sunah. Prioritasnya yang mana? Kalau haji, masih bisa ditunda tahun depan. Ibadah haji itu ibadah yang bisa di-pending. Sementara menolong orang yang sudah sakaratul maut tidak bisa di-pending. Kalau di-pending, ia mati. Ini sama-sama wajib, tetapi ada yang diprioritaskan.

Kembali kepada masalah tafakur tadi, nabi bersabda bahwa tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah 10 tahun. Jadi kita berpikir menghasilkan ilmu yang bermanfaat, jauh lebih baik nilainya daripada ibadah 10 tahun. Dari mana kita tahu itu lebih baik daripada ibadah yang lain? Kalau itu menghasilkan ilmu yang bermanfaat, nilainya sepanjang jaman kita dapatkan. Tetapi kalau shalat 10 tahun, nilainya selama itu saja yang kita dapatkan.

Pertanyaan:

Ada yang mengatakan bahwa shalat itu penting, tetapi akhlaq itu lebih penting. Mohon penjelasannya.

Tanggapan:

Kita perlu mengkaji hal itu: dalil atau pendapat? Kalau dalil, perlu kita bahas lebih lanjut. Tetapi kalau pendapat, boleh kita tolak. Karena, shalat itu adalah ibadah yang paling utama menurut kaidah hukum. Dalam hadis dinyatakan, “awalu maa yuhaasabu ‘ala ‘abdi fii yaumil qiyaamati ash sholaah”. Di hari kiamat nanti, pertama kali yang dihisab itu adalah shalat. “Idzaa sholuhat sholuhat ‘amaluhu sairihi wa idzaa fasadat fasadat ‘amaluhu sairihi”, apabila shalatnya benar, maka seluruh amalnya yang lain akan benar, dan apabila shalatnya rusak, maka seluruh amalnya yang lain juga rusak. Pertanyaan yang diajukan itu seolah-olah bertentangan dengan dalil umum tadi. Kalau bertentangan, kalau itu adalah pendapat, ya kita tolak. Tetapi kalau ini juga dalil, nah itu baru kita bahas.

Kalau ada dalil yang bertentangan, maka ini harus dikompromikan. Pernyataan itu bisa kita pahami bahwa itu kalau shalatnya tidak benar. kalau shalatnya benar, maka dengan shalat yang benar itulah akhlaqnya menjadi benar. Kalau shalatnya number one, maka akhlaq ini akan baik. Ini berdasarkan hadis yang umum tadi: apabila shalatnya benar, maka seluruh amalan yang lain akan benar. Tetapi kalau itu pendapat, ya kita tolak. Sebab nanti orang akan berpikir kalau begitu tidak perlu shalat, asal akhlaqnya baik. Yang penting baik. Ini jadi kacau. Akhirnya tidak perlu shalat, tidak perlu puasa, tidak perlu haji, karena sudah merasa baik. Pertanyaannya: apa ukuran baik itu? Kalau tidak shalat, maka ia “bajingan” juga, ia tidak baik. Ukuran baik itu bukan baik menurut manusia, menurut perasaan. Makanya agama Islam itu bukan diinul khoir, bukan agama yang baik, tetapi diinul haq, agama yang benar. Setiap yang baik belum tentu haq, tetapi yang haq pasti khoir. Kalau haq ada ukurannya, sedangkan khoir tidak ada ukurannya.

Kembali kepada pernyataan tadi, kita perlu memeriksa apakah itu hadis atau bukan. Kalau dijumpai dua hadis yang saling bertentangan, maka yang pertama dilihat adalah bagaimana kedudukan hadis itu. Yang dipakai adalah yang lebih tinggi. Yang kedua, kalau kedua hadis itu sama-sama shohih, maka harus dikompromikan, kita tidak boleh menolak yang satu dan menerima yang lain. Contohnya adalah tentang waris dan wasiat seperti yang dijelaskan dalam surat Al Baqarah : 180:

clip_image012

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

Ayat tersebut berkenaan dengan wasiat, yaitu wasiat tentang warisan kepada orang tua. Sementara ada dalil dari hadis nabi bahwa tidak ada wasiat (harta) kepada ahli waris. Ini juga hadis yang shohih. Para ulama mengkompromikan dua dalil ini. Kedua-duanya tidak bisa ditolak, menjadi: boleh berwasiat kepada orang tua, tetapi orang tua yang muslim. Karena dalam hadis dinyatakan bahwa orang tua yang berbeda agama tidak mendapat warisan. Ada 3 sebab sehingga orang tidak mendapat warisan, yaitu: (1) berbeda agama, (2) sebagai pembunuh, dan (3) budak. Jadi, kita tidak boleh mengadu ayat dengan ayat, ayat dengan hadis, atau hadis dengan hadis. Karena, nabi tidak mungkin membuat suatu pernyataan yang menyalahi Al qur’an.

Satu Tanggapan

  1. Assallaamu alaikum.. khi.. memang insya alloh benar kajiannya. tapi penggalan ayat mengenai sholatnya kenapa tidak sesuai dengan terjemahnya?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: