• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

6 Agustus

MASJID AL FALAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN TANGGAL 6 Agustus 2006

SHALAT SEBAGAI OBAT PENYIMPANGAN SPIRITUAL:

SULIT MENERIMA KEBENARAN

Oleh : Ustadz Sambo

clip_image001

Penyakit spiritual yang terakhir yang akan kita bahas adalah sulit menerima kebenaran. Bahkan yang sangat parah adalah menolak kebenaran. Ini penyakit spiritual yang sangat berbahaya: sulit menerima nasihat. Orang yang seperti ini adalah sombong. Ini adalah bentuk-bentuk kesombongan. Kalau penyakit spiritual yang telah kita bahas, mungkin lebih banyak terkena pada orang-orang biasa, orang-orang awam; seperti: berbuat maksiat, hambar dalam beribadah, kurang yakin, atau cinta dunia. Itu bisa terkena pada orang-orang awam. Tetapi kalau masalah sulit menerima nasihat, terkenanya biasanya pada orang-orang yang sudah “tingkat tinggi”: alim ulama, para cendekiawan, ustadz, dll; terkena pada orang-orang pintar. Orang yang pintar cenderung merasa dirinya hebat, merasa dirinya benar; akhirnya ia sulit menerima kebenaran dari orang lain. Bukan hanya sulit menerima, bahkan kadang-kadang bisa saja menolak kebenaran. Kalau ini digabung dengan penyakit-penyakit spiritual yang lain, maka makin parah: sudah cinta dunia, lalu sulit menerima nasihat; bisa jadi ia menjual kebenaran, menjual ayat-ayat dengan harga yang murah (tetapi bukan berarti kalau dijual dengan harga mahal boleh!), sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah : 174:

clip_image002

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Penyakit sulita menerima kebenaran ini bisa menyentuh siapa saja, bahkan orang yang ahli ibadah, “Saya kan sudah khusyu’ shalatnya, sudah mantap; semua itu kecil. Saya sudah dekat dengan Allah. Kening saya sudah hitam, orang-orang lain tidak ada yang sehitam kening saya”. Yang seperti ini bisa saja muncul pada orang yang ahli ibadah (shalat), akhirnya sulit menerima nasihat, merasa paling benar, merasa paling tinggi. Penyakit spiritual yang lain mungkin bisa dihindarinya, tetapi yang ini sangat sulit, bisa juga terkena kepada orang-orang yang ahli ibadah.

Biasanya orang yang ahli ibadah, karena sudah merasa dekat dengan Allah, bisa sulit menerima kebenaran. Ia sudah merasa mencapai tingkatan tertentu yang dekat dengan Allah; ia sudah merasa tidak butuh lagi kepada manusia, merasa tidak butuh lagi nasihat orang lain. Kebanyakan orang yang menyimpang itu gara-gara seperti ini: merasa sudah menyatu dengan Tuhan. Ia katakan, “Aku adalah Tuhan, karena Tuhan telah menyatu denganku”. Perasaannya sudah mencapai puncaknya. Tetapi efeknya bisa seperti itu, kalau ia tidak sadar. Ini yang dikatakan, “Manunggaling kawulo-Gusti”, bersatu dengan Tuhan. Itu adalah tingkatan khusyu’ yang paling “dahsyat”. Kalau kita adalah: “An ta’budallaaha ka-annaka tarohu fain lam takun tarohu fainnahu yaroka, bahwa beribadahlah engkau seolah-olah engkau melihat Allah, dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya sesungguhnya Ia melihatmu”. Kita hanya sekedar “seolah-olah melihat”, sekedar berjumpa; tetapi orang yang ini lain, bukan sekdar “melihat” atau “berjumpa”, tetapi sudah “menyatu”. Dahsyat sekali ini! Inilah perilaku beberapa orang yang menyimpang. Bahkan karena sudah bersatu, ia merasa tidak perlu shalat lagi. Ia katakan, “Shalat itu kan supaya kita bertemu Tuhan?! Sekarang saya sudah bukan bertemu lagi, tetapi sudah menyatu dengan Tuhan. Untuk apa saya shalat?! Hidup saya ini adalah shalat”. Demikian kilahnya. “Tidur saya ini adalah shalat, pekerjaan saya ini adalah shalat”, semuanya dianggap shalat. Ini berbahaya. Tetapi ini bukan untuk menakut-nakuti, “Wah kalau begitu tidak usah khusyu’-khuyu’ amat!”. Bukan begitu, tetapi kita belajar on track, tidak sampai berlebih-lebihan. Kalau berlebih-lebihan, bisa tergoda oleh syaitan, terjebak pada permainan setan.

Kalau penyakit-penyakit yang lain mungkin bisa dihindari, tetapi penyakit menerima nasihat ini sulit. Oleh karena itu harus diobati. Penyakit spiritual bisa diobati dengan shalat, dalam arti ia bisa menerima nasihat, yaitu dengan tetap belajar, tetap menimba ilmu ayat-ayat Allah, dll. Jangan sampai karena sudah merasa khusyu’ sampai “melihat Allah”, Allah menjadi dibayangkannya. Tidak seperti itu. Allah itu jangan dibayangkan dzat-Nya. Ada kan orang yang mengatakan bahwa ia sudah sampai tingkatan tertentu (ma’rifat), lalu akhirnya menyimpang. Dikatakan bahwa ibadah itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bertemu Allah. Kalau sudah menyatu, mau apa lagi? Begitu dikatakan. Bukan demikian. Bagaimanapun hebatnya kedekatan itu, kita tetap menjadi seorang yang perlu shalat. Nabi saja (tidak ada yang lebih hebat dari nabi dan sahabat), tetap shalat dan rajin ibadah; apa lagi kita. Penyakit spiritual ini bisa diperbaiki melalui shalat yang benar.

Contoh yang lain adalah bahwa biasanya orang kalau sudah mencapai tingkatan yang “khusyu’”, sudah tidak peduli lagi kepada hal-hal yang bersifat fiqihiyah. Nilai-nilai shalat yang sifatnya fiqihiyah itu sudah bukan sasarannya lagi. Mereka sudah sampai pada ilmu hakekat, tidak perlu syariat lagi. Mereka sudah tidak mempedulikan lagi bagaimana gerakan-gerakan yang benar, berdiri yang benar, sujud yang benar, duduk yang benar, ruku’ yang benar; yang penting ia sudah sampai pada tingkat tertentu. Gerakan atau syariat itu dikatakan sebagai proses untuk mencapai hakekat. “Kalau sudah sampai pada tingkat hakekat, ya syariat itu tidak perlu lagi”, ada orang yang berpendapat demikian. Ini adalah aliran-aliran sufi yang tidak benar, yang menyimpang. Jangan heran kalau ia mengatakan bahwa shalatnya di Mekah. Misalnya ketika ditanya, “Dari mana Pak Kyai?”. Jawabannya, “Saya baru shalat dari Mekah”. Wah hebat amat! Kalau menurut kita, “Ah, bohong loe!”. Bagaimana mungkin shalat di Mekah, waktunya berbeda 4 jam dari di sini?! Kalau ia bilang bahwa jam 13.00 ia shalat di Mekah, berarti di Mekah baru jam 09.00. Mau shalat apa? Bisa ditertawakan orang.

Itulah gambaran awal bahwa kalau sudah sampai pada tingkatan tertentu sangat rawan; bisa sulit diingatkan lagi. Kita membacakan ayat atau apa saja, tidak mempan lagi. Bagaimana akan mempan, ia merasa sudah bersatu dengan Tuhan?! Ia sudah merasa paling hebat. Obatnya adalah shalat yang benar. Bagaimana terapinya? Kita kaji berikut ini. Kita mulai dari penyakit sulit menerima nasihat.

1. Takbir dan Syahadat

Orang yang sulit menerima nasihat, merasa dirinya paling benar, akhirnya membuat dirinya sombong. Obat yang pertama adalah merenungi kalimat dalam adzan, “Allaahu akbar”, atau dalam takbir ketika shalat. Dengan merenungi “Allaahu akbar”, kita merasakan kebesaran Allah. Kita itu kecil, yang paling besar adalah Allah, yang paling benar adalah Allah. Kita merasakan kebesaran Allah, kita ini kecil dan lemah. Biasanya ini terjadi pada saat takbir dalam shalat. Begitu “Allaahu akbar”, kita rasakan kita ini kecil. Ini yang akan meredam kesombongan, bahwa yang lain itu kecil, termasuk dirinya. Tetapi jangan pula sampai, “Allaahu akbar”, semua kecil, kecuali ia sendiri yang besar. Kalau yang lain dianggap kecil, dirinya pun harus kecil pula.. Jangan sampai, “Ah, jabatan kecil, presiden kecil, atasan kecil, harta kecil”, eh dirinya dianggap besar. Jangan begitu. Termasuk dirinya pun harus kecil juga, sudah tidak ada apa-apanya.

Termasuk juga dalam kalimat adzan sebagai terapi adalah, “Asyhadu an laa ilaaha illallaah”. Maknanya adalah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada kebanarn kecuali Allah. Lalu dilanjutkan, “Asyhadu anna muhammadan rasulullaah”, Muhammad itu adalah utusan Allah, sebagai panutan. Dua-duanya harus menyatu. Kalau “Asyhadu an laa ilaaha illallaah”, maka harus dilajutkan dengan “Asyhadu anna muhammadan rasulullaah”. Artinya, syariat nabi itu harus diikuti, tidak cukup hanya dengan menafikan yang lain kecuali Allah. Tidak cukup hanya “Laa ilaaha illallaah” saja. Yang hanya mengikuti “Laa ilaaha illallaah”, itu adalah orang-orang yang seperti diceritakan di atas, yaitu sebagian para sufi yang salah jalan. Mereka hanya sampai pada kalimat “Laa ilaaha illallaah”; “Muhammadun rasulullaah”-nya dicampakkan. Mereka tidak mengikuti syariat. Padahal siapa yang membawa syariat itu? Rasulullah SAW! “Ia adalah utusan-Ku”, kata Allah, “Kalian tidak akan sampai kepada-Ku sebelum kalian mengikutinya”. Difirmankan oleh Allah dalam surat Ali Imron : 31-32:

clip_image003

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

clip_image004

Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

Kita jangan neko-neko, ikuti bagaimana Rasul beribadah, ikuti bagaimana ajarannya; jangan ngacau! Yang diceritakan itu tidak seluruh aliran sufi, tetapi ada aliran yang berpandangan demikain, “Laa ilaaha illallaah”, yang lainnya fana semua, kecuali Allah. Tetapi jangan hanya sampai di situ, lanjutkan dengan “Muhammadun rasulullah”. Kalau tidak diikuti “Muhammadun rasulullah”, tidak ikut rasul lagi, kacau itu! Ada lagi yang berpandangan, biasanya ini ilmuwan, yang hebat itu adalah para “Filosof”. Karena ia berhasil “menggali ilmu” dengan pemikiran-pemikirannya; sedang para nabi itu mendapatkannya langsung dari Tuhan. Pemikiran ini juga menjalar di kalangan IAIN.

Jadi, takbir dan kalimat syahadat ini jika diresapi dengan benar, maka tidak akan terjadi hal-hal yang seperti diterangkan di atas.

2. Wudhu

Wudhu ini menggambarkan bahwa manusia itu bukan makhluk suci. Manusia itu adalah makhluk biasa yang perlu bersuci terus. Jadi, jangan sok jago. Kita ini adalah makhluk yan penuh dosa, sehingga perlu terus disucikan. Kita tidak akan pernah sampai pada, “Ah, saya kan sudah suci, tidak perlu wudhu lagi”. Wow, tidak ada yang seperti itu. Kita ini makhluk yang perlu bersuci, karena kita ini makhluk yang selalu ada kesalahan. Kalau orang sudah merasa dirinya benar, merasa dirinya suci, merasa sudah tidak berbuat salah; maka ia merasa tidak perlu wudhu lagi kalu shalat. Ya kita tidak wudhu sebelum shalat tidak apa-apa, asal tidak batal wudhunya. Kita ini tidak pernah menjadi makhluk yang 100% suci, bahkan sampai mati pun harus tetap wudhu. Orang yang meninggal itu kan dimandikan dan diwudhukan. Wudhu ini menunjukkan bahwa kita ini penuh dosa dan salah. Kita bukan orang yang hebat. Kita adalah orang yang bersalah, jadi terus berwudhu. Tidak ada istilah orang mencapai titik suci yang sudah top, kecuali nanti kalau sudah mati.

Terapi wudhu menyadarkan kita bahwa manusia itu adalah makhluk yang berdosa dan bersalah yang harus dibersihkan dan disucikan. Tidak ada orang yang lepas dari dosa. Jadi, jangan sok hebat. Allah berfirman di dalam surat An Nuur : 21:

clip_image005

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Manusia itu tidak akan pernah bisa menghidndari godaan setan, tidak akan pernah tidak berbuat doa; selama-lamanya (abadan). Kalau bukan karunia Allah, manusia itu tidak akan bisa terhindar dari godaan setan. Jadi, tidak usah sok jago! Kita tidak akan pernah lepas dari godaan, kecuali karena karunia Allah. itulah rahmat Allah.

Kalau kita meresapi ayat itu, kita merasa bersalah terus. Orang yang merasa bersalah akan mudah menerima nasihat. Coba kalau kita merasa benar? Sulit menerima nasihat. Kalau kita merasa bersalah, “Ya Allah, tolonglah saya dari kesalahan ini, jauhkan saya dari salah dan dosa” Makanya biasakan kalau sedang berwudhu, berdoa dalam hati, “Ya Allah, bersihkan aku dari dosa dan kesalahan”. Kita berdoa, “Ya Allah, bersihkan tanganku, mulutku, mukaku, hidungku, telingaku, kakiku, kepalaku”. Ini cenderung akan membuat kita menjadi orang yang terus berusaha mencari kebenaran. Kalau mati, maka tidak perlu lagi mencari kebenaran, kita sudah bertemu dengan kebenaran. Kebenaran itu ujungnya adalah kematian. Dalam Al Qur’an dinyatakan bahwa beribadahlah sampai mati. Ibadah itu sampai mati. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak akan pernah bisa lepas dari ibadah, sampai mati! Allah berfirman di dalam surat Al Hijr : 99:

clip_image006

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Mengapa itu dikatakan “keyakinan”? Keyakinan itu adalah kematian, karena dengan kematian itu kebenaran yang 100% akan ditemui. Kalau sudah mati, kita baru tahu mana yang benar. jadi, jangan pernah mengatakan, “Saya sudah mendapatkan semua kebenaran”. Pemilik kebenaran itu adalah Al Haq, Allah SWT. Kalau kita baru pada tingkatan mendekati kebenaran. Jadi, sebelum mati kita harus terus beribadah.

3. Doa Iftitah

Doa iftitah bisa sebagai terapi penyakit sulit menerima nasihat, yaitu doa iftitaf, “Allaahumma ba’id baini wa baina khothoyaya kamaa ba’adta bainal masyriki wal maghribi”, Ya Allah jauhkanlah antaraku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat.

Kita perlu juga berganti-ganti bacaan dalam doa iftitah, karena nabi pun melakukannya. Karena, masing-masing bacaan itu mempunyai terapi sendiri-sendiri. Jadi, jangan sampai kalau sudah membaca “Inni wajahtu…”, terus itu-itu saja yang dibaca. Demikian pula kalau sudah membaca, “Allaahumma ba’id…”, itu terus yang dibaca. Jadi, harus berganti-ganti bacaan, supaya ada variasinya. Bisa saja terapi adzan tidak sembuh, terapi wudhu tidak sembuh; maka terapi iftitah ini yang dilakukan. Atau, terapi adzan sembuhnya baru 10%, terapi wudhu 10%; maka dengan terapi iftitah, sembuhnya bertambah lagi. Penyakit yang sudah berlapis, penyembuhannya berlapis juga.

Doa iftitah itu kita baca setiap hari. Itu menunjukkan bahwa agar kita tetap dalam jalan Allah terus, “Ya Allah, bersihkan aku dari dosa-dosaku, sebagaimana Engkau bersihkan pakaianku dari kotoran’. Hal ini menunjukkan bahwa kita merasa diri kita ini kotor, jadi perlu dibersihkan terus. “Ya Allah, bersihkan aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air yang dingindan salju”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak pernah terlepas dari kesalahan. Jadi, perlu variasi dalam berdoa. Meresapnya juga berbeda. Jangan sampai, kalau sudah senang “jengkol”, jengkol terus; sekali-kali ganti “pete”. Rasanya berbeda.

Doa itu menunjukakn bahwa kita itu tidak bersih. Orang kalau sudah merasa bersih, gawat, berbahaya; tidak mau menerima kebenaran. Contohnya adalah iblis, ia merasa tidak pernah salah, merasa paling benar. Tetapi kalau kita, akan selalu mengucapkan, “Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahanku, sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat”. Dengan begitu kita merasa bersalah terus, ingin membersihkan diri terus; akan muncul kesediaan menerima kebenaran dari siapa pun.

4. Al Faatihah

Terapi yang berikutnya adalah membaca Al Faatihah, terutama ayat:

clip_image007

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Permohonan ini kita mintakan pada setiap shalat, dalam satu hari minimal kita baca 17 kali. Kalau itu tidak kita baca, batal shalat kita. Mengapa kita selalu minta petunjuk dan ini wajib kita baca? Supaya kita terus diberi petunjuk itu. Ini suatu ikatan yang wajib. Kalau itu tidak dibaca, berarti kita menganggap, “Saya kan sudah ada pada jalan yang lurus, ngapain minta lagi?”. Orang-orang yang meminta petunjuk itu berarti ia merasa dalam jalan yang menyimpang, tidak on track. Kalau merasa sudah ada di jalan yang lurus, tidak minta petunjuk lagi, ayatnya langsung dari membaca: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”, terus “Aamiiin”.

Ayat ini sering dipakai sebagai dasar oleh orang-orang non muslim dalam berdebat, “Mengapa kalian minta petunjuk? Berarti kalian tidak pernah benar?! Berarti kalian sesat terus?!”. Dengan memohon petunjuk terus menerus itu, maka akan terjadi peningkatan dari 2%, 3%, dst. Makna Ihdinash shiroothal mustaqim ini ada dua, yaitu kalau sudah ada di jalan yang lurus, agar tetap berada di jalan yang lurus. Atau, makna lainnya adalah bila kita keluar dari jalan itu, maka bisa diluruskan kembali dan tetap di jalan yang lurus.

Setelah minta petunjuk di jalan yang lurus, dilanjutkan dengan “Ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhoolliin”. Siapa orang yang dimurkai (maghdhub) itu? Ialah orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mengingkari para rasul. Siapa itu? Kaum Yahudi. Mereka mengingkari kebenaran dan mengingkari para rasul. Bahkan bukan hanya mengingkari, tetapi juga membunuhnya. Dalam riwayat diterangkan bahwa lebih dari 70 nabi yang dibunuh. Nabi saja dibunuhnya, apalagi hanya orang-orang Islam biasa. Mereka membunuh manusia yang bukan golongannya itu seperti membunuh binatang saja, tidak ada bedanya dengan jagal kambing. Tiap bulan haji kita kan menjadi jagal kambing. Orang Yahudi itu menganggap bahwa selain Yahudi itu adalah “kambing-kambing”. Mencuri di antara mereka adalah dilarang. Berzina di antara mereka dilarang. Membuat riba sesama mereka diharamkan. Tetapi kepada orang lain tidak dilarang. Mereka membunuh orang-orang Libanon itu seperti membunuh kambing saja. Jadi, terhadap mereka itu tidak ada istilah perdamaian. Kita tidak bisa mengirim pasukan perdamaian ke sana, tetapi yang dikirim adalah pasukan perang! Tidak bisa “Mari kita desak PBB untuk mengirimkan pasukan perdamaian”, eeeiiii…; tidak bisa begitu. Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa kalau Israel kalah, itu salah satu tanda kiamat. Israel sekarang baru bisa “dipukul mundur”. Mereka dendam sekali terhadap Hezbollah, karena yang bisa memukul mundur mereka itu hanya Hezbollah. Jadi, ini bukan sekedar ditawannya dua orang tentara Israel, tetapi ini adalah dendam lama. Jadi, jangan gencatan senjata bagi kita, senjata kita dilucuti; tetapi mereka tidak. Mari kita berdoa, “Ya Allah, jangan masukkan aku ke dalam golongan orang yang Engkau murkai”, yaitu orang-orang yang menolak kebenaran dan mengingkari ayat-ayat Allah, mengingkari para rasul.

Ternyata kita selain meminta dijauhkan dari orang yang “maghdhub”, juga dijauhkan pula dari orang yang tersesat (dhollin). Orang yang sesat ini bukan menentang, bisa jadi karena berlebihan. Sesat itu muncul gara-gara berlebihan. Berlebihan dalam agama dilarang, dapat menjadikan orang jadi sesat. Orang Nasrani itu berlebihan. Sebenarnya mereka bagus, tetapi berlebihan. Karena begitu contanya kepada Nabi Isa, mereka menjadikannya Tuhan. Allah berfirman di dalam surat An Nisaa’: 171:

clip_image008

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Berlebihan dalam mengharamkan, misalnya, akhirnya menjadi kacau. Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, kami ingin menjadi orang yang tidak makan daging, kami tidak akan kawin, kami akan beribadah terus”. Keinginan itu dilarang oleh Rasulullah. Ini berlebihan. Ini dilakukan oleh kaum nasrani. Niatnya sih bagus, ingin mensucikan diri, ingin terus beribadah; karena kalau mempunyai isteri pasti akan terganggu, kalau mempunyai anak apa lagi. Akhirnya mereka di biara saja. Niatnya bagus, tetapi ujungnya menjadi mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah. Ini menyimpang. Kalau ia sudah “pengin banget”, ngacau jadinya. Kita tidak boleh demikian.

Meskipun ayat di atas menyebut ahli kitab, itu berlaku juga untuk seluruh manusia. Kita pun dilarang berlebih-lebihan dalam agama. Mungkin semula tidak menentang ayat, ingin melaksanakan ayat, tetapi berlebih-lebihan, akhirnya kacau; seperti biarawati dan biarawan. Maksudnya mau mengabdi kepada Allah, tetapi berlebih-lebihan. Jadi, kita harus hati-hati. Kita ingin mencari kebenaran, tetapi tidak ingin menyimpang dari kebenaran itu. Kita tidak menolaknya, dan tidak pula menyimpang seperti orang Nasrani, atau juga sebagian golongan “sufi”, menggunakan tarekat-tarekat. Niatnya sih bagus, ingin dekat kepada Allah, tetapi karena berlebihan, menjadi sesat.

Kalau kita menghayati ayat :

clip_image009

insya Allah kita akan tahu jalan. Kalau kikta menyimpang, Allah akan memberikan petunjuk, entah melalui orang lain atau apa saja. Kalau menyimpang, akan ditegur oleh hamba-hamba Allah, sehingga selalu berada dalam on track. Itulah gunanya:

clip_image010

nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ini mencakup seluruh orang beriman. Saling mengingatkan. Kalau kita selalu membaca:

clip_image007[1]

kalau kita salah, Allah tidak akan menegur, “Hei, kamu salah!”. Tidak demikian. Ada hamba Allah yang lain yang akan mengingatkan. Misalnya, seseorang shalat istikharah supaya mengetahui ini benar atau salah, Allah tidak akan langsung memberi petunjuk, “Hei, ini salah!”. Tidak begitu. Tetapi bisa melalui orang lain. Berdasarkan ayat tersebut, maka kita harus melakukan al haq dulu, baru melakukan kesabaran. Kalau kita tidak melakukan tawashau bilhaq, kita termasuk lafi khusrin, termasuk golongan yang merugi. Makanya kalu kita sudah berdoa, kalaupun kita menyimpang, Allah akan mengingatkan.

Sebenarnya setiap penyimpangan itu Allah pasti mengirim hamba-hamba-Nya untuk mengingatkan. Kalau ada ustadz sudah mulai sombong, ada yang mengingatkan. Kalau Nabi Muhammad, Allah yang langsung mengingatkan. Nabi Musa bersalah, karena merasa yang paling hebat, ada yang mengingatkan, yaitu Nabi Hidr. Kata Nabi Hidr, “Hei Musa, siapa yang paling tahu terhadap ilmu Allah?”. Kata Nabi Musa, “Sepertinya saya”. Oh tidak, masih ada hamba Allah yang lain. Jadi, kalau kita sudah berdoa, kalau kita salah, insya Allah akan ada hamba-hamba Allah yang lain yang akan memberikan peringatan.

Wallaahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: