• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

3 Juni

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 3 Juni 2007


TAFSIR SURAT AL BAQARAH : 62 (Lanjutan)

Ustadz : Sambo

clip_image002

Pada kajian yang lalu kita telah membahas surat Al Baqarah ayat 62. Ada beberapa catatan yang harus kita pahami tentang ayat ini, karena ayat ini sering kali dijadikan dasar oleh kelompok tertentu yang beranggapan bahwa semua agama itu pada hakekatnya sama selama mereka beriman kepada Allah dan hari kiamat. Pada minggu yang lalu telah kita kaji 3 catatan tentang ayat ini, yaitu:

1. Ayat ini tidak menjelaskan atau menunjukkan kesetaraan orang-orang beriman dengan orang Yahudi, Nasrani, dan Shabiin dalam segala hal.

Mereka akan sama dalam konteks kalau mereka beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal ini didukung oleh surat Ali Imron : 64:

clip_image003

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Selama kita beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak dipandang dari mana ia lahir, apakah dari rahim seorang yang beriman, seorang Yahudi, seorang Nasrani atau seorang Shabiin. Pada hakekatnya, dengan demikian, adalah sama, yaitu sama-sama hamba Allah dan sama-sama disebut sebagai orang yang beriman.

2. Ayat ini ditujukan kepada umat sebelum Nabi Muhammad datang

Berdasarkan asbabun nuzulnya ayat ini ditujukan kepada umat sebelum Nabi Muhammad datang. Ayat ini turun untuk menjawab pertanyaan sahabat, yaitu Salman Al Farisi, bagaimana dengan umat-umat sebelum Nabi Muhammad datang, apakah akan masuk surga? Sebelum Nabi Muhammad datang, ada umat-umat Nabi sebelumnya, yaitu kaum Yahudi sebagai umat Nabi Musa yang menyimpang, orang Nasrani sebagai umat Nabi Isa yang menyimpang, dan orang Shabiin yaitu umat Bani Nuh dan Nabi lain yang menyimpang.

3. Ayat yang satu tidak bisa dilepaskan dari ayat yang lain

Di antara umat-umat Nabi sebelum Nabi Muhammad itu tidak semuanya menyimpang. Dengan demikian kalau mereka tetap beriman kepada Allah dan hari akhir, maka mereka tetap masuk di dalam surga. Tetapi setelah Rasulullah datang, maka ayat ini harus dipahami dalam konteks yang lain. Setelah Nabi Muhammad datang, maka tidak ada alasan mereka tidak beriman kepada beliau. Setelah Nabi Muhammad datang, maka berimannya itu ditambah lagi, yaitu beriman pula kepada Nabi Muhammad, karena Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi. Kalau ayat ini tidak dipahami demikian, berarti kita akan beriman kepada sebagian ayat dan ingkar terhadap sebagian besar ayat yang lain. Bagaimana mungkin kita akan memegang pengertian satu ayat, tetapi kita melanggar ribuan ayat yang lain. Kita lihat dalam surat Al Hadiid : 28-29:

clip_image004

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

clip_image005

(Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Orang yang beriman itu berdasarkan ayat ini diperintahkan untuk beriman kepada Nabi Muhammad (rasul). Kalau ada orang yang beriman sebelum Nabi Muhammad datang, kemudian ia beriman pula kepada Nabi Muhammad ketika sudah datang, maka pahalanya dua kali. Itulah kehebatan mereka, karena mereka berat: sudah beriman kepada nabi sebelumnya disuruh lagi beriman kepada Nabi Muhammad. Mereka harus menanggalkan simbol-simbol yang dulu mereka pegang.

Dalam surat An Nisaa’ : 136, juga demikian, bahwa orang yang beriman itu ditujukan kepada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beriman pula kepada Nabi Muhammad (rasulullah SAW):

clip_image006

Wahai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya(Nabi Muhammad) dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya (Al Qur’an), serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Di dalam Al Qur’an, kalau ada kata tunggal rasul (ar rasuul), yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW, sama juga dengan kata Al Kitaab, yang dimaksud adalah Al Qur’an. Ayat ini ditujukan kepada umat sebelum rasulullah agar juga beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan juga disuruh beriman kepada kitab yang diturunkan kepadanya, yaitu Al Qur’an. Dalam lanjutannya dijelaskan bahwa barang siapa yang kafir terhadap kitab-kitab (termasuk Al Qur’an) dan kafir terhadap para rasul (termasuk Nabi Muhammad SAW), maka mereka disebut sebagai kaum yang sesat. Jadi, begitu Nabi Muhammad datang dan Al Qur’an datang, mereka harus beriman kepada keduanya, Makanya ayat 62 surat Al Baqarah tidak bisa dilepaskan dari konteks ayat-ayat yang lain.

Dalam surat An Nisaa’ : 150-152 juga disebutkan:

clip_image007

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),

clip_image008

merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

clip_image009

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini menerangkan bahwa sebagian umat dulu itu hanya iman kepada nabinya saja, tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad. Mereka memisah-misahkan antara nabi yang satu dengan nabi yang lain. Mereka beriman kepada Nabi yang satu tetapi ingkar kepada nabi yang lain. Oleh Allah dikatakan bahwa orang yang seperti ini adalah orang yang sesat sejauh-jauhnya, disebut sebagai kafir haqqan. Dengan demikian umat Yahudi sekarang, kaum Nasrani sekarang atau Shabiin yang ada sekarang ini, kalau tidak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka adalah kafir haqqan. Jadi tidak boleh dipisahkan antara nabi yang satu dengan nabi yang lain.

4. Ayat ini berlaku khusus

Penjelasan sebagaimana disampaikan di atas, oleh mereka dikatakan, ”Itu kan penafsiran kalian?!”, atau mereka katakan, ”Masalah ini kan ikhtilaf”. Menurut anggapan mereka, ayat ini berlaku umum, tidak berlaku khusus (takhsis). Menurut mereka bukan ayat 62 surat Al Baqarah yang dtafsirkan oleh ayat lain, tetapi ayat lain yang harus ditafsirkan sesuai dengan konteks ayat 62 (Surat Al Baqarah). Mereka bantah dengan mempertanyakan mana dalilnya bahwa ayat 62 itu harus diikat (ditafsirkan) oleh ayat yang lain. Sebenarnya ada hadits yang menjelaskan tentang hal ini, sayangnya penjelasan hadits ini mereka tolak juga. Ada hadits yang menyatakan, ”Tidak seorang pun kaum Yahudi, kaum Nasrani atau siapapun yang tidak beriman kepadaku, melainkan mereka akan masuk ke dalam neraka”. Memang dalam ayat secara khusus tidak ada yang menjelaskan, tetapi ayat yang satu menafsirkan ayat yang lain.

Orang yang berpaham seperti di atas adalah orang Islam juga. Kalau mereka berpandangan seperti itu, mereka menggunakan logika, maka kita pun harus menggunakan logika untuk mematahkan argumentasinya dan didukung oleh ayat-ayat yang lain. OK-lah, tidak perlu menggunakan ayat yang lain, kita khususkan pengertiannya pada ayat 62 surat Al Baqarah; walaupun ada ayat lain yang membantahnya. Pertanyaan yang kita ajukan adalah ”Benarkah orang Yahudi, Nasrani, atau umat lain, imannya kepada Allah semata?”. Orang Yahudi ternyata tidak beriman kepada Allah semata, demikian pula umat Nasrani, tidak hanya beriman kepada Allah, tetapi juga beriman kepada Yesus. Yang seperti itu namanya bukan sebagai orang yang beriman, tetapi sebagai orang yang musyrik. Begitu juga orang Budha, mereka menjadikan Budha sebagai Tuhan. Orang Yahudi dan Nasrani sekarang ini tidak bisa dikatakan sebagai orang yang beriman, tetapi sebagai orang yang musyrik; karena mereka beriman kepada selain Allah. Dalam surat Al Maidah : 72-73 dijelaskan untuk menguji keimanan umat-umat sekarang:

clip_image010

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Umat Nasrani sekarang beriman kepada Yesus, yaitu Isa putera Maryam. Mereka oleh Allah disebut sebagai orang kafir. Kalau dicari sekarang ini mana ada orang Nasrani yang tidak menjadikan Yesus sebagai Tuhan? Tidak ada! Berarti mereka termasuk orang yang kafir, walaupun mereka juga mengaku beriman kepada Allah.

clip_image011

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Jadi, umat-umat yang ada sekarang ini seperti Yahudi dan Nasrani, tidak bisa dikatakan beriman kepada Allah semata, tetapi mereka sekarang ini mencampur imannya dengan iman pula kepada yang lain. Maka mereka termasuk orang-orang yang kafir.

Kalau dilihat dari amal-amalnya, benarkah amal sholeh mereka? Apakah mereka juga shalat? Dulu, orang Yahudi dan Nasrani itu juga shalat. Sekarang mereka tidak shalat lagi. Yang dinamakan amal sholeh itu ada dua macam, yaitu berbuat kebaikan karena Allah dan meninggalkan larangan Allah. Kalau ditanyakan sekarang ini benarkah orang Yahudi dan Nasrani menjalankan semua perintah karena Allah?

Tentang mereka dulu juga shalat, banyak ayat yang menjelaskan tentang hal ini, misalnya dalam surat Al Baqarah : 83:

clip_image012

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Bani Israil dulu juga shalat dan membayar zakat. Apakah mereka sekarang juga shalat? Memang ada aliran KOS (Kristen Ortodok Syiria), mereka shalat seperti umat Islam: memakai sajadah, ada bacaan-bacaannya; tetapi itu bukan shalat sebagaimana diajarkan oleh Nabi. Ini adalah fakta, meskipun mereka berkata bahwa mereka juga beriman dan beramal shaleh.

Jadi, kesimpulannya, ayat ini dikatakan sebagai ayat ”kontroversi”, karena ada sebagian umat Islam sendiri yang menafsirkannya sebagai kesamaan umat-umat Islam, Yahudi dan Nasrani serta umat-umat beragama lain. Ini sangat membahayakan bagi umat Islam yang belum paham betul tentang ayat ini dan bisa membahayakan imannya. Kalaupun mereka tetap menyatakan bahwa semua agama itu sama, maka jurus yang terakhir untuk mematahkannya adalah kalau begitu Anda sebagai penganjurnya dipersilahkan pindah agama. Beranikah? Orang Yahudi dan Nasrani itu mengaku berbeda dengan umat Islam (beriman). Beranikah penganjur-penganjur yang menyatakan bahwa semua agama itu sama untuk pindah agama dari Islam ke yang lain? Kalau Islam, Yahudi atau Nasrani itu sama, maka sebenarnya tidak menjadi maslah mau menganut yang mana saja. Permasalahannya adalah beranikah mereka menyebut dirinya Nasrani atau Yahudi? Kalau mereka tidak mau, sebenarnya dalam hatinya menyatakan tidak sama. Kalau berani pindah agama, itu konsisten antara ucapan dengan kenyataan. Kalau mereka berani, berarti mereka bukan Islam lagi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: