• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

7 Januari

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 7 Januari 2007

POLIGAMI (4)

Ustadz : Sambo

clip_image001

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kajian kita tentang masalah poligami untuk yang keempat kalinya. Pada waktu yang lalu kita telah membahas alasan-alasan yang dikemukakan baik oleh dua kelompk ektrem, yaitu kelompok yang menolak mentah-mentah 100% poligami dan kelompok yang menerima 100% tanpa melihat persyaratan-persyaratannya secara 100%. Pada waktu yang lalu telah kita bahas bahwa poligami itu adalah mubah bersyarat, artinya boleh dilakukan dengan berbagai macam syarat. Mubah ini bisa naik atau turun, tergantung pada kondisi orang tersebut. Kalau kondisinya dimungkinkan, maka statusnya bisa sunah bahkan wajib. Tetapi pada kondisi yang lain mubdah ini bisa turun menjadi makruh bahkan haram untuk dilakukan. Kini kita akan membahas syarat-syarat poligami, sehingga jangan sampai poligami ini tidak menjadi kemudharatan bagi yang melakukannya.

Islam itu datang bukan untuk melegalkan poligami, tetapi Islam datang mengatur poligami ini agar jangan sampai hawa nafsu yang dimiliki oleh laki-laki dibiarkan begitu saja, tanpa ukuran-ukuran. Dengan demikian apabila syarat-syarat poligami itu dipenuhi, maka hal itu tidak akan membuat kerusakan atau kemudhorotan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Yang akan kita bahas adalah syarat poligami dan pertimbangan lain untuk berpoligami. Bisa saja seseorang itu secara syarat sudah memenuhi untuk berpoligami, tetapi ada pertimbangan lain yang membuat itu tidak dilakukan. Syarat itu bersifat universal, artinya bia beralku kapan saja dan di mana saja, sedangkan pertimbangan itu bersifat perorangan. Misalnya mencuri, setelah memenuhi syarat hukumnya, maka orang itu dipotong tangannya; tetapi bila orang itu baru pertama kali mencuri, misalnya, hakim bisa saja memutuskan tidak memtong tangannya karena berbagai macam pertimbangan. Bisa saja, misalnya, karena orang itu sudah taubat atau ia mengembalikan barangnya atau dimaafkan atau yang lainnya, maka dengan pertimbangan yang demikian itu bisa saja mengakibatkan ia tidak dipotong tangannya. Atau ternyata a mencuri itu karena kelaparan, terpaksa, itu bisa menjadi pertimbangan untuk tidak dipotong tangannya. Sama saja hal ini dengan poligami, bisa saja seseorang sudah memenuhi syarat untuk poligami, tetapi ternyata ada pertimbangan lain sehingga itu tidak diberlakukan pada dirinya (tetapi ia bukan termasuk kelompok orang yang Pasutri, pasukan suami takut isteri!).

Pertimbangan itu ada beberapa hal:

  1. Pertimbangan manfaat-mudhorot
  2. Pertimbangan filosofis perkawinan: untuk apa menikah itu, menikah lagi itu untuk apa?
  3. Pertimbangan pertanggungjawaban baik di dunia maupun di akhirat.

Makanya bila seseorang mau menikah lagi, selayaknya berkonsultasi dulu tentang poligami itu, agar jangan sampai poligami yang dilakukan itu membawa dampak-dampak negatif. Kalau jaman dulu, mengapa para isteri tidak protes terhadap keputusan ini? Karena yang melakukan poligami itu telah memenuhi syarat dan di samping itu tidak timbul ekses-ekses negatif yang muncul; sehingga tidak ada masalah di masyarakat. Sekarang mengapa poligami itu banyak ditentang para wanita, karena banyak orang yang melakukan poligami saat ini secara umum tidak memperhatikan syarat dan pertimbangan-pertimbangan itu. Yang terjadi adalah ekses negatifnya lebih besar daripada ekses positifnya. Akhirnya yang berkembang di masyarakat itu bahwa poligami itu negatif.

Syarat poligami itu ada 2 : (1) Mampu, dan (2) Bisa berbuat adil.

1. Mampu

Dalam bahasa agamanya mampu itu adalah istitho’ah. Sama seperti haji, misalnya, syaratnya adalah mampu, seperti dijelaskan dalam surat:

clip_image002

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup (mampu) mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Menikahpun pun syaratnya adalah mampu. Nabi bersabda, “Yaa ma’syaral sabaab, wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mau menikah, maka ia harus mempunyai kemampuan terlebih dahulu”.

Syarat tentang mampu ini terbagi lagi dalam empat bagian, yaitu: (a) mampu harta, (b) mampu fisik, (c) berilmu, dan (d) Mampu dalam kepemimpinan.

a. Mampu dari segi harta

Mampu yang pertama adalah kemampuan dari segi fisik (harta). Artinya, apabila ia akan menikah lagi, maka syarat pertamanya adalah apakah ia mampu dari segi harta untuk memenuhi kebutuhan para isteri dan anak-anaknya. Kalau satu isteri atau satu anak saja sudah kerepotan untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, sudah heungap, tarik nafasnya sudah jungkir balik, kalau anak makan isteri tidak makan; maka kalau menikah lagi ini tidak memenuhi syarat (kecuali kalau menikahnya dengan janda kaya, barang kali akan menjadi lain!). Kita akan lihat nanti ayat-ayat yang mendasarinya. Pertama, kita lihat dalam surat An Nisaa’ : 24-25:

clip_image003

dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kita harus punya harta dulu untuk kawin itu, bukan untuk berzina.

clip_image004

Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sebelum menikah itu harus punya harta, karena harus memberi mahar, menafkahi, dll, sehingga harus mampu dari segi harta. Ini untuk menjaga agar jangan sampai orang yang tidak mampu menikah, apalagi menikah lagi; bisa berantakan rumah tangganya. Makanya ini adalah syarat mutlak. Jangan sampai memberi makan satu isteri dengan beberapa anak saja empot-empotan, mau menikah lagi. Dalam surat Al Baqarah : 233, Allah berfirman:

clip_image005clip_image006

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dalam surat Ath Thalaq : 6 Allah berfirman:

clip_image007

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.

Yang seperti ini: rumah, pakaian, dan kebutuhan lain; harus dipenuhi semuanya. Terlepas nantinya perempuan yang akan dinikahinya itu mampu dan tidak perlu dibiayai; laki-laki tetap harus memiliki syarat seperti itu.

b. Mampu dari segi fisik (lahiriah)

Ia juga juga harus mampu menafkahi batinnya. Kalau satu isteri saja sudah loyo, maka kalau mau beristeri dua atau lebih akan kesulitan. Sudah umur 70 tahun, misalnya, sudah bangkotan, kalau didorong sedikit saja sudah jatuh, ingin menikah lagi; yang seperti ini tidak memenuhi syarat untuk poligami. Artinya, untuk melayani banyak isteri itu ia mesti mampu secara fisik, supaya jangan sampai mendzaliminya. Gunanya syarat-syarat ini adalah supaya tidak mendzalimi isteri. Kalau kepada yang muda, OK, tetapi kepada yang muda tidak; itu tidak bisa berbuat adil namanya. Kalau kepada yang muda pandangan hidup, tetapi kepada yang muda perjuangan hidup, sulit untuk bisa berbuat adil. Berarti tidak memenuhi syarat untuk menikah lagi. Kepada keduanya harus on. Jadi, tidak gampang menikah lagi itu. Tetapi karena banyak orang tidak mengerti hukum Islam, banyak orang menolak hukum Islam. Sekarang ini terjadinya kerusakan dari poligami ini, karena syarat-syaratnya tidak dipenuhi, karena yang tidak mempu melakukannya. Kalau hukum Islam tegak, yang menikah lagi tetapi tidak mampu itu ditangkap, dipenjarakan. Kalau sekarang tidak demikian, banyak orang yang tidak tahu dan tidak mampu; menikah lagi, akhirnya rusak. Jangankan tentang poligami, yang pokok-pokok saja, seperti shalat, masih banyak yang tidak tahu ilmunya.

Jadi, orang itu kalau menikah harus bisa memberi nafkah batin, berarti ia harus mempunyai fisik yang mampu. Orang yang menikah lagi ternyata tidak mampu memberi nafkah batin, berarti ia tidak mampu. Secara implisit dijelaskan dalam surat Al Baqarah : 187:

clip_image008clip_image009

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma`af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Apa yang dimaksud dengan pakaian? Secara impilisit artinya ini adalah masalah sex. Bahasa kasarnya: “Isterimu bisa kau pakai, dan kau bisa dipakai isterimu”. Di sini ada makna timbal balik: tidak hanya isteri saja yang dipakai, tetapi suami pun bisa dipakai isterinya. Orang boleh saja isterinya empat, misalnya, semuanya adalah pakaian bagi laki-laki itu, dan laki-laki itu pakaian bagi isteri-isterinya. Jadi, boleh wanita itu “minta” kepada suaminya. Artinya, kepuasan sex itu harus bersama-sama antara suami-isteri. Konteks ayat itu adalah masalah sex, tetapi itulah indahnya Allah menyampaikan sesuatu, diberi istilah “pakaian”. Dalam surat Al Baqarah : 228:

clip_image010

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Isteri itu mempunyai hak yang sebanding dengan kewajibannya. Apa kewajibannya? Melayani. Ini seimbang antara hak dan kewajibannya. Adalah tidak fair ia harus melayani suami, sementara suami tidak melayaninya. Memang yang terjadi lebih banyak suami yang membutuhkannya. Jadi, isteri tidak mengapa “meminta” kepada suami, jangan hanya bapaknya saja minta. Kalau malu memintanya, baca saja ayatnya “Nisaaukum libasu lakum ….” yang kencang! Agar suami mengerti.

c. Mampu dari segi ilmu

Orang kalau mau menikah lagi harus berilmu, harus mengerti: bagaimana harus berbuat adil, termasuk ilmu tentang keluarga, ilmu tentang memimpin keluarga. Ia harus mengerti bagaimana cara membina keluarga. Ini bukan ilmu seperti Matematika, Fisika, dll.

Dalam fikih dinyatakan bahwa semua amal itu dimulai dengan ilmu. Kita tidak akan baik mengerjakan shalat, kalau tidak mempunyai ilmu. Kita tidak akan bisa berbuat baik dalam poligami, kalau tidak punya ilmu. Kita lihat dalam surat Al Isro’ : 36:

clip_image011

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Jangan melakukan sesuatu kalau tidak mempunyai ilmunya, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Kalau kita berpoligami tidak menerti ilmunya, akan dimintai pertanggungjawabannya. Termasuk ilmu menaklukkan isteri, harus punya. Sabda nabi bahwa kalau suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Artinya, kalau suatu urusan dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, maka akan hancur. Kalau poligami dikerjakan oleh orang yang tidak mengerti tentang ilmunya, maka akan rusak. Bukan hanya merusak anak isterinya, tetapi juga merusak dirinya. Jadi, tidak gampang poligami itu. Islam memberikan syarat-syarat itu supaya tidak menimbulkan mudhorot, tidak membuat rusak.

d. Mampu dari segi kepemimpinan

Di samping itu orang yang mau menikah lagi haru mampu dalam memimpin keluarga, memimpin anak-isteri. Misalnya, dengan isteri satu orang dan anak beberapa saja, rumah sudah berantakan, anaknya ke mana, isterinya ke mana, tidak terurus; maka kalau mau menikah lagi tidak memnuhi syarat. Apalagi kalau ditambah dengan yang lain, akan semakin sulit untuk mengurusnya, tidak akan mampu. Dalam kondisi sekarang ini tidak mudah mempimpin keluarga: isteri dan anak. Kalau poligami, anak-anak atau isteri kita bisa diteror orang, “Wow, bapak kamu begini-begitu…”. Kita sulit merdamnya, memimpin supaya anak dan isteri kita supaya tetap tegar. Poligami itu dalam kondisi saat ini menjadi kondisi psikologis bagi keluarga, menjadi beban psikologis. Bisakah kita menanganinya? Jangan hanya enaknya saja, sementara anak dan isterinya tersiksa, dipoyokin di sekolah, misalnya. Allah berfirman dalam surat An Nisaa’ : 34:

clip_image012

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Kita itu adalah pemimpin, mengarahkan rumah tangga untuk berjalan. Kalau memimpin satu isteri dengan beberapa anak saja sudah amburadul, malah ingin nambah isteri lagi; akan tambah amburadul nantinya. Makanya orang yang seperti ini oleh hakim dilarang menikah lagi. Tetapi jangan juga ibui-ibu berpikir, “Kalau begitu supaya tidak menikah lagi, kita bikin kacau rumah tangga kita”. Jangan seperti itu. Karena tanggung jawab anak isteri itu bukan hanya tanggung jawab dunia saja, termasuk juga tanggung jawab akhirat. Apa tanggung jawab akhirat? Dijelaskan dalam surat At Tahriim : 6:

clip_image013

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Jangan sampai anak-isteri kita itu masuk neraka. Itu harus dipertanggungjawabkan. Dengan isteri satu saja sudah mengarah kepada neraka, ini malah mau menikah lagi. Yang terjadi saat ini adalah seperti itu, memimpin satu rumah tangga saja tidak becus, menikah lagi; makanya keluarganya berantarakan. Jadi, tidak mudah untuk menyelesaikannya. Orang yang mampu menikah lagi itu adalah orang pilihan : kualitas imunya, kualitas hartanya, kualitas fisiknya. Makanya kalau kita pelajari pada jaman nabi dulu poligami itu tidak pernah ada masalah. Mengapa? Karena yang melakukannya adalah orang pilihan. Kalau kita? Boro-boro orang pilihan yang melakukannya, akhirnya banyak masalah yang timbul.

2. Syarat Adil

Dari segi keadilan, itu bukan sekedar adil-adilan; ada beberapa bagian juga: (a) adil dalam hal materi, nafkah lahir: rumah, pakaian, makanan, kesehatan, dlsb.(adil itu bukan berarti sama, tetapi asas proporsionalitas. Isteri umur 60 tahun dengan isteri umur 20 tahun akan berbeda urusan bersoleknya; tetapi bagi yang tua mempunyai kelebihan karena mengurus anak banyak bisa saja mendapatkan bagian lebih), (b) Adil dari segi batin : giliran. Kalau adil yang pertama relatif mudah dibandingkan adil yang kedua. Justru yang sering terjadi adalah ketidakadilan dalam hal nafkah batin. Inginnya lebih suka berlama-lama di yang muda, tetapi ternyata yang sering itu tinggal di isteri yang tua. Orang yang seperti ini termasuk kelompok TAKWA, takut isteri tua. Dalam membagi giliran ini lebih sulit., (c) Adil dari segi sikap. Ini sangat sulit. Kalau isteri tua hot, isteri muda juga hot, akan sulit sekali untuk beruat adil. Biasanya isteri mudanya hot, isteri tuanya tidak. Dalam suatu seloroh dikatakan : isteri muda itu pandangan hidup, isteri setengah tua pegangan hidup, dan isteri tua perjuangan hidup. Yang seperti ini sulit untuk berbuat adil dalam sikap. Kalau semua pandangan hidup, maka semua harus pandangan hidup, atau semua perjuangan hidup. Kalau kepada yang tua, “Jangan dekat-dekat, sedang capek!”. Tetapi kalau kepada yang muda, nyosor saja; yang seperti ini tidak adil. (Makanya kata orang, supaya adil, isteri tua supaya lebih muda dari isteri mudanya!). Adil dari sikap dan perilaku itu sangat sulit: dengan isteri muda kita seperti apa berbicaranya, dengan isteri tua bagaimana berbicaranya. Ini sulit untuk bisa adil. Kepada yang muda biasanya lebih hangat, kepada yang tua bawaaannya manyun saja. Tidak bisa seperti itu. Kalau ada acara ke mana saja yang dibawa salah satu saja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: