• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

9 Desember

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 9 Desember 2007

Ibadah Haji (3)

Ustadz : Sambo

clip_image002

Dalam ibadah itu ada ibadah yang sifatnya bulanan, yaitu menunjuk bulan-bulan tertentu, seperti bulan Ramadhan, bulan Dzulhijah, dsb; dan ada ibadah harian, seperti shalat, infaq, dll. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa yang dibahas sehari-hari adalah ibadah terus: Idul Fitri, Idul Adha, Qurban, Shalat, zakat,dlsb. Apakah itu tidak membosankan? Hidup kita itu adalah dari ibadah yang satu kepada ibadah yang lain, yang kalau dalam Al Qur’an dikatakan: faidza faroghta fanshob, setelah selesai satu ibadah menuju ibadah yang lain; yang ini merupakan hakekat.

1. Penghambaan, Pengabdian dan Ketundukan

Hakekat ibadah itu adalah sebagai bentuk penghambaan pengabdian, ketundukan kita kepada Allah SWT. Dengan ibadah itu, maka kita patuh dan tunduk kepada Allah. Kalau kita tidak mau beribadah, berarti kita sombong kepada Allah, membangkang. Dengan ibadah itu maka tidak ada kesombongan dan pembangkangan pada diri kita kepada Allah SWT. Supaya diri kita terus tunduk, maka itu dijaga atau dikawal dengan ibadah. Oleh karena itu kata ”ibadah” dan kata ”’abdun=hamba” berasal dari satu akar kata; artinya kita diperintahkan untuk beribadah karena kita adalah ’abdun, hamba Allah. Kalau orang tidak mau beribadah, berarti ia tidak mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah. Jadi, ibadah itu adalah bentuk ketundukan kita kepada Allah, dna memang untuk itulah kita diciptakan. Allah berfirman dalam surat Adzaariat : 56:

clip_image003

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Sehebat apa pun kita, presidenkah, gubernurkah, camatkah, orang kayakah, orang terkenalkah; jangan sok jago; semuanya adalah hamba. Semuanya adalah sama statusnya sebagai hamba di hadapan Allah SWT, semua kudu shalat, puasa, zakat bagi yang mampu; semua harus beribadah. Secantik apapu seseorang, seganteng apapun seseorang, sejelek apapun seseorang, sebesar apapun badan kita; semua adalah hamba. Karena ibadah adalah wujud penghambaan, maka ibadah itu tidak pernah putud. Kalau kita tidak beribadah, maka kita sudah lepas dari garis hamba tersebut. Allah berfirman dalam surat Al Mu’min : 60:

clip_image004

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

Orang yang sombong dalam beribadah, tidak layak menjadi seorang hamba. Kalau kita tidak beribadah, berarti kita adalah orang yang sombong

2. Syukur

Ibadah itu pada hakekatnya adalah sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan kepada kita. Karena nikmat itu tidak pernah putus, maka syukur pun tidak putus-putus. Kalau syukur tidak pernah putus, berarti ibadah pun harus terus menerus. Orang boleh tidak beribadah, tetapi syaratnya satu, yaitu mati dulu. Orang yang sudah mati, selesai nikmat yang didapatkan, selesai pilalah ibadahnya. Selama nikmat masih kita dapatkan, selama itu pula kita harus beribadah. Makanya ujung ibadah itu adlaah kematian, kalau sudah mati, tidak perlu beribadah lagi. Kalau sudah mati, tidak perlu lagi shalat, zakat, berpuasa, dlsb. Allah berfirman dalam surat Al Hijr : 99:

clip_image005

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Setelah mati, ibadah berhenti. Setelah mati itulah mulai diperhitungkan nikmat-nikmat yang diberikan Allah SWT. Oleh karena itu karena nikmat tidak pernah berhenti, maka ibadah pun tidak pernah berhenti. Makanya dalam berqurban, misalnya, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Kautsar, adalah dalam rangka menyukuri nikmat yang banyak diberikan oleh Allah SWT:

clip_image006

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Banyak orang yang nikmatnya mau, tetapi ibadahnya tidak mau. Ini adalah tidak fair. Kalau mau fair, boleh tidak mau shalat, tidak mau berpuasa, dlsb; asal jangan memakai fasilitas Allah, jangan menginjak bumi Allah, jangan menghirup udara Allah, jangan memakai matahari Allah. Itu baru fair. Tetapi yang terjadi tidak demikian: fasilitasnya dipakai, ibadahnya tidak mau.

3. Supaya mendapat berkah/nikmat bertambah

Kalau kita bersyukur, maka nikmat yang diberikan akan ditambah oleh Allah SWT. Dengan beribadah terus menerus, nikmat yang diberikan akan ditambah dan tidak pernah putus. Kalau tidak mau beribadah berarti sama saja dengan keinginan agar nikmat itu berhenti. Orang yang beribadah akan terus mendapatkan rahmat Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Ibrahim : 7:

clip_image007

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Allah juga berfirman dalam surat Al A’raaf : 96:

clip_image008

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Dengan beribadah, maka berkah akan terus bertambah. Kalau ingin agar keberkahan itu bertambah, baik berkah dari langit maupun berkah dari bumi, maka terus beribadah. Kalau ia tidak mau beribadah, berhenti saja dengan ingin behenti mendapatkan berkah. Oleh karena itu selesai dari satu ibadah, segera menuju ibadah yang lain; agar keberkahan terus bertambah, karena kita tidak ingin keberkahan itu dicabut dari diri kita.

4. Diberi kemudahan dan pertolongan

Dengan beribadah, kita diberi pertolongan dan kemudahan-kemudahan: yang sulit akan dimudahkan, yang banyak masalah diberi jalan keluar, yang sakit disembuhkan. Kita hidup ini mempunyai banyak masalah, makanya kita perlu beribadah supaya dengan ibadah itu berbagai masalah yang menimpa akan dimudahkan oleh Allah. Tidak ada manusia yang ingin hidupnya susah, inginnya hidup enak, bahagia, semua kebutuhan terpenuhi, hati senang, dlsb. Bagaimana cara mencapai itu semua? Dengan beribadah, baik ibadah dalam arti sempit maupun ibadah dalam arti yang luas. Oleh karena itu kita diajarkan oleh Allah sebagaimana difirmankan dalam surat Al Fatihaah:

clip_image009

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Permintaan kita akan selalu dipenuhi apabila Iyyaka na’budu (beribadah terus), jangan Iyyaaka nasta’iin (ingin nikmatnya saja, memohon pertolongan). Pertolongan akan diberikan kalau mau beribadah. Oleh karena itu kalau mau doanya dikabulkan, maka rajin-rajinlah beribadah. Kebanyakan orang doa ingin dikabulkanm permintaan ingin dipenuhi, tetapi ibadah tidak mau. Tidak bisa yang seperti itu. Ibarat manusia mempunyai anak disuruh ini-itu tidak mau, inginnya minta jajan terus, bisa jadi orang tuanya berkata, ”Kutampar kau, disuruh tidak mau, minta-minta melulu”; tetapi Tuhan tidak seperti itu. Allah berfirman dalam surat Ath Thalaq : 2-4:

clip_image010

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.

clip_image011

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

clip_image012

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

5. Dalam rangka persamaan

Ibadah itu pada hakekatnya adalah dalam rangka persamaan di antara manusia, bahwa semua manusia itu derajatnya sama. Orang yang ibadahnya benar tidak akan pernah merasa lebih dari orang yang lain. Sehebat apapun ia, sama saja, harus shalat. Biarpun ia seorang presiden, harus shalat, harus zakat, harus berhaji, dlsb. Semuanya adalah hamba di hadapan Allah. Biarpun jenderal, kalau datang shalatnya belakangan, maka mendapat shaff di belakang. Dalam peristiwa wuquf, misalnya, semuanya sama memakai pakaian ihram. Dalam shalat, misalnya, juga demikian tidak dibedakan antara yang kaya dan miskin, yang berpangkat dan tidak. Jadi, ibadah itu adalah alat untuk mempersamakan, memperkukuhkan umat manusia. Orang yang tidak mau ibadah berarti ia tidak mengakui persatuan umat. Makanya dalam Islam itu tidak ada diskriminasi, semuanya sama sebagai hamba Allah. Kemuliaan itu letaknya pada ketaqwaan kita, sebagaimana difirmankan dalam surat Al Hujurat: 13:

clip_image013

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Semakin banyak ibadah yang kita lakukan, berarti semakin mulia. Dengan ibadah maka itu berarti mempersamakan manusia, semua sama-sama ibadah. Orang yang tidak mau beribadah, berarti ia lepas dari ikatan. Dengan demikian orang yang keluar dari ikatan tidak pantas dijadikan pemimpin, orang yang tidak mau beribadah tidak layak menjadi pemimpin. Yang menjadi pemimpin itu adalah orang yang rajin beribadah:

clip_image014clip_image015

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Dengan ibadah semua orang sama: shalat sama-sama berderet di satu barisan baik kaya maupun miskin, puasa sama-sama sahur, sama-sama lapar, qurban pun demikian ada yang berqurban ada yang menerima, ada yang menyembelih, ada yang mengurusi yang lain-lainnya. Kalau tidak ada mustahik, tidak ada maknya berqurban (muzakki); tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Kalau tidak beribadah, tidak akan ada persatuan: gara-gara jabatan pada sikut-sikutan. Tetapi tidak ada orang berantem gara-gara shalat, berebut tempat shalat. Tidak ada orang yang iri karena shalat, iri ingin shalatnya seperti orang lain yang khusyu’, iri dengan orang puasa, iri dengan orang yang shalat malam. Keirian itu terjadi pada hal-hal duniawi. Dalam ibadah itu tidak ada yang sendirian: puasa sendirian, haji sendirian, hari raya sendirian; semuanya perlu orang lainnya, berjamaah (jamak). Makanya dalam surat Al Fatihah dinyatakan :Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.

Jadi, ibadah itu dilakukan berjamaah. Ibadah itulah yang mempersatukan umat. Tetapi sekarang ini tidak demikian, inginnya sendiri-sendiri: Ramadhan dan lebaran berbeda satu dengan yang lain yang satu bersikukuh memakai ru’yat yang lainnya bersikukuh memakai hisab, shalat memakai qunut dengan tidak memakai qunut berantem. Bagaimana akan diperoleh persatuan umat kalau dalam ibadah saja berantem. Kalau masalah ibadah saja tidak pernah bisa bersatu, maka jangan berharap umat Islam ini bersatu. Syaratnya bersatu, yaitu ibadah, saja tidak bisa dipenuhi; maka tidak akan mungkin diperoleh persatuan.

QURBAN

Hakikat qurban adalah:

1. Syukur

Bahwa ibadah adalah bentuk pengahambaan kita kepada Allah dan sebagai bentuk rasa sykur atas nikmat-nikmat yang diberikan. Qurban pun demikian, merupakan ibadah sebagai wujud syukur karena telah diberi rejeki yang banyak. Allah tidak meminta banyak-banya dari nikmat-nikmat yang diberikan itu; hanya meminta kambing satu ekor. Allah telah memberikan rumah, mobil, dlsb; yang diminta hanya satu ekor kambing. Berapa harga satu ekor kambing? Katakanlah Rp. 1 juta yang cukup besar, jangan yang Rp. 600 ribu, yang kurus. Rumah yang diberikan adalah besar-besar, mestinya wajar kalau satu ekor sapi korbannya.

2. Sami’naa wa atho’naa (kami dengar dan kami taat)

Qurban itu adalah sebagai bentuk sami’naa wa atho’naa manusia kepada Allah. Kita disuruh berqurban, laksanakan, qurban; tidak bertanya ini-itu. Bahkan Nabi Ibrahim dulu diminta berqurban, yaitu disuruh menyembelih anak. Untuk kita, tidak perlu menyembelih anak, cukup kambing saja. Kata Nabi: ”Orang yang tidak mau berqurban, padahal ia mampu berqurban, jangan dekat-dekat tempat shalat kami”.

3. Bermanfaat bagi orang kaya maupun miskin

Qurban dilihat dari sisi manfaatnya qurban itu bermanfaat, baik bagi orang yang kaya maupun orang miskin. Bagi orang kaya, sudah biasa makan daging; maka berbagilah kepada orang miskin. Alangkah lebih baik (tidak ada dalilnya), pembagian daging itu disertai pula dengan uang bumbunya agar penerimanya bisa langsung menikmati.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: