• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

12 Agustus

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 12 Agustus 2007 

PENGOBATAN SECARA ISLAMI 

Ustadz :  Sambo   

Sekarang ini marak berbagai jenis pengobatan atau penyembuhan di masyarakat, baik (1) pengobatan yang bersifat alternatif maupun (2) pengobatan yang bersifat medis.  Pengobatan alternatif pun bermacam-macam, ada yang (a) memakai ramuan, (b) memakai pijatan, diinjak-injak, (c) doa-doa, (d) psikologis (jiwa).

Pengobatan manusia itu sebagian besar (75%) bersumber pada kejiwaan dan 25% bersumber pada pengobatan fisik.  Yang termasuk pengobatan jiwa ini adalah pikiran, emosi; bahkan pengobatan yang terkini adalah pengobatan spiritual, bukan hanya sekedar doa-doa.  Ada lagi pengobatan yang dinamakan Quantum Ikhlas, buku yang dipakai berjudul The Secret (Rahasia Alam Semesta), dengan memakai model Ikhlas. Pengobatan spiritual yang terkini adalah SEFT (Spiritual Emotional Freedom Treatment) dengan memakai model “syukur”.

 Kita pelajari macam-macam pengobatan ini agar kita bisa memilah dan memilih pengobatan mana yang Islami, dan mana yang menjurus pada kesyirikan.  Semua pengobatan itu ada sisi positifnya, tetapi kita juga harus memperhatikan sisi negatifnya.  Oleh karena itu jangan percaya 100% terhadap pengobatan itu, karena ada pula sisi negatifnya.  Termasuk pula pengobatan dengan doa-doa, tidak 100% positif.  Ada pula pengobatan yang dilakukan dengan dalil doa-doa tetapi, “katanya”, dengan cara “memindahkan’ penyakit itu ke media yang lain.  Kita ingin melihat berbagai macam pengobatan secara komprehensif, sehingga syukur-syukur nanti kita bisa membuat teori tentang pengobatan tersendiri. Banyak jenis pengobatan “alternatif” yang berkembang, seperti pengobatan berbasis doa, berbasis ikhlas, berbasis syukur, berbasis shalat malam, pengobatan dengan sedekah (Yusuf Mansur); tetapi belum ada pengobatan berbasis shalat.  Berbagai pengobatan itu ada yang manjur, tetapi ada pula yang tidak manjur.  Kita akan membahas mengapa obat itu manjur dan di waktu yang lain tidak manjur. Dalam Islam, Nabi pun memberikan berbagai macam teori pengobatan:

(1) Pengobatan dengan doa, (2) Shalat (3) Shodaqoh, (4) Puasa, (5) Makanan/ramuan: madu, buah zaitun, minyak zaitun, (6) Tindakan (treatment): bekam, pijitan (kay), (7) Taubat: kepada Allah dan manusia mempunyai kesalahan kepada seseorang dan didoakan oleh orang tersebut, sehingga sakit)

1.  Pengobatan dengan Doa Pengobatan dengan doa itu pun bermacam-macam, yaitu: (a) dari diri sendiri, dan (b) dari orang lain. 

a. Doa dari diri sendiri Doa dari diri sendiri pun bisa dibagi dua, yaitu: melalui shalat dan melalui ruqyah (sendiri).  Nabi itu sebelum tidur selalu meru’yah dirinya sendiri dengan membaca ayat qursiy, Al Falaq dan An Naas, Al Ikhlas.  Ruqyah yang terbaik itu sebenarnya adalah melalui dirinya sendiri.  Mengapa?  Karena diri sendirilah yang paling mengetahui.  Kebanyakan ruqyah itu dilakukan oleh orang lain.  Ada doa yang dilakukan melalui shalat.  Dalam duduk di antara dua sujud, kita selalu membaca: ”wa’afini”, artinya ”berilah kesehatan”. 

b. Doa melalui orang lain Doa melalui orang lain pun bermacam-macam:(1) Dari orang terdekat Doa dari orang terdekat, misalnya: orang tua, suami, isteri, anak, saudara.  Oleh karenanya Nabi menyuruh kita untuk banyak-banyak meminta doa kepada orang-prang terdekat dengan kita.(2)  Doa tetangga Kita dianjurkan agar kalau ada orang yang sakit kita disuruh menengoknya.  Tetapi bukan sekedar menengok saja, melainkan juga mendoakannya.(3) Doa orang-orang sholeh Doa orang-orang sholeh ini adalah orang sholeh yang masih hidup, bukan orang sholeh yang sudah meninggal.  Dalam meminta doanya pun harus free, gratis, tidak boleh ada tarif.(4) Ruqyah Bisa pula doa itu melalui ruqyah yang dilakukan oleh orang lain.  Biasanya orang-orang sholeh itu mengetahui tentang ruqyah ini.  Yang dinamakan ruqyah itu bukan semata-mata urusan tentang jin.  Pada jaman Nabi, ruqyah itu juga digunakan sebagai salah satu pengobatan untuk orang yang sakit demam, orang dientup tawon, orang dipatok ular, dll.  Ruqyah itu yang terbaik adalah tidak diminta, tetapi orangny sendiri yang datang meruqyah.  Kita pun boleh meruqyah orang lain, seperti anak kita sendiri, isteri kita, orang tua kita. 

2.  Pengobatan dengan shalat Pengobatan dengan shalat itu adalah kalau shalatnya benar: gerakan, bacaan, kekhusyu’an.  Makanya pada jaman Nabi dulu, kalau ada orang yang sakit, dibawa ke masjid.  Bahkan kalau tidak bisa berjalan pun, ia dipapah dibawa ke masjid.  Karena, kalau ada saudara kita yang sakit lalu dibawa ke masjid, akan diketahui oleh jamaah yang lain, dan akan didoakan bersama-sama.  Orang yang buta pun disuruh ke masjid, apalagi kalau sakitnya hanya meriang saja; harus ke masjid!  Kalau sudah tidak bisa bergerak, baru silahkan tidak ke masjid.  Dalam hadits dinyatakan bahwa kita disuruh pergi ke masjid, walaupun dengan merangkak!  Jadi, kalaupun kita tidak bisa berjalan, dan bisanya hanya dengan merangkak, kita disuruh ke masjid dengan merangkak.  Itu kalau kita mengetahui bagaimana besarnya pahala ke masjid.  Ini tidak, sakit sedikit tidak mau ke masjid, tetapi begitu diajak olah raga (bulu tangkis, misalnya), cepat dilayani!  Dalam hadits yang lain dinyatakan bahwa kalau seseorang tidak bisa berjalan, ia dipapah untuk pergi ke masjid.  Memang benar, kalau sakit boleh shalat di rumah, tetapi yang terbaik adalah di masjid, agar didoakan oleh jamaah yang lain. Dalam shalat kita dianjurkan untuk berdoa agar diberi kesehatan dan pengobatan.  Misalnya, pada saat duduk tahiyyat akhir sebelum salam, kita dianjurkan berdoa, ”Allaahumma inni as-aluka ’afiata fid dunya wal akhiroh, ya Allah berilah aku kesehatan dan keselamatan di dunia dan akhirat”.  Imam pun berdoa agar dirinya dan makmumnya diberi kesehatan di dunia dan akhirat.  

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: