• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

2 September

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 2 September 2007

  PERSIAPAN RAMADHAN  

Oleh : Ustad Sambo

Untuk menempuh puasa, ada beberapa persiapan yang harus kita lakukan.  Yang sering terjadi adalah bahwa ramadhan itu kurang banyak meningkatkan keimanan dan ketakwaan; kalaupun ada peningkatan itu terjadi pada 10 hari pertama, ibadah meningkat: masjid penuh, pengajian ramai.  Tetapi pada 10 hari babak terakhir, biasanya back to basic.  Apalagi didukung oleh kebiasaan masyarakat kita, yaitu mudik.  Kalau mau mudik, mestinya dicari pada hari atau waktu yang lain, misalnya setelah ramadhan.  Mengapa?  Karena pada 10 hari terakhir itu adalah puncaknya ramadhan. Kita tahu bahwa amalan itu yang dilihat adalah ujungnya.  Allah melihat amal kita adalah pada penutupnya, di ujungnya.  Kalau ujungnya bagus, insya Allah, ia akan menjadi husnul khotimah.  Tetapi kalau ujungnya tidak bagus, ia akan menjadi su’ul khotimah.  Sama juga dengan umur kita, yang dilihat adalah di ujungnya.  Kalau sebelum meninggal adalah bagus, maka ia adalah husnul khotimah, tetapi kalau sebelum meninggalnya adalah buruk, maka ia menjadi su’ul khotimah.  Demikian pula ramadhan, seringkali pada akhir ramadhan itu grafik ibadah kita adalah menurun, yang seharusnya adalah menaik: 10 hari pertama, 10 hari kedua, dan 10 hari terakhir. Mengapa pada bulan ramadhan itu justru terjadi penurunan?  Kunci yang paling utama adalah pada bulan ramadhan itu kita tidak mempunyai program, tidak punya target, tidak punya rancangan dalam hal masalah ibadah.  Misalnya, pada ramadhan ini apa program kita? Pada ramadhan ini, apa yang ingin kita capai?  Penambahan-penambahan ibadah apa yang kita lakukan?  Perbaikan-perbaikan apa yang kita kerjakan?  Pada ramadhan ini coba kita buat program, yaitu program pribadi atau program keluarga dalam rangka beribadah.  Kalau program ini sudah kita rancang, sudah kita rencanakan, dan kita berdoa mudah-mudahan bisa berjalan dengan baik, maka insya Allah nantinya akan lebih terarah.   Setidaknya ada 3 catatan program yang harus kita lakukan pada bulan ramadhan, yaitu: 

1.  Evaluasi Diri Pada tahun yang lalu ibadah kita sampai di mana?  Sebelum menyusun program, maka lakukan evaluasi terhadap kegiatan yang kita lakukan pada bulan ramadahan yang lalu.  Daftarkan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan: membaca Qur’annya sudah sampai di mana? Sudah bagus atau belum?  Sudah lancar atau belum? Selanjutnya masuk kepada hafalannya: sudah berapa surat yang dihafal?  Setelah itu dilanjutkan dengan bagaimana pemahamannya atau belajar menerjemahkannya (BUROQ)?  Sudah lancar atau belum?  Kemudian dari segi shalat-shalatnya: sudah seperti apa yang lalu?  Shalat sunnatnya? Shalat wajibnya? Pergi ke masjidnya?  Bahkan kalau bisa menghitung kuantitasnya, berapa menit dulu shalat?  Misalnya, shalatnya sudah 10 menit atau belum?  Dengan jujur pertanyaan-pertanyaan itu kita jawab.  Dari sisi sedekahnya bagaimana?  Tahun lalu berapa sedekahnya? Ini adalah evaluasi untuk amal-amal yang lalu.   Di samping evaluasi terhadap amal kebaikan, maka dievaluasi pula amal keburukannya.  Tahun yang lalu sudah sampai di mana amal-amal yang buruk dikerjakan?  Misalnya, kalau masalah ngomel, berapa kali ngomel dalam satu hari pada ramadhan yang lalu? Demikian pula, misalnya, tentang marah-marah, ambeg-ambegan; hitung! 

2. Pasang Target Dari hasil evaluasi, selanjutnya kita masuk pada program yang kedua, yaitu apa yang akan kita perbaiki?  Misalnya, masalah shalatnya, puasanya, sedekahnya, membaca Qur’annya, dll.  Silahkan dibuat, perbaikan-perbaikan  apa yang akan dilakukan.  Caranya bagaimana?  Caranya adalah dengan membuat target.  Tentu saja tergetnya adalah lebih baik dari tahun yang lalu dari segi kebaikan, sedangkan yang buruk adalah lebih sedikit.  Misanya, kalau hafalannya tahun yang lalu adalah setengah jus, maka tahun ini ditargetkan setengah juz lebih.  Kalau tahun lalu i’tikafnya hanya 5 hari, sekarang kita tingkatkan menjadi 10 hari. 

3.  Membuat kajian spesifik Program yang ketiga ini sering terlewatkan, yaitu membuat kajian spesifik.  Adakah ilmu kita yang bertambah pada bulan ramadhan ini?  Ilmu di sini dalam pengertian ilmu yang lebih spesifik: ilmu waris, ilmu shalat khusyu’, masalah zakat, masalah mengurus jenazah, dll.  Kita susun program kajian khusus, sehingga pada bulan ramadhan ini bertambahlah ilmu kita.   Pengajian-pengajian seperti tafsir atau pengajian yang sering dilakukan adalah pengajian yang bersifat umum, bisa berseri panjang.  Demikian pula masalah akidah.  Yang dsusun pada bulan ramadhan dalam kaitannya dengan kajian spesifik adalah kajian yang bersifat paket yang dengan kajian itu kelimuan kita bertambah.  Kajian-kajian paket ini bisa difasilitasi oleh DKM, misalnya melaksanakan training di hari Sabtu-Minggu.  Misalnya, minggu pertama Pelatihan A, minggu kedua pelatihan B, minggu ketiga pelatiham C, dst.  Dengan demikian pada bulan ramadhan itu ada ilmu yang spesifik yang bertambah. Kalau ketiga program tersebut telah kita lakukan, insya Allah, pada bulan ramadhan nanti akan lebih semarak, ada target:hafalan, bacaan shalat, sedekah, dll.  Kalau masjidnya sudah ada programnya, maka jamaahnya enak tidak perlu mencari program yang lain.  Tetapi kalau belum atau masih belum lengkap, maka cari dan tuntut ilmu yang spesifik itu ke masjid-masjid yang mempunyai program untuk itu.  Mulai sekarang sudah melacak program-program yang diselenggarakan oleh masjid-masjid. Bagaimana caranya agar program itu bisa terlaksana? 

1. Hunting ilmu Mulai sekarang sudah harus mencari (hunting)  ilmu ke masjid-masjid yang biasa melakukan kajian-kajian yang bersifat spesifik.  Mesjid Raya apa kajiannya, masjid Agung apa kajiannya, masjid Al Hijri apa kajiannya?  Kalau sudah tahu, maka kalau ingin memperdalam ilmu tertentu, kita pergi ke masjid yang melakukan kajian ilmu itu.  Jangan sampai kita hanya pasif saja, seperti yang terjadi selama ini. 

2.  Mempersiapkan bagaimana agar program terlaksana Program-program disusun dengan baik.  Termasuk agar bisa terlaksananya program yang disusun: i’tikaf, sedekah, misalnya, maka mulai sekarang perlu disiapkan dananya; karena semua itu memerlukan uang.  Dengan demikian mulai sekarang doanya harus lebih keras, agar pada bulan ramadhan itu program bisa berjalan, tidak terganggu dengan masalah dana.  Biasanya ujian muncul: pada bulan ramadhan banyak proyek, tawaran dari sana-sini.  Kalau bisa, memohon kepada Allah, agar sebelum 10 hari terakhir proyek sudah habis.  Kadang-kadang kita diuji oleh Allah, seperti Bani Israil justru di hari Sabtu itu banyak ikan di mana pada hari itu Bani Israil dilarang untuk menangkap ikan.  Dengan ujian itu apakah manusia tergiur atau tidak?  Pada jaman Bani Israil, mereka dilarang bekerja pada hari Sabtu, tetapi justru ikan banyak bermunculan di hari itu, menggiurkan sekali.  Tetapi kalau kita ”bismillaah”, apapun tawarannya: tutup saja, insya Allah, nanti akan ada penggantinya yang jauh lebih besar: apakah sebelum ramadhan atau sesudah ramadhan penggantinya.  Jadi, mempersiapkan agar program terlaksana itu adalah sangat penting.  Ada pertanyaan: ”Bukankah i’tikaf itu hukumnya sunnat, sedangkan mencari nafkah itu hukumnya wajib?”.  Benar, mencari makan akan menjadi wajib, kalau kita tidak bekerja, maka keluarga tidak makan.  Tetapi kalau sudah ada simpanan sekian puluh juta, misalnya, maka bekerja itu menjadi tidak wajib lagi.  Misalnya: ”tukang becak” itu tidak boleh i’tikaf, karena kalau ia tidak bekerja maka anak-isterinya tidak makan, karena ia tidak mempunyai simpanan.  Tetapi bagi orang yang mempunyai simpanan, masih bisa diatur, maka bekerja itu menjadi tidak wajib; kecuali ada perjanjian sebelumnya.  Hanya saja, jangan membuat perjanjian pada sepuluh hari terakhir itu. 

3.  Membuat program bersama-sama Untuk yang ketiga ini kita membutuhkan kawan.  Yang paling sulit adalah melaksanakan program itu, bukan membuat programnya.  Misalnya, membuat program agar ramadhan hafal 1 juz, tetapi pelaksanaannya sulit dengan alasan ini dan itu.  Makanya yang seperti ini membutuhkan kawan: isteri, anak, tim DKM, dlsb; yang sama-sama mengetahui program ini.  Akhirnya di antara mereka bisa saling mengingatkan.  Firman Allah:

dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ramadhan itu adalah bulan trainning.  Kalau pada bulan itu kita tidak bisa mentraining diri kita, maka akan sulit pada bulan-bulan yang lain.  Kalau pada  bulan ini ilmu kita tidak bertambah, maka jangan berharap pada bulan lain ilmu kita bertambah.  Kalau pada bulan ini iman kita tidak bertambah, maka jangan berharap pada bulan-bulan yang lain iman kita bertambah..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: