• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

22 Juli

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 22 Juli 2007 

TAFSIR SURAT AL BAQARAH : 81-83

(Lanjutan: Rahmat Allah) 

Ustadz :  Sambo  

Pada kajian yang lalu kita telah membahas bahwa kita bisa masuk surga itu adalah lebih karena rahmat Allah.  Allah melipatgandakan amal-amal kita sehingga mencukupi untuk modal masuk surga.  Kalau Allah tidak melipatgandakan amal-amal kita, maka amal kita itu tidak cukup untuk membayar “hutang” nikmat yang Allah berikan.  Karena maha rahman dan rahimya Allah, maka amal itu dilipatgandakan.  Ini juga yang menjadi salah satu perbedaan antara umat Rasulullah dan umat-umat Islam sebelum Nabi Muhammad SAW.  Umat sebelum Rasulullah itu sangat berat, umurnya panjang; tetapi pengalinya satu.  Kalau umat Rasulullah, umurnya pendek-pendek, tetapi amalnya dikalikan; dalam istilah statistik umat Rasulullah ada pembobot terhadap amal yang dikerjakan: pembobotnya besar.  Bagaimana Allah melipatgandakan amal?

 1.  Pengalinya 10 kali

Pelipatgandaan minimal adalah sepuluh kali.  Ini bisa kita lihat dalam surat Al An’aam : 160:

 Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa pahala-pahala amal kebaikan kita nanti dikalikan sepuluh.  Rahmannya Allah, kalau perbuatan kejahatan, maka balasannya hanya dikalikan satu, sedangkan amal kebaikan dikalikan sepuluh.  Inilah yang akhirnya kita mempunyai cukup modal untuk bisa masuk surga.  Kalau tidak dikalikan sepuluh, maka untuk membayar hutang saja sudah habis.  Kalau Bani Israil tidak demikia.  Kewajiban shalat, misalnya, dulu sebelum Nabi Muhammad shalatnya adalah lima puluh kali; begitu jaman Rasulullah, diminta keringanan menjadi lima kali dengan pahala sama dengan yang lima puluh kali (karena setiap amal dikalikan sepuluh, 5 x 10 = 50).  Dalam hadits dinyatakan, misalnya, barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan diikuti dengan 6 hari puasa Syawal, maka ia seperti puasa setahun penuh.  Ini logikanya juga seperti itu, dikalikan sepuluh:  puasa sebulan atau 30 hari, dikalikan sepuluh; ditambah 6 hari x 10; akhirnya 360 hari atau setahun penuh.  Jadi puasa setelah Ramadhan selama 6 hari sama dengan puasa selama satu tahun penuh.  Ini perkalian atau perhitungan amal yang minimal.  Kalau begitu setelah itu tidak puasa saja, toh sudah dihitung berpuasa satu tahun!  Tidak apa-apa tidak puasa lagi, sudah cukup; tetapi kalau mau lebih ya silahkan berpuasa (apalagi bagi yang badannya besar-besar, perlu puasa tambahan Senin-Kamis). 

2.  Pengalinya 70 

Tingkatan berikutnya adalah bahwa pahala amal itu dilipatgandakan 70 kali.  Dalam hadits dinyatakan bahwa pada bulan Ramadhan, setiap kewajiban amalnya dikalikan 70.  Ibadah sunnahnya dinilai sama dengan ibadah wajib, dan ibadah wajibnya dikalikan 70.  Bisa dibayangkan, berapa banyak pahala yang diperoleh pada bulan Ramadhan; tetapi kita tidak usah menghitung-hitungnya, capek nantinya. 

3.  Pengalinya 700 

Khusus untuk infaq, pahala amalnya dikalikan 700.  Ini bisa kita lihat dalam surat Al Baqarah : 261:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

 Orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah bagaikan menumbuhkan sebiji benih menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkainya ada 100 benih.  Indahnya ayat ini adalah tidak dinyatakan 1 : 700, tetapi dikatakan sebagai ”biji” atau ”benih”.  Artinya, kelipatannya itu sebenarnya tidak hanya 700 kali saja, kalau itu ditama, lagi, maka akan menghasilkan biji-biji yang lebih banyak lagi.  Allah akan melipatgandakan lebih dari 700 kali bagi siapa yang dikehendaki.  Mengapa?  Karena Allah sangat maha luas pengetahuannya.  Artinya, Allah melipatgandakan lebih dari 700 kali itu sangat bisa.  Dengan demikian kalau kita banyak berinfaq, maka pahalanya akan dilipatgandakan.  Infaq itu spesial, pengalinya bukan 10, tetapi 700 kali.  Mengapa bisa begitu?  Karena infaq itu pahalanya double, bisa kepada dirinya sendiri dan bisa kepada orang lain.  Berbeda dengan shalat, lebih kepada yang melakukannya; tetapi kalau infaq, manfaatnya selain kepada dirinya juga kepada orang lain.  Makanya dalam Al Qur’an itu biasanya selalu disebut setelah shalat adalah infaq.  Kewajiban yang pertama turun sebelum zakat adalah infaq.  Kalau zakat itu adalah kewajiban yang turun pada jaman Madaniyah, di Madinah.  Sebelumnya adalah infaq, shalat belum ada.  Pada masa awalnya, kewajiban setelah orang beriman adalah infaq, bukan shalat; shalat itu turun pada tahun ke sepuluh.  Kita lihat dalam surat Al Baqarah : 177, bahwa setelah orang beriman adalah berinfaq; baru kemudian menunaikan kewajiban shalat, setelah itu zakat:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

 4.  Pengalinya dua juta 

Amal itu bisa dilipatgandakan menjadi dua juta kali.  Ini bisa kita lihat dalam tafsir Ibnu Katsir surat Al Baqarah : 200, yaitu tentang hutang.

Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

 Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah Ta’ala menyuruh bersabar dalam menghadapi orang yang kesulitan dan tidak dapat membayar; tidak seperti orang jahiliyah yang mengatakan kepada peminjam, ”Bila telah jatuh tempo: dibayar atau ditambahkan pada bunganya”.  Kemudian Allah menganjurkan untuk menghapuskan saja, dan Dia pun menjanjikan kepadanya, bila berbuat demikian, kebaikan dan pahala yang banyak.  Allah berfirman, ”Dan menyedekahkan itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.  Maksudnya, apabila kamu tidak mengambil pokok pinjaman secara keseluruhan dan membebaskan si peminjam dari kewajibannya membayar hutang, maka hal itu lebih baik bagimu.  Banyak sekali hadits Nabi SAW yang berkaitan dengan hal tersebut. 

Tabrani meriwayatkan dari Abu Amamah As’ad bin Zarawah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda (438) :

Barang siapa yang ingin mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, maka hendaklah dia memberi kemudahan kepada yang kesulitan, atau membebaskannya dari kesulitannya” (HR Tabrani).

 Imam Ahmad meriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya, dia berkata (439), ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ’Barang siapa yang memberi kelonggaran pembayaran kepada peminjam yang kesulitan, maka baginya pahala sedekah sebesar dua kali lipat dari jumlah pinjaman itu untuk setiap harinya’.  Kemudian engkaupun mengatakan, ’Barang siapa yang memberi kelonggaran pembayaran kepada peminjam yang kesulitan, maka baginya pahala sedekah sebanyak dua kali lipat dari jumlah pinjaman itu untuk setiap harinya’.    Nabi bersabda, ”Setiap harinya pemberi kelonggaran mendapat pahala sedekah sebesar sebesar pinjaman itu bila ditagih sebelum jatuh tempo.  Namun, bila pemberian kelonggaran pembayaran itu dilakukan setelah jatuh tempo, maka baginya pahala sedekah sebesar dua kali lipat dari jumlah pinjaman itu untuk setiap harinya”. Al Bukhary meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, dia bersabda (440), ”Ada pedagang yang berpiutang kepada manusia.  Apabila pedagang ini melihat mereka kesulitan, maka dia berkata kepada para pegawainya, ’Maafkanlah dia, mudah-mudahan Allah pun memaafkan kita’.  Maka Allah pun memaafkan si pedagang”. Masalah hutang ini lebih berat daripada infaq.  Karena berat itulah, maka pahalanya lebih besar.  Kata ”lebih baik bagimu, jika kamu infaqkan”, ditafsirkan mendapatkan pahala dua juta kali lipat.  Dalam hadits dinyatakan bahwa barang siapa yang menghutangi orang, hingga orang tersebut membayar sampai jatuh tempo, maka orang itu dihitung setiap hari berinfaq sebesar yang dihutangkan tersebut.  Misalnya, orang lain berhutang kepada kita sebesar Rp. 100.000, dan jatuh temponya selama satu tahun; maka selama satu tahun itu kita dihitung seperti berinfaq Rp. 100.000,- setiap harinya.  Kalau sudah jatuh tidak dibayar, sampai ia membayar, maka dihitung dua kali lipat setiap harinya kita dinilai berinfaq.  Ketika ia tidak bisa membayar dan itu diinfaqkan, maka dihitung dua kali setiap harinya berinfaq sampai hari kiamat.  Bisa dihtung, berapa banyak pahala yang diperoleh.  Makanya dalam ayat tersebut dinyatakan, ”Menyedekahkan itu lebih baik, kalau kamu mengetahuinya”, artinya kalau mengetahui berlipat gandanya pahala yang diperoleh kalau itu diinfaqkan.  Mengapa menghutangi itu lebih berat daripada infaq?  Karena umumnya orang itu kalau menghutangi, tidak mau menginfaqkan.  Kalau minta sedekah atau minta infaq, langsung diberikan, sudah selesai; tidak mengharapkan kembalinya.  Tetapi kalau hutang, inginnya dikembalikan; makanya kalau hutang itu diinfaqkan pahalanya lebih besar.  Kata orang yang menghutangi, ”Wah berat sekali itu, uangnya banyak, masa’ disedekahkan?”.  Makanya itu berat, kalau mengerti pahalanya, maka itu lebih baik.  Tetapi, lumayan kalau jatuh tempo pun sudah dianggap berinfaq.  Kalau meminjamkan uang Rp. 10.000,- lalu jatuh temponya setahun, maka seolah-olah berinfaq sebesar Rp. 10.000 x 360 hari.  Setelah jatuh tempo ternyata tidak dapat membayarnya selama satu tahun lagi, maka pada tahun kedua dihitung berinfaq sebesar Rp. 10.000 x 2 x 360 hari.  Sangat besar nilainya.   Bagaimana kalau orang yang berhutang itu mampu membayarnya tetapi tidak mau membayar?  Yang dimaksud dalam ayat itu, kita bisa menginfaqkan hutang tersebut, kalau orang yang berhutang itu tidak mampu membayarnya.  Tetapi kalau ia kaya dan memang sifatnya bakhil, ditagih!  Tetapi kalau mengerti bahwa menginfaqkan itu lebih baik pahalanya, maka itu lebih baik. 

5.  Pengalinya sejumlah manusia hingga hari kiamat 

Masalah infaq itu adalah masalah spesial, pahalanya sangat besar.  Apalagi kalau infaq itu bisa membuat orang ”hidup”, maka infaq itu nilainya lebih besar lagi.  Makanya yang paling bagus adalah memberi modal orang untuk bisa hidup.  Oleh karena itu kalau infaq itu jangan receh, kalau bisa dijadikan modal, sehingga dengan modal itu orang menjadi hidup; maka nilainya paling besar.  Kebanyakan orang enggan memberikan Rp. 1000,- di pinggir jalan, alasannya untuk mendidik.  Masa’ dengan Rp. 1000,- bisa mendidik orang?  Kalau mau mendidik, beri ia infaq Rp.  2 juta, misalnya, untuk modal sehingga ia bisa hidup.  Yang seperti ini pahalanya dikalikan sejumlah manusia.  Berapa jumlah manusia?  Ini jumlah manusia hingga hari kiamat.  Kalau diberi recehan, maka sekali makan habis.  Tetapi kalau dengan infaq itu ia hidup, maka sama dengan memberi kehidupan seluruh umat manusia.  Daripada uang Rp. 2 juta dibagikan ke 100 orang, lebih baik diberikan kepada dua orang untuk modal, sehingga mereka bisa hidup dan akan memberi kehidupan kepada orang lain, sehingga berikutnya ia tidak minta lagi.  Tetapi kalau dibagikan kepada 100 orang, sampai dua puluh tahun, tetap seperti itu.  Makanya perlu diklasifikasikan orang yang meminta-minta itu.  Yang berpotensi bisa berkembang, beri ia modal, tetapi kalau orang itu memang dasarnya peminta-minta, jangan diberi banyak-banyak, habis pula nantinya, sekedar sedekah saja.  Kita lihat dalam surat Al Maidah : 32:

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.

 Jadi, kalau ada orang gara-gara kita beri sesuatu sehingga ia bisa hidup, apalagi keluarga menjadi hidup; itu sama dengan memelihara seluruh umat manusia.  Pahalanya sama dengan amal itu dikali seluruh umat manusia, sejak Nabi Adam hingga kiamat.  Termasuk juga memberi makan anak dan isteri, juga bagian dari mengidupkan manusia.  Karenanya jangan pelit-pelit kalau memberi nafkah anak dan isteri.  Kata Nabi bahwa satu suap yang diberikan kepada anak atau isteri itu nilainya lebih tinggi daripada digunakan untuk jihad fii sabiilillaah; kalau harta yang dipunyainya pas-pasan.  Tetapi kalau hartanya sudah banyak, tidak boleh begitu, harus ada pula yang untuk jihad.  Jadi, memberi makan seorang isteri atau anak dengan ikhlas, berarti menghidupkan mereka, pahalanya sama dengan menghidupkan seluruh umat manusia.  Makanya pantaslah kata Nabi bahwa kalau kita menikah, maka separoh agama ini sudah kita dapatkan.  [Ini menikah dengan seorang isteri saja sudah dapat separoh agama, bagaimana kalau menikah dengan dua isteri ????????  Kalau isterinya ridho, bisa jadi akan lebih banyak pahalanya, tetapi kalau isterinya tidak ridho????  Bisa minus pahalanya!!!!] 

6.  Pengalinya 1000 bulan 

Ada lagi amalan yang pahalnya dikalikan 1000 bulan, yaitu malam lailatul qadr.  Allah berfirman dalam surat Al Qadr : 1-3:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

 Dalam ayat itu bukan disebutkan sama dengan 1000 bulan, tetapi lebih baik; berarti minimalnya 1000 bulan.  Barang siapa yang beramal di malam lailatul qadr sama dengan ia beribadah selama 1000 bulan.  Berapa lama 1000 bulan itu?  Kira-kira 80 tahunan, artinya amal di malam lailatul qadr itu lebih baik daripada beribadah selaa 80 tahun.  Malam lailatul qadr itu dimulai dari malam ke-21 sampai malam terakhir.  Jangan pernah lewatkan beribadah di malam itu.  Itu adalah ibadah jackpot, pengalinya lebih baik daripada 1000 bulan.  Kalau kita membaca Al Qur’an di malam itu, maka lebih baik daripada 1000 bulan membaca Al Qur’an.  Kalau kita shalat malam di malam itu, lebih  baik daripada 1000 bulan shalat malam.  Makanya ibadah yang harus dilakukan di malam itu, jangan ibadah yang recehan, jangan ibadah yang cemen.  Sampai-sampai pada malam itu kita dilarang hubungan suami-isteri.  Walaupun itu ada pahalanya, tetapi itu cemen, kecil.  Kalau kita melakukan hubungan suami-isteri di malam itu, kalau malaikat turun mau membagi-bagikan rahmat, dilihatnya yang mau dibagi-bagikan hanya beribadah yang hanya begitu-begitu saja, akhirnya tidak jadi dibagikan rahmat itu kepada kita.  Karenanya pada malam itu, semua laki-laki ke masjid, i’tikaf.  Allah berfirman dalam surat : Al Baqarah : 187:

janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid.

 Ada yang mengatakan, ”Itu kan bagi orang yang i’tikaf, kalau yang tidak i’tikaf kan tidak apa-apa? Kan itu juga termasuk ibadah?”.  Bukan begitu, meskipun itu ibadah, tetapi itu ibadah cemen, sayang kalau pengalinya 1000 bulan hanya seperti itu.  Banyak yang bagus-bagus, masa’ yang diambil yang cemen-cemen saja?!  Pada malam itu, ibadah yang terbaik adalah di masjid bagi laki-laki dan wanita-wanita yang tidak menimbulkan fitnah.  Di rumah boleh saja, tetapi pengalinya kecil.  Kalau di masjid, tidurnya pun dihitung ibadah.  Karenanya kalau sedang i’tikaf harus terus menjaga wudhu supaya dihitung terus amalnya: batal, wudhu lagi. 

7.  Amalnya dikalikan dengan jumlah yang tidak terhingga 

Kalau infaq sebagaimana dijelaskan di atas bisa dikalikan dengan jumlah manusia, itu masih bisa dihitung, masih ada jumlahnya, terbatas.  Tetapi amalan yang ini pahalanya adalah tidak terhingga (bighoiri hisaab).  Pahala amalan apa itu?  Pahala amal shabar!  Sabar itu pahalanya tanpa batas.  Kita lihat dalam surat Az Zumar : 10:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Memang berat sabar itu, makanya wajar saja kalau pahalanya tanpa batas, tidak bisa dihitung.  Bagaimana menghitungnya?  Serahkan saja kepada Allah. Sabar itu sendiri bermacam-macam, ada sabar tertimpa musibah, sabar dalam ibadah.  Hanya sabar yang paling berat adalah sabar ditimpa musibah.  Tentu saja makin berat musibahnya, makin berat masalahnya, makin tinggi pula tingkatan pahalanya.  Sabar karena kehilangan uang Rp. 10.000, misalnya, berbeda dengan sabar karena rumahnya terbakar, keluarganya ikut terbakar.  Peristiwa tsunami, misalnya, banyak orang yang tidak kuat, akhirnya menjadi gila: isterinya hilang, rumahnya habis, dsb.  [Suami kawin lagi juga berat sekali itu, tetapi kalau sabar, pahalanya tanpa batas!!!!]

  

Ibadah Jackpot

Telah kita bahas bahwa rahmat Allah bisa kita dapatkan melalui doa, syafaat, dan ibadah jackpot.  Hanya saja ibadah jackpot itu jangan dicari, sekedar kita kerjakan tetapi jangan dijadikan sandaran atau yang dituju.  Kalau diibaratkan bekerja, maka ibadah jackpot itu adalah undian, jangan diuber.  Gara-gara undian akhirnya tidak bekerja, maka bisa kacau.  Apa saja ibadah jackpot itu?  Ibadah jackpot ini balasannya lansung surga, ibadah-ibadah yang lain tidak dihitung.  Orang ini amalnya biasa saja, amalnya cemen, tetapi gara-gara amal jackpot ini ia masuk surga. Beberapa amalan yang diterangkan oleh hadits adalah sebagai berikut: 

1.  Wanita yang masuk surga gara-gara memberi minum anjing

Contoh yang pertama adalah wanita pelacur yang masuk surga gara-gara memberi minum seekor anjing yang kehausan.  Sekali itu dikerjakan, seluruh amal-amal yang lain diborong oleh amal jackpot ini.  Amal-amal ia sebagai pelacur, terhapuskan gara-gara memberi minum anjing.  Sebanarnya ia masuk surga itu bukan karena memberi minim atau memberi makannya, tetapi niatnya dengan berani mengorbankan nyawanya untuk seekor anjing.  Kalau karena memberi minumnya, maka orang akan beramal cukup dengan memberi makan atau minum setiap anjing yang ada saja, padahal air dan makanannya di rumah banyak.  Wanita itu dalam kehausan, lalu turun di oase lalu mengambil air dan dibawanya.  Selanjutnya ia melihat anjing yang juga kehausan, padahal ia sendiri kehausan, ia lalu memberikan air itu kepada anjing tersebut.  Artinya, pengorbanannya itulah yang dinilai: pengorbanan diri demi seekor anjing saja masuk surga, apalagi mengorbankan diri demi manusia? 

2.  Pembunuh 100 orang masuk surga karena bertaubat

Contoh kedua adalah masuk surganya seseorang yang telah membunuh 100 orang.  Ia telah membunuh 100 orang, tetapi ia ingin bertaubat.  Ketika ia pergi untuk bertaubat, sebelum tiba di tempat, ia telah meninggal.  Malaikat pencatat amal keburukan datang untuk membawanya ke neraka dan malaikat pencatat amal kebaikan datang untuk membawanya ke surga.  Allah menurunkan malikat Jibril untuk menjadi hakimnya, lalu diukurnya jalan yang telah ditempuh orang itu menuju tempat taubat dan jarak yang belum ditempuhnya.  Ternyata jarak yang telah ditempuh lebih panjang sejengkal dari jarak tempat ia meninggal hingga tempat bertaubat.  Ada riwayat yang menyatakan bahwa karena rahmat Allahlah, jarak yang telah ditempuh itu diperpanjang.  Akhirnya orang itu dimasukkan ke dalam surga. 

3.  Khois Al Qorny masuk surga gara-gara berbakti kepada orang tua

Peristiwa ini terjadi pada jaman Nabi Musa.  Khois Al Qorny bisa masuk surga gara-gara berbakti kepada orang tua.  Amal-amal yang lain biasa saja, tetapi gara-gara amal jackpot ini ia masuk surga.  Amal-amal yang lain tidak diperhitungkan. 

4. Isteri masuk surga gara-gara taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya

Ada seorang isteri yang dilarang keluar rumah oleh suaminya dan ia tidak keluar rumah, sampai-sampai ibunya meninggal pun ia tidak berani keluar rumah.  Itu diampuni gara-gara ia taat kepada suaminya. 

5.  Masuk surga gara-gara mati syahid selain karena perang

Mati syahid yang selain karena perang itu juga ibadah jackpot.  Kalau mati syahid karena perang, memang itu diniatkan, wajar; tetapi mati syahid bukan karena perang, itu luar biasa.  Seperti: perempuan yang mati karena melahirkan, orang mati terbakar, mati tenggelam, mati keruntuhan, mati karena membela kebenaran, mati karena kolera (penyakit menular).  Makanya kalau ada orang yang terkena penyakit menular, harus dikarantina, agar ia mati di situ, supaya tidak menular.  Kalau ada wabah kolera, harus diisolasi: yang di luar tidak boleh masuk, yang di dalam tidak boleh keluar.  Penyakit kolera itu pada jaman itu disebut tho’un.  Orang yang mati terbunuh gara-gara membela kehormatannya pun termasuk yang masuk surga.  Kalau ada orang masuk rumah kita hendak mencuri, lalu kita melawannya kemudian kita mati, maka itu termasuk mati syahid.  Tetapi ini jangan dicari!  Jangan berdoa, ”Ya Allah, mudah-mudahan maling masuk rumah saya lalu saya lawannya agar saya mati”.  Jangan dicari amal itu, tetapi kalau bertemu ambil saja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: