• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

23 September

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 23 September 2007 

AGAR DOA DIKABULKAN (2) 

Ustadz :  Sambo 

Pada kajian yang lalu kita telah mengkaji bahwa komponen doa yang paling dominan adalah hati.  Yang sering terjadi adalah doa itu lebih dominan menggunakan mulut, padahal dalam keterangan hadits bahwa Allah lebih melihat kepada apa yang ada dalam hati seseorang.  Apa yang diucapkan kadang-kadang tidak sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.  Banyak orang yang mulutnya mengucapkan banyak hal, berdoa tentang banyak hal, tetapi tidak meresap dalam hatinya. Yang dimaksud dengan hati agar doa itu terkabul adalah hati yang yakin.  Banyak orang berdoa, tetapi hatinya tidak yakin alias ragu. Yakin di sini maksudnya adalah bahya ia yakin doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT, yaitu yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doanya.  Yakin di sini berbeda dengan iman, kalau iman itu sifatnya ghaib, sedangkan yakin di sini adalah puncak daripada iman, kenyataan.  Misalnya, iman kepada Allah dan hari akhir; sifatnya ghaib; tetapi kalau kita sudah yakin berarti itu sudah nyata.  Kalau ia yakin kepada Allah, ia secara nyata percaya kepada Allah, demikian pula kalau ia yakin kepada malaikat, maka secara nyata ia percaya kepada malaikat; seolah-olah ia sudah melihat.   Pada masa sahabat, dalam keterangan dinyatakan bahwa karena sahabat itu yakin betul adanya surga, seolah-olah surga itu dinampakkan, neraka pun dinampakkan; akhirnya imannya benar-benar mencapai puncaknya dan itu diimplementasikan dalam kehidupan mereka. Pantas saja kalau sedang shalat khusyu’ itu malaikat maut itu bisa mereka rasakan, surga dan neraka di depan mereka bisa terbayang.  Kalau kita bagaimana?   Iman itu bisa naik turun, tetapi kalau sudah yakin, maka itu adalah puncak keimanan.  Oleh karenanya kita berusaha untuk meningkatkan keimanan kita menuju yakin.  Kalau sudah yakin kepada Allah, maka doa-doanya akan dikabulkan.  Ini memang membutuhkan proses, tidak instan, serta merta diperoleh keyakinan itu.  Kita ini beriman kepada Allah, itu pasti bahwa Allah itu ada, Allah itu Maha Kuasa, dlsb.  Tetapi kalau ditanyakan : apakah kita yakin kepada Allah?  Jawabannya : masih ragu-ragu.  Untuk membuat ia yakin, itu perlu bukti.  Misalnya, kita percaya bahwa shodaqoh itu bisa menambah harta kita, tetapi kita masih ragu apakah benar kalau saya bersedekah itu akan bertambah pula harta kita?  Ini menunjukkan bahwa kita belum yakin.  Kalau saya memberikan harta ini, apakah benar nanti kalau saya butuhkan Allah akan memberikannya?  Bagaimana kalau anak saya sakit, apakah Allah memberi?  Yang lebih parah adalah kita ini lebih percaya kepada Bank daripada percaya kepada Allah.  Coba kita tes: kalau kita mempunyai uang berlebih, dikemanakan uang itu?  Kita lebih percaya menabung di Bank daripada menabung di Allah.  Alasannya: kalau ditabung di Bank kan sewaktu-waktu bisa diambil?  Kalau kita menabung di Allah, bagaimana kalau kita perlu?  Di sini keragu-raguan kepada Allah muncul.  Padahal kalau menabung di Bank, uang kita malah bisa berkurang, perlu mengisi aplikasi dulu kalau mau ambil;  tetapi kalau menabung di Allah adalah kontan, kapan saja butuh ada.  Akan tetapi kita cenderung ragu kepada Allah.  Berarti kita belum yakin kepada Allah.  Padahal kalau kita mau berpikir sedikit lebih jernih, masa’ Allah tidak mau mengganti sedekah kita?  Kalau Allah tidak mau menggantinya, berarti Allah lebih buruk daripada Bank.  Apa benar demikian?  Apa benar iman kita menyatakan demikian?  Inilah sebabnya yaitu iman kita belum nyata, masih ghaib.  Padalah dalam Al Qur’an dinyatakan secara jelas bahwa barang siapa yang meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan langsung membalasnya dengan berlipat ganda.  Di sini digunakan kata ”pinjam”, mengapa digunakan kata itu padahal harta ini juga milik Allah?  Maksudnya adalah Allah pasti membayar atas apa yang diinfaqkan (dipinjamkan) itu.  Membayarnya tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia.  Allah itu adalah sebaik-baik peminjam, dibayarkan kontan di dunia, di akhiratnya adalah bonusnya.  Allah berfirman dalam surat Al Baqarah : 245:

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. 

Atau dalam surat Al Maidah : 12 disebutkan:

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”. 

Dalam surat Al Hadiid : 11 dan 18 disebutkan pula:

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. 

Atau dalam surat At Taghoobun : 17:

Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.

  Jadi, kita beriman kepada Allah?  Ya, pasti.  Tetapi kita kurang yakin kepada Allah SWT, kita masih ragu kepada Allah SWT.  Kalau orang sudah yakin kepada Allah, maka imannya tidak naik turun, tetapi naik terus!  Itu yang dinyatakan dalam hadits bahwa beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihatnya, yang berarti Allah itu sudah nyata di hadapannya.  Itulah puncak dari keimanan: kita yakin Allah mendengar apa yang kita minta, yakin Allah akan menolong kita.  Kalau kita sering kali masih ragu tentang semua itu, malah yang lebih parah adalah menganggap Tuhan itu seperti manusia: Tuhan senang kalau melihat kita susah.  Ini anggapan yang sangat keliru.  Mengapa bisa demikian?  Karena kita sering kali merasa senang kalau melihat orang lain susah, jadinya kita bayangkan Tuhan itu juga demikian.  Padahal seyogyanya shalat, puasa, zakat, haji; kalau benar; akan menambah keyakinan.   Bagaimana cara menepis keraguan itu?  Ada beberapa cara menepis keraguan: 

1.  Ilmu Keyakinan itu bisa tumbuh dengan ilmu, yaitu ilmu akidah dan ilmu iman, dalam bahasa kita dinamakan ma’rifat, ilmu mengenal Tuhan.  Dalam bahasa kita, tidak kenal maka tidak sayang.  Kalau kita makin kenal dengan Allah, maka makin yakin.   

2.  IbadahIbadah yang benar dapat menambah keyakinan kepada Allah.  Kalau ibadah tidak menambah keyakinan kepada Allah, berarti ibadahnya tidak benar.  Makanya dalam surat Al Hijr : 99 dinyatakan:

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). 

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang keyakinan.  Dalam tafsir dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan yakin di sini adalah kematian, yaitu kalau orang sudah mati, semua menjadi nyata.  Ibadah itu seyogyanya menambah keyakinan kepada Allah.  Shalat, misalnya, kalau benar maka seolah-olah kita berjumpa dengan Allah.  Dengan demikian orang yang shalatnya benar, yakin kepada Allah.  Demikian juga puasa, infaq, haji, zakat; kalau itu benar karena Allah, akan menambah keyakinan.  Dengan ibadah yang benar itu kita yakin bahwa Allah tahu.  Shalatnya, misalnya, beranikah kita shalat tanpa wudhu?  Tidak berani, karena kita yakin Allah mengetahui.  Kalau dengan ibadah itu kita tidak yakin, berarti ibadahnya belum benar. Sama juga dengan ilmu, kalau ilmunya bertambah tetapi tidak menambah keyakinannya kepada Allah, berarti ilmunya tidak benar.  Bertambahnya ilmu itu harus menambah keyakinan kepada Allah.  Dalam hadits dinyatakan bahwa barang siapa yang ilmunya bertambah tetapi tidak bertambah hidayahnya, tidak meningkat keyakinannya; maka ia tidak mendapat apa-apa dari Allah SWT atas ilmunya itu kecuali semakin jauh dari Allah.  Mengapa ada orang yang bertambah ilmunya tetapi malah bertambah jauh dari Allah?  Karena ilmunya bertambah, tetapi imannya tidak bertambah.  Padahal orang yang paling takut kepada Allah itu adalah orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman Allah dalam surat Faatir : 28:

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. 

Jadi, ibadah itu harus menambah keyakinannya kepada Allah, apalagi ibadah haji.  Misalnya, pada waktu thawaf, kalau kita memakai pakaian dalam, apakah orang tahu?  Tetapi beranikah kita?  Atau kita buat menjadi enam putaran atau kita buat menjadi delapan putaran; tidak ada orang yang tahu, tetapi apakah kita berani demikian? Mengapa?  Karena kita yakin Tuhan tahu.  Kalau kita beribadah tidak menambah yakin kepada Allah, maka ibadah kita itu tidak benar. 

3.  Pengamalan/Praktek Kalau kita ingin agar menambah keyakinan keimanan kita kepada Allah, mulai sekarang dilatih dengan mengamalkan infaq/shodaqoh; insya Allah nanti akan kontan balasannya.  Ketika kita sering mencoba, Allah akan memberikan apa yang kita minta, masalah-masalah yang sulit akan terbuka satu per satu.  Kita kadang-kadang tidak yakin apakah shodaqoh itu akan dibalas oleh Allah.  Kalau tidak pernah mencobanya, keyakinan itu tidak akan bertambah. Allah sendiri senang kalau hambaNya yakin kepadaNya, sama seperti halnya manusia anaknya yakin terhadap dirinya, atau kalau di perusahaan, pimpinan ingin anak buahnya yakin kepadanya, makanya gajinya disiapkan setiap bulan.  Allah lebih senang lagi kalau hambaNya yakin kepadaNya.  Makanya kita jangan ragu-ragu kepada Allah.  Kita ragu-ragu itu karena kita segan untuk mencobanya.  Kalau kita mencobanya, tidak ragu-ragu, pasti ada jalan: di mana ada kemauan, di situ ada jalan. 

4.  Pengalaman spiritual Kita sering kali mengabaikan pengalaman-pengalaman spiritual, meskipun itu pengalaman yang kecil atau sepele.  Mulai sekarang, catat semua pengalaman spiritual mulai dari yang sepele hingga yang besar-besar.  Ini berguna untuk menambah keyakinan kita dan juga berguna untuk orang lain.  Kalau pengalaman-pengalaman itu kita biarkan, akhirnya lewat saja, tidak berbekas dan tidak menambah keyakinan.  Ini nanti gunanya adalah untuk mengamalkan firman Allah dalam surat Dhuhaa: Wa amma bini’mati rabbika  Apa saja pengalaman spiritual yang kita temui: jalan yang biasanya macet tiba-tiba lancar, mendapat rejeki yang tidak diduga, dikirim sesuatu oleh orang lain; catat semuanya kapan itu terjadi dan kejadian apa itu.  Dengan begitu, kita bisa membacanya pada saat ada masalah, sehingga menambah keyakinan kalau kita minta pasti dikabulkan oleh Allah.  Yang terjadi semuanya itu bukan suatu kebetulan, tetapi memang itu adalah pemberian atau pengabulan oleh Allah SWT atas doa-doa kita.  Misalnya, kita ingin ke Jakarta, hari panas, tiba-tiba ada orang yang mengajak pergi ke Jakarta dengan mobilnya; itu adalah pengalaman spiritual, tulis!  Mengapa kita kurang bertambah yakin?  Karena sering kali menganggap sesuatu yang terjadi itu serba kebetulan.  Kalau semuanya serba kebetulan, maka kapan iman akan bertambah?  Itu adalah pengabulan doa kita.  Dengan menulis nikmat-nikmat itu, maka kita bisa menceritakan kenikmatan itu.  Kalau tidak kita tulis, kita akan lupa, dan tidak akan ingat menceritakannya.  Kebanyakan yang diingat adalah yang buruk-buruk saja, sedang yang baik-baik tidak pernah diingat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: