• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

7 Oktober

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 7 Oktober 2007 

AGAR DOA DIKABULKAN (5) 

Ustadz :  Sambo 

Pada kajian yang lalu kita telah kita bahas cara membangkitkan keyakinan  dalam berdoa bahwa dalam berdoa itu dari yang kecil-kecil pun kita sudah mulai serius, apakah diucapkan dengan mulut atau diucapkan dalam hati.  Kebanyakan orang kalau untuk yang kecil-kecil tidak mau berdoa, hanya yang besar-besar saja berdoa itu.  Kalau untuk yang kecil-kecil dianggap cukup dengan kemampuan dirinya sendiri; akhirnya kebanyakan menjadi agak sombong.  Misalnya, “Masa’ yang seperti ini saja harus minta kepada Tuhan?  Selama kita masih bisa, kita tidak usah minta kepada Tuhan”.  Ini logika prasangka yang salah tentang Allah.   Apa gunanya kita berdoa? 

1.  Supaya tidak sombong

Gunanya kita berdoa tentang yang kecil-kecil itu di antaranya adalah supaya kita tidak sombong, hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.  Kita sering kali menganggap Tuhan itu seperti manusia, manusia itu kalau masih mampu sendiri dikerjakan sendiri, tetapi kalau sudah susah baru minta pertolongan kepada yang lain; akhirnya kepada Allah pun kita mempunyai logika yang sama seperti itu: kalau masih mampu sendiri mengapa harus minta tolong kepada Tuhan? Kalau sudah berat-berat saja baru minta kepada Tuhan.  Itu logika yang salah.  Kalau sesama manusia benar seperti itu, tidak boleh kita bergantung termasuk yang besar pun kalau bisa jangan bergantung; tetapi kepada Allah mulai dari yang kecil-kecil.  Karena, klau kita mulai dari yang kecil sudah sombong, maka yang besar nanti tidak diberi oleh Allah.  Kata Tuhan, ”Kalau kamu lagi mampu tidak minta kepadaKu, tetapi kalau sudah berat baru minta kepadaKu”.  Ini adalah penyakit Qorun, setiap mendapat nikmat dikatakannya bahwa itu hasil ilmu yang ada padaku, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Al Qashash : 78:

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

 Jadi, agar kita tidak sombong, terlalu mengandalkan kemampuan sendiri, kita minta yang kecil-kecil kepada Allah.  Kalau yang kecil-kecil saja juga minta kepada Allah, hal itu menunjukkan bahwa kita ini bergantung penuh kepada Allah.  Allah paling senang kepada hambaNya yang berganung kepadaNya (Allaahush shomad), Allah sangat senang dimintai hambaNya sampai yang kecil-kecil sekalipun.  Ketika ditangkap polisi, misalnya, berdoa, ”Ya Allah segera bebaskan kami…”, atau ketika naik mobil, ”Ya Allah, lancarkanlah jalan ini….”.   

2.  Agar kita bergantung kepada Allah

Selain menjadi tidak sombong, dengan meminta yang kecil-kecil kepada Allah, kita menjadi bergantung.  Dalam agama ini dinamakan tawakal.  Kalau kita sudah bertawakal kepada Allah, maka Dialah yang mengurus semuanya.  Kalau kita sudah bergantung kepada Allah, Dia yang akan mengurus semuanya, Ia yang turut campur dalam semua hal.  Kebanyakan kaum muslimin selama ini beranggapan bahwa Tuhan tidak banyak ikut campur dalam urusan kita, lebih banyak mengandalkan logika kita; akhirnya kita tidak pernah yakin.  Kalau Allah sudah dirasakan ikut campur dalam segala hal urusan kita, keyakinan kita akan berbeda, makin mantap.  Ini difirmankan oleh Allah dalam surat Ath Tholaq : 2-3:

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

 Pertanyaan: bagi Allah mengabulkan doa yang kecil dengan yang besar apakah berbeda atau sama mudahnya?  Sama mudahnya.  Kalau kita sudah yakin bahwa Allah telah mengabulkan doa-doa yang kecil, maka doa yang besar pun akan yakin pula dikabulkan.  Bagi Allah adalah sama mudahnya mengabulkan doa yang kecil maupun yang besar, tidak ada susahnya.  Allah sangat menyukai orang yang bergantung kepadaNya.  Kalau ada orang yang tidak mau berdoa, maka orang itu adalah orang yang sombong.  Ini dijelaskan dalam firmanNya surat 40 : 60:

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

 Orang yang tidak mau berdoa dikatakan sebagai orang yang sombong, akan dikirim ke neraka.  Jangan-jangan kita berdoa yang besar-besar tidak dikabulkan karena kita sok jago, merasa bisa mengatasi sendiri hal-hal yang kecil-kecil. 

3.  Supaya bersyukur

Yang paling penting mengapa kita berdoa adalah supaya kita bersyukur atas apa yang diperolehnya selama ini.  Dengan bersyukur ini, maka semua yang terjadi itu tidak ada yang kebetulan, semua yang terjadi adalah pengabulan doa-doa kita, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang terucap maupun tidak.  Misalnya, ketika kita jalan, ternyata jalan lancar, tidak macet; maka itu bukan suatu kebetulan, tetapi karena doa kita dikabulkan oleh Allah SWT.  Tetapi kalau dalam pikiran kita, ”Wah, nanti macet lagi, macet lagi…”; akhirnya oleh Allah dimacetkan saja.  Jadi, dari yang kecil-kecil pun kita sudah serius, urusan macet saja misalnya, sudah kita minta doanya.  Dengan begitu Allah akan bangga, ”Engkau memang hebat, dari yang kecil-kecil saja engkau sudah mintakan kepadaKu.  Sudahlah yang besar-besar saja silahkan minta kepadaKu….”, begitu logikanya.   Nabi menyatakan bahwa orang yang tidak bersyukur terhadap yang kecil-kecil, tidak akan bersyukur atas yang besar-besar (Man laa yaskuril qoliil laa yasykuril katsiir).  Artinya, kalau kita terhadap yang kecil-kecil tidak pernah minta kepada Tuhan, sehingga ketika itu dikasih oleh Tuhan tidak pernah bersykur, maka kalau dikasih yang besar pun tidak akan bersyukur juga.  Firman Allah dalam surat Ibrahim : 7:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

 4.  Keyakinan bertambah

Kalau yang kecil disyukuri, maka yang besar pun akan diberikan oleh Allah.  Kalau kecil kita berdoa dengan serius, begitu dapat kita bersyukur, maka yang besar pun kita akan dikabulkan.  Kalau dari yang kecil-kecil itu keyakinan kita sudah dipupuk, maka keyakinan kita akan tumbuh.   Keyakinan kita itu ibarat tangga.  Kalau ditanyakan, dalam berapa hidup kita ini, berapa puluh kali kita mengalami peristiwa besar?  Tidak banyak.  Kalau hanya mengandalkan peristiwa yang besar-besar saja kita meningkat keyakinan kita, maka kapan keyakinan kita bisa meningkat?  Coba kalau dari yang kecil-kecil saja kita pupuk keyakinan itu, dan yang kecil-kecil itu terjadi setiap hari, setiap saat; dalam hidup kita ini berapa ribu peristiwa yang kita rasakan?  Kalau ini kita gunakan untuk membangun keyakinan kita, maka betapa besarnya keyakinan itu.  Peristiwa yang besar-besar itu tidak bisa kita andalkan untuk membangun keyakinan, dan itu waktunya adalah lama-lama; bisa jadi 10 tahun sekali baru muncul kejadian itu.  Akhirnya keyakinan kita lemah terus, karena terus menunggu yang besar-besar saja. Oleh karena itu untuk meningkatkan keimanan, jangan menunggu yang besar-besar, yang kecil-kecil kita gunakan untuk membangun keyakinan; nanti yang besar-besar akan didapat. Bagaimana caranya agar yang kecil-kecil itu bisa membangun keyakinan?  Caranya adalah dengan mencatat semua peristiwa baik yang kecil maupun yang besar itu.  Kalau semua kejadian yang kecil-kecil itu dicatat, maka kita akan menjadi hamba yang ebrsyukur.  Efek dari bersyukur itu adalah bertambahnya keyakinan. Mengapa?  Karena Allah akan selalu memberi dan mengabulkan doa-doa kita.  Sebagaimana dijelaskan tadi bahwa bila keyakinan itu digambarkan sebagai tangga, maka misalnya, kalau setiap hari ada 5 hal yang kecil-kecil muncul, dalam sekian hari akan bertambah keyakinan itu.  Dengan demikian semakin banyak doa kita yang dikabulkan, dan kita bertambah bersyukur dan keyakinan semakin bertambah pula.  Dalam doa kita akan mengatakan, ”Ya Allah, doa-doa yang kecil-kecil telah Kau kabulkan, dan bagiMu doa yang besar pun sama saja, maka kabulkan doaku yang besar ini”.  Ini seperti doanya Nabi Zakaria ketika ia di tahanan sebagaimana dijelaskan dalam surat Maryam: 4:

Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku.

 Sebelum Nabi Zakaria minta doa yang besar, ia mengatakan bahwa ia tidak pernah kecewa, karena doa-doanya yang kecil selalu dikabulkan.  Itu menunjukkan bahwa Allah selalu mengabulkan doa.  Kalau kita berdoa, ”Ya Allah, aku tidak pernah kecewa ….”, maka doanya sudah mantap seperti Nabi Zakaria, arsy bisa bergetar.  Bagaimana dengan kejaidan sehari-hari kita?  Yang kecil-kecil jarang disyukuri, yang kecil-kecil tidak pernah berdoa, akhirnya selama ini begitu mendapatkan sesuatu, dianggapnya sebagai kebetulan.  Ingin mendapatkan cendol, kebetulan ada yang memberi cendol; yah lumayan!  Begitu akhirnya.  Kalau seperti yang terjadi, keyakinan tidak akan muncul, dan doa tidak akan dikabulkan. Orang yang tidak mau berdoa dari yang kecil-kecil, maka ia akan menjadi orang yang sombong, tidak bergantung secara penuh kepada Allah dan bergantungnya hanya pada saat butuh saja.  Misalnya, setiap hari bertemu dengan kita, maka lama-lama akan menjadi baik.  Tetapi kalau munculnya hanya pada saat butuh saja, bagaimana perasaan kita?  Kita saja merasa tidak senang dengan yang begitu, apalagi Allah.  Kalau setiap hari bertemu dan menunjukkan rasa terimakasihnya setiap diberi, maka kita pun akan senang untuk memberinya bila ia membutuhkan; demikian pula halnya dengan Allah.  Kalau kita bergantungnya kepada Allah tidak penuh, maka kita akan menjadi hamba yang tidak bersyukur.  Kalau yang kecil-kecil tidak pernah disyukuri, maka kalau minta yang besar tidak akan diberi.  Kalau sudah demikian, maka keyakinannya tidak akan bertambah, bahkan bisa hilang. Kalau keyakinan kita kepada Allah sudah penuh, semua sudah diserahkan kepada Allah, ”Ya Allah, terserah Engkau saja hidupku ini”, kita hanya mengikuti skenario Allah saja.  Selama ini banyak orang yang kecewa dalam hidupnya karena mereka bergerak dengan skenario dirinya, akhirnya capek.  Mereka ingin menjadi sutradara dalam hidupnya, padahal sutradara yang sesungguhnya adalah Allah SWT.  Yang paling enak itu adalah menjalankan skenario Allah.  Kalau menjalankan skenarionya sendiri, akan capek, karena kita tidak mengetahui apa yang akan datang.  Kalau Tuhan, mengetahui apa yang akan datang, semua diserahkan kepada Allah, ia berprasangka baik terus kepada Allah, karena yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik baginya dan Allah akan selalu terlibat dalam urusan kehidupannya.  Keyakinan  yang penuh itulah puncak dari keimanan, dan buahnya adalah semua doa dikabulkan, berserah diri kepada Allah.  Akhirnya semuanya selalu ada jalannya, dan itu yakin diatur oleh Allah.  Dengan demikian jalan hidupnya mulus, kalaupun ada hambatan itu adalah hal yang biasa dan perlu perjuangan.  Tetapi perjuangan atau ujian itu akhirnya mudah dijalani, karena yakin bahwa itu semua adalah skenario Allah.  Kalau kita yang menyusun skenarionya, yang menjadi sutradaranya, juga menjadi pemainnya; akhirnya capek hidup ini. Kalau kita mengikuti skenario Allah, berserah diri, semua akan menjadi mudah.  Kita lihat misalnya ketika tahwaf, sepertinya sulit sekali melihat dari jauh begitu banyak orang, tetapi begitu sudah masuk, ada saja jalannya sampai-sampai bisa mencium hajar aswad.  Demikian hidup ini, sepertinya jalannya susah, tetapi aklau kiat berserah diri akhirnya menjadi lancar-lancar saja, seperti sudah diarahkan hidup ini.  Jadi, mulai sekarang kita harus menyukuri dari hal-hal yang kecil-kecil. Apa gunanya kita menulis kejadian-kejadian mulai dari yang kecil-kecil hingga yang besar-besar?  

 1.  Agar tidak lupa Agar kita selalu ingat bahwa Allah itu Maha Baik, selalu memberi apa yang kita minta.  Kita itu sering melupakan hal-hal yang kecil-kecil, kalau itu tidak ditulis.  Biasanya yang diingat itu adalah hal-hal yang besar.  Kalau kita mendapatkan cendol pada saat kita menginginkannya pada waktu dua tahun yang lalu, kalau tidak dicatat akan lupa.  Penyakit manusia itu adalah suka lupa, sebagaimana sabda Nabi:  Al insaanu mahalul khotho wa nisyan, manusia itu tempatnya salah dan lupa.  Dengan mencatat itu kita menjadi tidak lupa. 

2.  Supaya selalu ingat kebaikan Allah Lebih banyak mana: doa yang dikabulkan oleh Allah atau yang tidak dikabulkan?  Kalau ada lima doa yang dikabulkan ada 4 dan yang tidak dikabulkan satu, maka yang diingat adalah satu yang tidak dikabulkan itu.  Orang itu biasanya yang diingat adalah yang jeleknya saja.  Kebaikan orang yang banyak, karena ada sesuatu hal yang dinilainya tidak sesuai dengannya, maka orang itu divonis salah terus.  Termasuk juga penilaian kita kepada Allah: kebaikan Allah yang begitu banyak tidak diingat, tetapi yang diingat adalah permohonan kita yang tidak dikabulkan.  Dengan mencatat semua kejadian itu, maka yang kita ingat adalah yang banyak itu (kejadian-kejadian dikabulkannya doa), yang tidak dicatat dilupakan.  Sabda Nabi:  man laa yaskurin naasa laa yasykuril llaah, Man laa yasykuril qoliil laa yasykuril katsiir,  barang siapa yang tidak menyukuri yang kecil-kecil, maka ia tidak akan pernah bersyukur terhadap yang besar-besar.  Orang yang tidak bersykur kepada manusia, tidak akan pernah bersyukur kepada Allah.  Tetapi kalau semua kejadian pemberian Allah, dengan menulis yang baik-baik, membuang yang jelek-jelek; maka akan menjadi ingat yang baik-baik. 

3.  Menambah keyakinan doa Kalau ada seratus doa kita, lima doa kita yang tidak dikabulkan, biasanya yang kita lihat dan ingat adalah yang lima itu.  Kalau yang kita ingat yang tidak dikabulkan itu, maka kalau kita berdoa lagi akan berpikir, ”Yang lima saja tidak dikabulkan, apalagi minta lagi…”; keyakinan menjadi hilang, berdoanya menjadi tidak yakin.  Tetapi kalau dari 100 doa itu yang diingat adalah yang 95 yang dikabulkan, maka kita berdoa yang ke 101; maka 95% doa kita akan yakin dikabulkan. 

4.  Hati menjadi tenang Kalau yang terjadi adalah yang baik-baik terus, maka hati menjadi tenang dan lapang.  Lanjutan dari ayat ”Wa amma bini’mati fahaddits” adalah surat Allam Nasyrah:

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,

yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

 Kalau yang terjadi adalah kebaikan-kebaikan, maka selanjutnya Allah akan melapangkan dadanya.  Dan kalau sudah selesai satu urusan dan dikabulkan oleh Allah, selanjutnya membuat urusan yang baru, buat doa yang baru, dikabulkan lagi, dibuat doa yang baru; begitu seterusnya.  Sepertinya surat Adh Dhuhaa dan Al Insyirah itu terpisah, padahal itu adalah menyambung.  Ini dinamakan munasabah surah.  Surat Adh Dhuhaa turun gara-gara sekian bulan wahyu tidak turun, Nabi merasa ditinggalkan oleh Allah, merasa Allah benci dengan Nabi.  Kita lihat bunyi surat Adh Dhuhaa:

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,

dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

 Surat ini adalah teguran kepada Nabi agar jangan berprasangka buruk kepada Allah.  Ini adalah pelajaran bagi kita agar tidak berprasangka buruk kepada Tuhan.  Makanya diingatkan oleh Allah: ”Bukankah ketika kamu menjadi yatim, Aku yang menyelamatkanmu?  Bukankah ketika engkau dulu dalam keadaan bingung, Aku yang memberi petunjuk? Bukankan ketika engkau dulu miskin, Aku yang menjadikanmu kaya? (diberi isteri yang kaya raya).  Oleh karena itu ingatlah nikmat-nikmat yang telah Aku berikan dari dulu.  Dulu Aku berikan, sekarang pun Aku berikan”.  Dilanjutkan dalam surat Al Insyirah bahwa jangan khawatir, bersama kesukaran itu pasti ada kemudahan.  Akhirnya masalah yang tadinya susah menjadi mudah.  Kalau semua urusan menjadi mudah, maka selesai urusan yang satu, ganti yang lain; selesai dari doa yang satu ganti dengan doa yang lain.  Doa kita makin banyak, lama-lama menjadi bergantung terus kepada Allah. 

5.  Urusan mudah Kalau hati sudah menjadi lapang, apa yang terjadi?  Semuanya menjadi mudah.  Makanya dalam doa itu didahului kelapangan dada baru dilanjutkan dengan kemudahan.

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku,

 Sebelum minta agar urusan menjadi mudah, maka yang diminta terlebih dahulu adalah kelapangan dada.  Artinya, kalau kita minta urusan kita agar dipermudah tetapi hati kita tidak pernah lapang, maka itu tidak akan bisa.  Kalau sudah lapang dada kita, semua doa dikabulkan, yang terjadi adalah ketenangan, dan urusan menjadi mudah (Inna ma’al ’usri yusron).  Kalau semua urusan menjadi mudah, maka itu namanya berhasil. Doa apa saja yang harus kita minta?  Kalau untuk urusan dunia, buat prioritas doa, mulai dari yang kecil-kecil.  Untuk urusan ynag besar-besar, pilih yang menjadi prioritas; jangan banyak-banyak agar doa kita menjadi fokus.  Tetapi kalau untuk urusan akhirat, maka setiap hari harus dimintakan, dan mintalah yang banyak.  Ketika Nabi sedang mengajarkan masalah doa, salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, ”Ya Rasululallah, aku tidak pandai berdoa yang panjang-panjang; doaku hanya satu saja”.  Nabi bertanya, ”Apa yang kau doakan?”.  Sahabat itu menjawab, ”Aku hanya minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka saja”.  Kata Nabi, ”Doa itu pun sudah panjang sekali”.  Artinya, kalau satu saja yang diminta tetapi itu adalah masalah yang besar, sudha cukup, semua diambil.  Meminta dengan doa dengan prioritas sebenarnya bagi Allah tidak menjadi masalah mau minta berapa saja, tetapi bagi kita itu perlu agar diri kita menjadi fokus dalam berusaha. 

6.  Menjadi Ibroh (pelajaran) bagi orang lain Dengan mencatat doa itu maka bisa menjadi pelajaran yang bisa dibaca oleh orang lain, minimal adalah keluarga kita, ”Inilah catatan Bapak/Ibu kalian ketika memohon sesuatu kepada Tuhan, selalu dikabulkan”, akhirnya keluarga kita turut menjadi yakin kepada Allah.  Sering kali kita kurang bercerita dalam urusan seperti ini diceritakan kepada keluarga.  Melalui catatan itu bisa disampaikan.  Betapa banyak penulis buku yang mengangkat masalah kisah-kisah hidup, catatan hidup seseorang.  Dengan mencatat doa-doa kita itu bisa kita jadikan bahan kita menyusun buku, sehingga orang lain yang membacanya bertambah yakin kepada Allah dan pahalanya pun akan mengalir kepada kita.  Makin banyak kita mempunyai kisah hidup yang menakjubkan yang menunjukkan kekuasaan Allah, makin banyak menambah iman orang lain.  Orang-orang besar itu hidupnya penuh dengan kejadian yang menakjubkan dan direkam, sedangkan kita sudha kejadiannya kecil tidak pernah merekam pula.  Niat menulis buku itu pun jangan agar dilihat orang menjadi orang yang hebat, tidak boleh seperti itu, tetapi agar bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Kalau kita sudah yakin dan sudah berusaha sungguh-sungguh, tetapi doa belum dikabulkan, maka perhatikan amal-amal yang lain.  Amal itu bisa amal positif yang mendorong doa kita atau amal yang negatif yang membuat doa kita merosot.  Contoh amal yang negatif adalah kita pernah mendzalimi orang lain, apalagi yang didzailimi itu adalah orang tua kita, itu sangat berat.  Misalnya ibu kita mengatakan, ”Sumpah, kau tidak akan senang-senang seumur hidup”, maka sulit kita untuk bisa senang dalam hidup.  Jalan untuk keluar dari kesulitan itu adalah harus minta maaf dulu.  Ada seseorang yang menyampaikan kesulitannya (curhat), ”Ustadz, saya pernah menyumpahi orang tuaku: Ma, aku rasanya sudah tidak ingin berjumpa Mama lagi, aku tidak butuh Mama”.  Dia akhirnya merantau, sekarang alamat orang tuanya dicarinya tidak ketemu, ia tidak tahu di mana orang tuanya berada.  Selama lima tahun hingga sekarang ia tidak bertemu di mana alamat orang tuanya.  Saudara-saudaranya pun tidak tahu.  Ia bersumpah lagi selain sumpahnya yang itu, ”Ma, aku tidak ingin punya isteri kalau seperti Mama isteriku itu”.  Sampai sekarang ia tidak kawin-kawin, tidak dapat jodoh.  padahal umurnya hampir 40 tahun.  Masalah doa-doa yang lain oleh Allah dikabulkan, seperti urusan bisnis, lancar urusan bisnisnya; tetapi untuk doa agar bertemu orang tuanya dan untuk menikah oleh Allah tidak dikabulkan.  Berkali-kali ia melamar gagal terus.  Sebenarnya bukannya Tuhan tidak mengabulkan doanya, malah mengabulkan doanya yang dulu: tidak bertemu orang tua dan tidak mempunyai isteri seperti Mamanya.  jadi, kalau ada doa-doa yang tidak dikabulkan, kita lacak apa penyebabnya.  Atau sebaliknya, baru berdoa lima persen atau sepuluh persen, tiba-tiba dikabulkan doa kita, ini bisa jadi gara-gara amal yang lain pula.  Amal itu bisa mendorong doa menjadi cepat dan bisa juga doa menjadi turun atau tidak dikabulkan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: