• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

28 Desember 2008

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 28 Desember 2008

MEMAKNAI TAHUN BARU ISLAM

Ustadz : Sambo

 

Tahun baru Islam diperingati tidak dalam rangka berpesta pora sebagaimana yang dilakukan oleh umat Nasrani atau orang-orang yang tidak beriman, tetapi tahun baru yang kita maknai nilai-nilainya; sehingga memasuki tahun baru ini harapan kita adalah bisa lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya. Karena, salah satu ciri orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin atau hari esok lebih baik daripada hari ini. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin, maka ini adalah suatu kerugian; apalagi kalau lebih buruk dari hari kemarin, rasulullah SAW menyatakan bahwa itu adalah orang yang celaka.

Nilai-nilai apa yang bisa kita ambil dari tahun baru Hijriyah ini? Ini perlu kita kaji, paling tidak untuk menambah wawasan kita terhadap tahun Hijriyah.

Perhitungan waktu itu ada yang namanya ”hari”, ”bulan”, dan ”tahun”. Satuan perhitungan yang terkecil adalah ”hari”, yaitu masa berputarnya bumi pada porosnya. ”Bulan” adalah masa berputarnya bulan mengelilingi bumi. Sedangkan ”tahun” adalah 12 bulan atau 12 kali perputaran bulan terhadap bumi. Ini adalah perhitungan tahun dalam agama Islam. Kalau perhitungan bulan dalam agama di luar Islam, yang disebut satu tahun itu, Masehi misalnya, adalah masa berputarnya bumi mengitari matahari. Satu kali perputaran bumi terhadap matahari disebut satu tahun. Kalau dalam Islam, banyaknya bulan itu ada 12 bulan, sedangkan jumlah bulan dalam hitungan Masehi, awalnya adalah 10, yaitu: Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, September, Oktober, Nopember, dan Desember. Kata ”December” itu artinya ”sepuluh”, desimal, desimeter, dasa warsa, dlsb. ”Ota” artinya 8, ada kata ”Oktavianus”, artinya tangannya ada 8; sedangkan ”sapta” adalah 7; oleh karena itu ada istilah ”sapta marga”, ”sapta pesona”. Karena ini tidak cocok dengan masa perputaran bumi terhadap matahari, maka dibuatlah bulan itu menjadi 12, dua disisipkan di tengah-tengah untuk mengenang Raja Julius Caesar, dan Raja Agustus. Oleh karena itu dibuatlah bulan ”Juli” dan ”Agustus”, sebagai bulan ketujuh dan kedelapan. Seharusnya bulan ketujuhnya ”September”, disisipkan dengan bulan ”Juli”; demikian pula dengan bulan kedelapan, seharunya ”Oktober”, disisipkan lagi dengan bulan ”Agustus”, baru bulan kesembilannya bulan ”September”. Dalam Islam tidak ada perubahan nama-nama dan urutan-urutan bulan semenjak diciptakan alam semesta alam ini. Sejak diciptakannya alam semesta ini, sudah ada hari dan bulan, bahwa bulan itu ada 12 dan hari itu ada 7; hanya saja tahunnya yang tidak ada tahun ke berapa; tetapi hitungan satu tahun adalah 12 bulan itu sudah ada. Dahulu namanya tahun itu dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa, seperti tahun ”Gajah”, tahun ”Kenabian”. Orang menyatakan tahun, misalnya, ”Sepuluh tahun setelah bergajah”, artinya 10 setelah peristiwa penyerangan Mekah oleh tentara bergajah. Atau, hijrah itu adalah 10 tahun setelah tahun kenabian, tidak ada tahun 1, tahun 2, tahun 3; dst. Saat itu belum ditentukan tahun 1, tahun 2, dst; sebelum Islam datang, sejak jaman Nabi Adam. Walaupun nama bulannya dan jumlahnya sudah ada, tetapi tahunnya belum ditentukan tahun ke berapa. Nama-nama bulan, seperti Muharam, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, dst; sudah ada dari dulu sebelum rasulullah SAW datang, bahkan jauh sebelum manusia ini ada. Sejak alam diciptakan, sudah ada nama-nama bulan. Jadi, jangan disangka bahwa bulan Islam itu baru ada setelah adanya tahun Hijriyah. Kita lihat dalam surat At Taubah : 36:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranyaada empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

[640] Maksudnya antara lain Ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram.

[641] Maksudnya janganlah kamu Menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan Mengadakan peperangan.

Jumlah bulan di sisi Allah ada 12 bulan, yang ditentukan saat menciptakan alam semesta. Allah menetapkan 12 bulan dalam setahun itu sudah ditentukan sejak alam semesta diciptakan. Ini menjadi dalil bahwa bulan Islam itu bukan sejak hijrahnya rasulullah, di antaranya ada 4 bulan yang haram, yaitu disebut bulan suci, bulan yang didalamnya haram untuk berperang, haram untuk menganiaya diri sendiri. Jadi, hari dan bulan sudah ada dari dulu, hari jumlahnya tujuh dan bulan ada dua belas; hanya saja masalahnya adalah tahun, kapan tahun pertamanya? Sebelum rasulullah tidak ada tahun pertama itu, baik sebelum dangkat menjadi rasul dan sesudahnya. Kalau orang Nasrani atau tahun Masehi, tahun pertama itu dibuat ketika lahirnya Nabi Isa; itupun masih menjadi perdebatan, masih bisa diperdebatkan kebenarannya. Misalnya, yang benar ketika Nabi Isa lahir itu tahun nol atau tahun satu? Karena, ada tahun sebelum Masehi dan setelah Masehi; berarti ketika lahir itu adalah tahun nol; antara -1 dan 1. Ada sebutan 2 tahun sebelum Isa lahir, disebut 2 tahun sebelum Masehi. Ada pula 3 tahun setelah Isa lahir, disebut 3 tahun sesudah Masehi, dsb. Inilah yang membingungkan sampai sekarang, apakah ketika lahirnya Isa itu tahun nol atau tahun 1?

Sedangkan Islam, dulunya tidak ada tahun 1 atau tahun 2, dst; sejak jaman khalifah Umarlah tahun itu baru dibuat. Karena, pada saat itu sahabat bingung, di mana tahun kesekiannya? Akhirnya pada saat itu Umar bin Khattab melakukan ijtihad, ”Kita harus membuat tahun”, tetapi masalahnya kapan yang dinamakan tahun pertama dalam Islam, bukan tahun nol? Makanya hitungan pertama dalam Islam itu adalah satu, bukan nol. Tahunnya baru ditentukan pada jaman khalifah Umar, tetapi nama bulannya sudah ada sejak alam diciptakan. Tentang tahun ini, kita bisa melakukan flashback, bahwa umur rasulullah ketika diangkat menjadi nabi adalah 40 tahun, bukan tahun Masehi, tetapi tahun dalam arti 12 bulan Islam, karena perbedaan bulan Islam dan bulan Masehi itu sekitar 11-12 hari. Dalam Islam itu sudah pasti, dalam bulan Islam itu 29 atau 30 hari. Orang Barat itu tidak konsisten, menamakannya bulan (month, dasarnya adalah moon) yang umurnya 30 atau 31 hari, bahkan ada 28 atau 29 hari. Ini tidak konsisten, mestinya standarnya adalah bulan; makanya membingungkan. Kalau dalam Islam tidak demikian, karena umur bulan adalah 29 atau 30 hari. Makanya kalau ditanyakan, misalnya, kapan bulan awal itu? Mereka tidak bisa mengetesnya, tetapi kalau kita mudah saja, yaitu tinggal lihat saja bulan terbit yang umurnya 29 atau 30 hari, karena perputaran bulan hampir sama dengan 29,5 hari.

Kembali ke masa rasulullah SAW, bahwa ketika diangkat menjadi nabi adalah berumur 40 tahun. Isra’-Mi’raj terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Kalau tahun kenabian itu adalah tahun pertama, maka Isra’-Mi’raj adalah tahun ke-10. Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah adalah tahun ke-13 kenabian. Dan, rasulullah meninggal dalam usia hamipir 63 tahun, menurut riwayat meninggalnya adalah pada bulan Rabi’ul Awal. Jarak kenabian hingga beliau meninggal adalah mulai turunnya surat Al ’Alaq hingga ayat yang terakhir adalah 22 tahun, 2 bulan, 22 hari; karena umur rasulullah itu tidak jauh berbeda dengan duturunkannya Al Qur’an. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa rasulullah meninggal setelah 10 tahun hijrah. Ada yang meriwayatkan bahwa rasulullah meninggal setelah 10 hari ayat yang terakhir turun atau 81 hari setelah haji wada’. Ada yang menyatakan bahwa rasulullah meninggal sama dengan tanggal ketika beliau lahir, 12 Rabi’ul Awal.

Setelah rasulullah meninggal, 2 tahun Abu Bakar memerintah, setelah itu 10 tahun Umar memerintah. Di jaman khlaifah Umar ini terjadi perdebatan, kapan terjadinya awal tahun Islam? Ada yang mengusulkan pada tahun lahirnya Nabi. Kalau yang dipakai adalah tahun lahirnya Nabi, apa bedanya dengan kaum Nasrani yang membuat perhitungan awal tahun adalah ketika lahirnya Nabi Isa? Padahal nabi menyuruh umatnya agar berbeda dengan orang di luar Islam, akhirnya disepakati bahwa tahun pertama Islam adalah tonggak kemenangan, yaitu pada waktu hijrah nabi. Ini adalah kesepakatan, mulai tahun pertamanya. Jadi tahun hijriyah itu dihitung 13 tahun setelah rasulullah diangkat sebagai nabi, bukan sebagai rasul. Apa beda antara nabi dan rasul? Nabi itu adalah orang yang menerima wahyu. Rasul tu adalah Nabi yang diperintah untuk membawa syariat. Nabi itu lebih banyak daripada rasul. Makanya dalam hadits dinyatakan bahwa nabi itu ada sekitar 124.000, sedangkan rasul itu ada 313-314. Yang tertulis dalam Al Qur’an, rasul itu ada 25. Terjadi ikhtilaf-perbedaan, satu nabi, yaitu Nabi Adam; ada yang menyatakan bahwa Adam itu adalah Nabi, tetapi bukan rasul; tetapi ada yang menyatakan bahwa Adam itu selain Nabi juga Rasul; karena beliau adalah orang yang pertama. Diangkat menjadi nabi itu setelah turunnya surat Al ’Alaq, sedangkan diangkat menjadi rasul itu setelah turunnya perintah untuk berdakwah, yaitu surat Al Muddatsir.

Yang menjadi permasalahan adalah bahwa tahun hijriyah itu adalah tahun hijrahnya nabi. Menyebut tahun hijrahnya, itu benar, yaitu tahun di mana nabi hijrah; tetapi bulan hijrahnya tidak benar. Nabi hijrah itu bukan bulan Muharam. Benar bahwa nabi hijrah pada tahun itu, tetapi bulannya adalah bulan Abi’ul Awal, bukan 1 Muharam. Tanggal 1 Muaharam itu adalah tanggal tahun baru Islam. Tahun baru tetap dimulai dari bulan Muharam, bukan bulan Rabi’ul Awal ketika nabi hijrah. Nabi itu lahir bulan Rabi’ul Awal, hijrah juga bulan Rabi’ul Awal, dan meninggalnya pun di bulan Rabi’ul Awal. Kita memperingati 1 Muharam sebagai tahun baru Islam, itu benar; tetapi itu bukan bulan hijrahnya nabi. Dari dulu, tahun baru itu adalah 1 Muharam, jauh sebelum rasulullah datang. Ini yang membedakan dengan orang-orang Nasrani, kalau Masehi dikatakan pada tanggal 25 Desember, pada saat Nabi Isa lahir. Ini tidak mungkin, karena dalam ayat dijelaskan bahwa Nabi Isa lahir ketika bintang terang. Itu terjadi bukan di musim dingin, tetapi di musim kurma. Sedangkan musim kurma itu bukan di musim dingin, tetapi di musim puncak-puncaknya panas. Karena, kurma itu tidak mungkin akan berbuah kalau panasnya tidak sampai 14 jam. Bagi yang pernah melaksanakan umroh di bulan Agustus, bertepatan dengan panennya kurma; di situ puncak-puncaknya panas. Jadi, tidak cocok antara tanggal 25 Desember dengan tanda-tanda kelahiran Nabi Isa; tidak cocok antara bulan Islam dengan bulan Masehi.

Apa makna hijrah? Hijrah adalah pindah dari suatu tempat menuju tempat yang lain. Ada dua pengertian hijrah, yaitu hijrah makani dan hijrah ma’nawi. Hijrah makani adalah hijrah tempat, sedang hijrah ma’nawi adalah hijrah dari suatu kondisi ke kondisi yang lebih bak. Hijrah makani hanya ada di jaman rasul, setelah itu tidak ada lagi istilah hijrah makani, hijrah tempat, yang ada adalah hijrah ma’nawi; walaupun misalnya pindha dari Amerika ke sini. Ini namanya juga hijrah ma’nawi, bukan hijrah makani. Mengapa? Karena pada jaman nabi dulu, hijrah adalah pindah dari negeri kafir ke negeri Islam. Sekarang ini hampir tidak ada negeri yang semuanya kafir. Amaerika, misalnya, tidak semuanya kafir, banyak juga orang Islamnya. Hampir semua negeri, ada orang Islamnya. Hijrah makani itu kalau pindah dari negeri yang semua penduduknya kafir, ke tempat yang ada penduduk muslimnya. Sedangkan hijrah kondisi adalah hijrah minadz-dzulumaati ilaan nuuri, pindah dari kegelapan menuju cahaya. Ayat yang digunakan sebagai dasar adalah surat Al Baqarah : 257:

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Ayat yang kedua adalah surat Ath Thalaq : 11:

(dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. dan Barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.

Mengapa harus hijrah? Ada beberapa alasan harus hijrah, yaitu:

1. Syarat diterimanya iman

Alasan pertama mengapa harus hijrah adalah sebagai syarat diterimanya iman. Dengan hijrah, ia pindah dari kondisi tempat yang tidak beriman menuju tempatnya iman. Misalnya, ia beriman dan tinggal di suatu rumah yang semuanya bukan Islam; kalau ia tetap di situ terus, maka itu akan membahayakan imannya. Makanya ia harus hijrah, kalau tidak, imannya akan rusak; kecuali memang tidak ada jalan lain untuk pindah. Kalau tidak bisa untuk pindah, tidak ada jalan lain, atau tidak tahu jalannya; boleh tidak pindah. Mengapa? Kalau ia beriman, lalu tidak pindah, imannya akan rusak lagi; bisa murtad lagi. Dalam Al Qur’an dijelaskan orang-orang beriman, tetapi karena tidak hijrah, tempatnya neraka juga; padahal ia mampu untuk hijrah (surat An Nisaa’ : 97-99):

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri[342], (kepada mereka) Malaikat bertanya : “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

[342] Yang dimaksud dengan orang yang Menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi sedangkan mereka sanggup. mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.

kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),

mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ada orang yang beriman, tetapi tidak mau hijrah; masih bercokol di Mekah yang dalam kondisi kekafiran. Mestinya orang yang beriman itu matinya adalah dalam kondisi bahagia. Memang bisa jadi ketika hidup sengsara, tetapi orang yang beriman itu matinya adalah berhagia. Tetapi ini tidak demikian, sudah hidupnya sengsara, matinya sengsara juga. Ketika mereka ditanya oleh malaikat, mereka menjawab bahwa mereka itu orang lemah. Oleh malaikat ditanya lebih lanjut, mengapa tidak pindah? Ayat itu menunjukkan bahwa alaupun orang itu beriman, kalau ia tidak hijrah, pada hakekatnya ia belum beriman, karena masih dalam kondisi kekafiran itu. Dalam ayat yang ke-98 dan 99 dijelaskan perkecualiannya, boleh tidak berhijrah. Kalau memang tidak mampu lagi untuk hijrah, mudah-mudahan Allah memaafkannya.

2. Menyelamatkan iman

Alasan berikutnya mengapa harus hijrah adalah agar imannya selamat. Sebab, kalau tidak hijrah, imannya bisa tidak selamat. Makanya kalau kita berada di suatu tempat di mana kondisinya bisa menyebabkan iman kita tidak selamat, maka harus hijrah. Tetapi kalau iman kita masih selamat, tidak ada masalah kalau pun tidak hijrah. Misalnya, kita tinggal di suatu negeri yang muslimnya sangat minoritas; kalau di situ aman-aman saja iman kita, tidak dipaksa menuju kekafiran, aman dalam melaksanakan ibadah; maka tidak harus hijrah. Tetapi kalau tetap tinggal di situ lalu dipaksa untuk pindah ke kafiran, maka haris pindah. Makanya pada jaman nabi dulu, kalau ia tidak pindah, keimannya pasti akan rusak. Ada seorang sahabat bertanya kepada rasulullah, bagaimana kalau berperang melawan orang yang beriman tetapi tidak ikut hijrah, berada di pihak musuh? Rasulullah menyuruhnya untuk membunuhnya. Mereka sebenarnya beriman, tetapi imannya disembunyikan, ketika perang ia berada di pihak mana? Kalau ia tetap berada di pihak musuh, boleh dibunuhnya. Termasuk pula kalau kita berada di suatu tempat yang mengharuskan kita untuk menyembunyikan iman kita, maka kita harus pindah.

3. Jalan menuju surga jelas

Orang yang hijrah itu jalan menuju surganya jelas. Dalam surat An Nisaa’ : 100 dijelaskan bahwa kalau seseorang hijrah dan mati sebelum sampai di tempatnya, maka matinya adalah mati di jalan Allah.

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Orang yang hijrah itu jalan menuju surganya sudah jelas. Walaupun belum sampai kemudian mati, walau baru beberapa langkah dari rumah, maka ia akan masuk surga, dinilai sempurna amalnya; apakah matinya karena orang lain, atau mati taqdir Allah.

Dalam kondisi apa kita harus hijrah? Ada 5 kondisi dzulumat (kegelapan) sehingga mengharuskan untuk hijrah:

1. Hijrah dari kebodohan menuju ilmu agama

Hijrah yang pertama adalah hijrah dari kebodohan (kejahiliahan) menuju ilmu. Yang dimaksud adalah dalam kebodohan agama. Meskipun ia beriman, kalau tidak hijrah dari kebodohan, lama-lama imannya akan nyasar.

2. Hijrah dari syirik menuju tauhid

Hijrah yang kedua adalah hijrah dari kesyirikan menuju tauhid. Agama yang kita peroleh (kebanyakan) adalah kita dapatkan dari orang tua kita. Berbagai kesyirikan di lingkungan kita sudah merajalela. Kita harus pindah, dalam artian ma’nawi, dari kondisi yang kesyirikannya banyak menuju ketauhidan.

3. Hijrah dari kesesatan

Apa bedanya syirik dan sesat? Syirik itu menduakan Tuhan, sedang sesat itu menyimpang dari agama. Misalnya Ahmadiyah, mereka tidak syirik, tidak menduakan Tuhan, mereka percaya bahwa Allah itu satu; tetapi mereka menyimpang, sesat, tidak mengakui kenabian terakhir rasulullah. Syahadat mereka bertambah, mengakui bahwa masih ada nabi baru setelah Nabi Muhammad, ysitu Ghulam Ahmad; walaupun mereka tetap menyatakan bahwa Nabi Muhammad itu adalah rasul. Ghulam Ahmad itulah yang mereka yakini akan menyelamtkan mereka.

4. Hijrah dari kemaksiyatan

Hijrah berikutnya adalah hijrah dari kemaksiyatan. Bisa jadi kita tidak terkena pada semuanya, tetapi salah satu dari hal-hal itu, maka kita harus hijrah {maknawi). Kita harus hijrah dari kondisi yang penuh maksiyat menuju kondisi yang taat kepada Allah. Misalnya, kita tinggal di suatu tempat yang penuh dengan kemaksiyatan: judi, mabuk, narkoba, maling; maka harus hijrah, sebab kalau tidak, maka imannya akan berbahaya.

5. Hijrah dari kondisi yang kurang kondusif

Kondisi ini sebenarnya tidak terlalu membahayakan. Memang kalau tidak hijrah tidak menjadikannya kafir, tetapi imannya tidak bertambah. Kalau seperti itu, sebaiknya hijrah ke tempat yang Islamnya berkembang dengan baik. Tetapi kalaupun tidak hijrah pun tidak apa-apa; selama 4 hal yang di atas dihindari. Misalnya, saudara-saudara kita yang tinggal di Amerika; kalau mereka bisa menghindari yang 4 hal di atas, maka tidak apa-apa tidak hijrah. Tetapi kalau itu membahayak imannya, maka harus hijrah. Misalnya lagi, hidup di Belanda, tidak menjadi masalah, walaupun aurat terbuka sangat bebasnya, tetapi banyak saudara-saudara kita di sana yang kuat imannya; justru makin kuat. Mengapa? Karena ujiannya lebih berat, walaupun sebagian ada juga yang goyang imannya. Bahkan mungkin mereka lbih hebat dari kita. Puasa, misalnya, kwtika puncaknya musim panas, puasanya bisa sampai 17-18 jam, sahur pukul setengah lima, buka jam 09 malam. Tetapi ketika musim dingin, puasanya bisa hanya 8-9 jam; sahur jam 08 pagi, bukanya jam 3 sore. Seandainya perhitungan bulan itu berdasarkan perputaran bumi terhadap matahari, maka kalau puasa di bulan September, akan puasa terus-terusan. Untung perhitungannya berdasarkan perputaran bulan terhadap bumi, sehingga puasanya bisa bulan September, Oktober, Desember, dlsb. Itulah salah satu hikmah perhitungan bulan bukan berdasarkan perputaran bumi terhadap matahari. Tetapi kalau waktu shalat, dasarnya adalah perputaran bumi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: