• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

6 Januari

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 6 Januari 2008

Tafsir Surat Al Baqarah : 85-86 (Lanjutan)

Ustadz : Sambo

clip_image002

Pada ayat 85 dan 86 maupun sebelumnya sebagaimana telah kita kaji bahwa sifat Bani Israil itu beriman kepada sebagian kitab suci dan mengingkari sebagian yang lainnya. Bentuk mengingkari sebagian kitab itu bermacam-macam, yaitu: (1) Mengambil yang enak dan meninggalkan yang tidak enak, (2) Mempertentangkan ayat-ayat, (3) Mengambil ayat-ayat mutasyabihat (samar maknanya) dan meninggalkan ayat yang muhkamat (jelas).

Sifat-sifat seperti itu sekarang ini juga menempel pada beberapa orang Islam. Bahkan yang lebih parah lagi adalah menyatakan bahwa Al Qur’an itu sekarang ini sudah tidak relevan lagi. Yang seperti ini juga termasuk beriman kepada sebagian ayat dan ingkar terhadap sebagian yang lainya. Ia beriman bahwa Allah itu maha tahu, Allah maha kuasa ia yakini; tetapi begitu kembali kepada Qur’an, ia katakan, ”Qur’an ini buatan manusia, ada campur tangan manusia”. Mereka terhadap Al Qur’an tidak seratus persen percaya. Ada beberapa kemungkinan terhadap ketidakpercayaan itu:

a. Meragukan isinya

Mereka meragukan apakah isi Al Qur’an itu benar dari Allah. Mereka memiliki asumsi-asumsi yang sepertinya benar, logis. Misalnya, apakah orang bisa ingat semuanya atas apa yang diucapkan oleh Nabi? Apakah tidak ada kata atau kalimat yang terkorupsi? Asumsi-asumsi seperti ini mereka bangun karena mereka menggunakan teori atau asumsi yang meeka pakai terhadap Bible. Mereka menganggap bahwa Al Qur’an itu tidak murni, ada campur tangan manusia yang pasti dari deretan cerita satu orang terhadap orang-orang berikutnya hingga generasi sekarang ini, ada kata atau kalimat yang menyimpang dari aslinya. Padahal mereka di sisi lain percaya bahwa Allah itu maha mengetahui, Allah itu maha kuasa. Yang seperti ini termasuk golongan yang beriman terhadap sebagian ayat. Kalau ia beriman kepada Allah bahwa Ia maha kuasa, mengapa tidak yakin akan kebenaran Al Qur’an? Padahal Allah berfirman:

clip_image003

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Mereka yakin Allah itu maha kuasa, mengapa mereka meragukan keotentikan Al Qur’an?

b. Al Qur’an tidak berlaku sepanjang jaman

Mereka beriman kepada Al Qur’an, tetapi menurut mereka Al Qur’an tu tidak berlaku sepanjang jaman. Menurut mereka Al Qur’an itu adlaah untuk jaman Nabi Muhammad, tidak berlaku untuk sekarang ini. Mereka mengakui kebenarannya di jaman itu, tidak mengakui kebenaran untuk jaman sekarang. Padahal banyak ayat yang menyatakan bahwa Al Qur’an ini untuk sepanjang jaman hingga hari kiamat kebenarannya.

c. Mencampuradukkan Al Qur’an dengan kitab-kitab suci yang lain

Seperti itulah model ketidak percayaan orang-orang sekarang, termasuk sebagian orang Islam, terhadap kebenaran Al Qur’an. Bahkan yang paling parah adalah pendapatnya, yaitu mencampuradukkan Al Qur’an dengan kitab-kitab suci yang lain, seolah-olah berfirman kepada Al Qur’an, padahal sebenarnya itu mengingkarinya. Misalnya, mereka berpendapat bahwa sebenarnya di dalam Al Qur’an itu ada Bible (Injil), dan kita diperintahkan juga beriman kepada kitab-kitab yang lain. Misalnya, Allah berfirman dalam surat Al Maidah : 43-44:

clip_image004

Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman.

clip_image005

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Pada ayat yang ke-46 dan 47 menerangkan tentang kebenaran Kitab Suci Injil:

clip_image006

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan `Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

clip_image007

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

Ini adalah perintah, yaitu orang Yahudi diperintahkan untuk berhukum pada Taurat dan orang Nasrani diperintahkan untuk berhukum dengan Injil. Ayat itu menjelaskan bahwa kalau mereka tidak berhukum menurut apa yang diturunkan oleh Allah yang ada di kedua kitab suci itu, mereka termasuk golongan orang yang fasik. Seolah-olah ini adalah perintah bahwa kita disuruh pula untuk berhukum menurut Taurat dan Injil. Memang benar seperti itu, permasalahannya adalah apakah kitab Taurat dan Injil itu persis seperti apa yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa? Ini yang dipakai oleh beberapa orang yang menyebutnya sebagai pluralis, sehingga ada yang disebut menurut mereka ”Fiqih antar/lintas Agama”. Memang ini adalah ayat, tetapi banyak ayat lain yang menyatakan bahwa kitab Taurat dan Injil yang ada sekarang ini sudah tercampuri dengan pemikiran manusia, sebagian sudah terkorupsi. Apa bukti bahwa kitab-kitab itu sudah terkorupsi? Allah berfirman dalam surat Al Maidah : 15:

clip_image008

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

clip_image009

Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.

clip_image010

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa kitab-kitab Taurat dan Injil itu sudah tidak asli lagi, sebagian diubah, sebagian lagi disembunyikan. Oleh karena itu datanglah kitab yang terang, yaitu Al Qur’an, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikutnya (16):

clip_image011

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Al Qur’an itulah yang menjelaskan kebohongan-kebohongan kitab-kita suci sebelumnya itu. Oleh karena itu, berdasarkan ayat-ayat tersebut, untuk menguji keabsahan kitab-kitab suci lainnya, maka Al Qur’an sebagai alat ujinya. Kita boleh menggunakan kitab suci Injil, tetapi kitab kitab suci yang sudah ditas-hih oleh Al Qur’an, yang sesuai dengan Al Qur’an. Makanya dalam ayat yang ke-47 dijelaskan bahwa jangan berhenti sampai ayat 47 itu, tetapi harus dilanjutkan dengan ayat 48-nya:

clip_image012

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Allah menjelaskan bahwa di dalam Taurat itu ada kebenaran, dalam Injil ada kebenaran. Di dalam kedua kita itu ada petunjuk. Orang Yahudi berpeganglah pada Taurat dan orang Nasrani berpeganglah pada Injil. Tadi dijelaskan bahwa Taurat dan Injil yang sekarang itu sudah terkorupsi dari yang aslinya. Bagaimana mengetahuinya? Ayat yang ke-48-lah yang menjelaskan hal itu. Oleh karena itu Allah mnurunkan Al Qur’an. Sebagai apa Al Qur’an diturunkan? Sebagai penguji kitab-kitab terdahulu. Artinya, kitab-kitab suci yang lain itu akan benar kalau sesuai dengan Al Qur’an, kalau tidak sesuai maka berarti sudah terkorupsi. Misalnya, ada perintah shalat, perintah zakat, mengesakan Allah, dsb; semuanya ada di dalam Taurat dan Injil yang asli. Tetapi itu semua disembunyikan oleh mereka (Yahudi dan Nasrani). Jadi, kalau kita hanya mengandalkan pada satu ayat saja untuk dijadikan kesimpulan, maka bisa salah. Tetapi ini yang dipakai oleh sebagian orang Islam. Bagi orang-orang yang tidak mengerti dan tidak mau bertanya, ini dianggap sebagai suatu hal yang benar. Padahal urut-urutannya jelas, harus dibahas mulai dari ayat 46, 47 dan 48. Kalau ayat yang ke-48 tidak dibahas, hasilnya seperti itu: salah. Karenanya jangan hanya berpegang pada satu ayat lalu mengambil kesimpulan, ada keterkaitan dengan ayat-ayat yang lainnya. Inilah yang digunakan sebagai dalil bagi orang-orang orientalis dan sebagian orang Islam yang berguru kepada orang-orang orientalis tentang Al Qur’an. Aneh juga, mengapa mempelajari Al Qur’an dengan orang-orang yang tidak mengamalkan Al Qur’an? Bagaimana mungkin mempelajari Al Qur’an kepada orang yang tidak beriman kepada Al Qur’an? Walaupun mereka tahu tentang Al Qur’an, tetapi mereka tidak mengamalkannya dan tidak beriman kepadanya.

d. Beriman kepada Al Qur’an tetapi tidak beriman kepada hadits.

Orang yang hanya beriman kepada Al Qur’an tetapi tidak percaya kepada hadits, disebut inkarus sunnah. Ini termasuk beriman kepada sebagian dan ingkar terhadap sebagian yang lain. Ada sekelompok orang yang telah cukup lama mengadakan pengajian tentang Al Qur’an, tidak mengkaji hadits. Mereka ini menafsirkan Al Qur’an berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an. Setelah lama mengaji mereka terbentur pada pertanyaan berapa zakat itu mesti dibayarkan? Dalam Al Qur’an tidak ada penjelasan tentang berapa nishab zakat dan berapa besarnya zakat, yang ada hanya perintah untuk membayar zakat dan siapa penerima zakat; kecuali untuk zakat pertanian yang dijelaskan besarannya. Demikian juga tentang praktek shalat, tidak ada penjelasannya dalam Al Qur’an. Misalnya, shalat dzuhur 4 rakaat, shalat maghrib 3 rakaat; tidak ada penjelasannya tidak ada dalam Al Qur’an. Bahkan nama-nama shalat: Dzuhur, Maghrib, Isya, shubuh; tidak ada penjelasannya dalam Al Qur’an. Kalau shubuh, mungkin ada, tetapi namanya lain, yaitu Qur’anal fajri, bukan sholatal fajri; arti harfiahnya adalah ”membaca Qur’an di waktu fajar”, tetapi maksudnya adalah shubuh. Kalau shalat ashar, namanya sholatul wustho, yaitu shalat yang di tengah; tidak menjelaskan shalat ashar. Yang seperti ini multitafsir. Oleh karena itu akan menjadi masalah kalau kita hanya menggunakan Al Qur’an saja, tanpa menggunakan hadits. Padahal Allah berfirman: Ati’ullaaha wa ati’ur rasuul, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; artinya taat atas apa yang diperintahkan oleh rasul, taat kepada hadits (An Nisaa’: 59):

clip_image013

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Kembalikan kepada Allah itu maksudnya adalah Al Qur’an, sedangkan kembalikan kepada rasul itu maksudnya adalah hadits.

Bahkan dalam surat An Nisaa’ : 65 dinyatakan bahwa kalau tidak beriman kepada Nabi, termasuk orang yang tidak beriman:

clip_image014

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Orang yang mengingkari hadits itu dianggap tidak beriman. Ini yang menyatakan adalah ayat Al Qur’an. Dalam ayat lain dinyatakan:

clip_image015

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al Hasyr : 7).

Kita disuruh beriman kepada apa-apa yang disampaikan oleh rasul. Mereka beranggapan bahwa hadits itu tidak bisa diakui seratus persen kebenarannya. Yang dijamin kebenarannya oleh Allah adalah Al Qur’an, sedangkan hadits itu tidak ada jaminannya. Begitu kilah mereka. Akan tetapi, kita juga mempunyai akal, makanya dalam ilmu hadits itu ada sanad, ada matan, yang menyangkut shahih atau tidaknya hadits. Itulah cara menjaga hadits. Apalagi hadits yang mutawatir, yang nilai kebenarannya hampir seratus persen.

Nabi bersabda bahwa orang yang mengingkari Nabi akan tersesat. Dalam sabdanya yang lain disebutkan: Berpeganglah kepada Al Qur’an dan hadits, maka tidak akan tersesat selama-lamanya (Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh atas keduanya, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya).

Apa yang menyebabkan Al Qur’an tetap seperti aslinya sedangkan kitab yang lain sudah terkorupsi? Yang hafal Al Qur’an itu banyak, ribuan orang; tidak ada yang berani menambah atau mengurangi. Kalau ada yang berani menambah atau menguranginya, maka akan dikoreksi oleh yang hafal Al Qur’an. Sedangkan kitab-kitab yang lain itu tidak ada yang menghafalnya. Apakah ada yang hafal Bibel? Tidak perlu seluruh isi Bibel, hanya satu lembar saja hafal hingga titik komanya? Tidak ada. Tetapi yang hafal Al Qur’an sebanyak 600 halaman banyak sekali. Oleh karena itu sampai kapan pun Al Qur’an itu tetap terjaga keasliannya. Itu adalah salah satu makna ”Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan Kamilah yang menjaganya”, banyak orang yang hafal; bukan dengan misalnya begitu ada yang mengubah langsung mati. Siapa yang mengubah ayat kesambar petir! Bukan begitu, menjaganya dengan menjadikannya orang-orang hafal Al Qur’an. Oleh karena itu dikatakan bahwa orang yang hafal Al Qur’an itu adalah keluarga Allah min ahlillaah.

Bagaimana agar kita tidak termasuk golongan orang yang beriman kepada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lainnya? Kita adalah orang awam yang tidak mengetahui Al Qur’an 100 persen. Bagaimana agar kita tidak terjebak terhadap pemikiran-pemikiran mereka? Karena, mereka juga suka membaca Al Qur’an. Kita membaca Al Qur’an biasanya sebagian saja dan paling dengan terjemahannya. Jarang orang membaca Al Qur’an berikut tafsir lengkapnya. Kita tidak hafal Al Qur’an dan juga tidak hafal hadits. Bagaimana agar kita bisa mendapat petunjuk?

1. Belajar berjenjang

Tahap pertama adalah dengan belajar secara berjenjang. Untuk makna-makna yang bersifat global atau umum, kita boleh menggunakan terjemahan. Kita jangan takut membaca terjemahan Al Qur’an.

a.Jangan mengambil kesimpulan berdasarkan satu atau dua ayat

Jangan mengambil satu kesimpulan hanya dari satu atau dua ayat. Kalau kita ingin mengetahui maksud ayat itu apa, arahnya ke mana, seperti apa bentuk pengamalannya; tidak bisa hanya didasarkan pada satu atau dua ayat. Kita harus melihat ayat-ayat yang lain. Oleh karena itu kita harus mempelajari tafsirnya. Hampir semua tafsir menerangkan keterkaitan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya, terutama tafsir-tafsir al ma’tsur, yaitu tafsir yang di dalamnya berisi penjelasan tentang hadits-hadits. Ada juga tafsir ayat dengan menggunakan ayat yang lainnya, tidak menggunakan hadits. Yang seperti ini tidak tepat, lengkapi dengan tafisr Qur’an dengan hadits, seperti tafsir Ibnu Katsir, dll.

b. Kalau ada yang bertentangan jangan diingkari salah satunya

Kalau ada ayat yang sepertinya bertentangan, maka kemungkinan pertama adalah dua hal kasus yang berbeda, sufatnya kasuistik, misalnya ayat tentang waris, yaitu tentang wasiat kepada ahli waris dan ayat tentang bagian waris. Kedua ayat itu sepertinya dua hal yang berbeda, tetapi sebenarnya kasusnya berbeda, yaitu wasiat kepada orang yang sebenarnya tidak mendapatkan waris tetapi dalam wasiat diberi waris seperti orang tua yang berbeda agama, tidak memperoleh waris, tetapi boleh diwasiatkan untuk mendapatkan waris. Kemungkinan yang kedua adalah ayat-ayat itu merupakan tahapan dari suatu jawaban atas suatu kasus. Misalnya, ayat tentang minuman keras dan ayat tentang riba.

2. Ayat mutasyabihat harus ditafsirkan dengan ayat muhkamat.

Kalau ada perbedaan, ayat-ayat mutasyabihat (samar) harus ditafsirkan dengan ayat-ayat muhkamat (jelas). Ini biasanya dikaitkan dengan hal-hal yang ghaib, sifat-sifat Allah, dll; seperti Ia punya tangan, Ia punya wajah. Itu adalah ayat-ayat mutasyabihat. Bagaimana memahami ayat-ayat seperti ini? Ini harus ditafsirkan dengan ayat yang lain. Allah berfirman: Laisa kamitslihi syaiun, Allah itu tidak menyerupai apapun. Kalau Ia menyatakan mempunyai tangan, maka itu bukan tangan seperti yang kita bayangkan. Allah mempunyai mata, jangan dibayangkan matanya seperti mata kita. Jadi kita tidak jangan membayangkan fisikNya. Jangankan membayangkan fisikNya, yang mirip dengan Tuhan saja tidak bisa kita bayangkan, tidak ada.

3. Jika kedua ayat itu tidak bisa dikompromikan, kita tidak boleh mengatakan ingkar

Kalau ada dua ayat yang ”tidak bisa ” dikompromikan, kita tidak boleh menyatakan ingkar terhadap salah satu ayat. Bisa jadi itu karena keterbatasan ilmu kita.

a. Kalau tidak mengerti tentang ayat, bertanyalah

Kalau tidak mengerti terhadap suatu ayat, bertanyalah kepada yang mengerti; jangan mencari pengertian sendiri. Belajar Al Qur’an itu tidak boleh sendirian, harus memakai guru; kalau sendirian nanti gurunya syaitan. Bertanyapun kepada banyak guru, klau kita merasa belum yakin, jangan hanya satu guru.

b. Tidak boleh taklid

Dalam belajar Al Qur’an, tidak boleh taklid. Jangan sampai begitu memegang satu paham, itu saja yang diyakininya; kita hrus terbuka. Sebab, mungkin saja yang kita yakini pada hari ini, dengan berjalannya waktu kita belajar dan bertanya, kita akan menemui kebenaran yang bisa berbeda dengan sebelumnya. Mengapa ? Karena kebenaran itu adalah suatu proses.

c. Kalau terjadi perbedaan dan masih belum yakin, ambil salah satu

Kalau ada perbedaan setelah bertanya dan belajar masih juga belum yakin, maka dengan bismillaah, ambil salah satunya; tetapi jangan menggunakan hawa nafsu. Yang seperti ini biasanya adalah hal-hal yang tidak prinsip. Misalnya, kapan lebaran yang benar? Sebab, kadang-kadang harinya berbeda. Ambil salah satu, tetapi jangan karena hawa nafsu, misalnya hari lebaran dengan puasa 29 hari dan 30 hari. Pilih yang mana? Wah, ambil saja yang 29 hari, supaya cepat berbuka. Itu tidak boleh. Atau sebaliknya, ambil yang 30 hari supaya lengkap. Juga tidak boleh.

d. Jangan pernah merasa apa yang dipahami itu seratus persen kebenarannya

Kita jangan pernah merasa bahwa apa yang kita yakini tentang pemahaman ayat itu seratus persen kebenarannya, karena Al Qur’an itu sampai kepada kita melalui banyak orang. Qur’annya sendiri kita yakini 100 persen kebenarannya, tetapi pemahaman kita terhadap suatu ayat belum tentu 100 persen benar. Makanya ulam-ulama itu setiap selesai menyampaikan suatu pendapat tentang ayat, selalu dikatakan ”Wallaauhu a’lam bish showab, Allahlah yang paling mengetahui maksudnya”. Yang seperti ini akan membuat kita terus belajar.

4. Amalkan

Kalau ingin mengetahui kebenaran Al Qur’an, maka amalkan isinya. Dengan mengamalkannya, akan ada keyakinan yang meningkat. Selama ini banyak orang-orang yang berpaham seperti JIL, mereka kurang dalam menghamalkan Al Qur’an. Pengetahuan atau ilmunya memang banyak, tetapi pengamalannya kurang. Kalau kita mengamalkan Al Qur’an, nanti akan ada petunjuk. Dengan ilmu, milanya, kita bisa mendapatkan 5% kebenaran, tetapi dengan mengamalkannya kita akan mendapatkan jauh lebih besar dari 5%. Orang-orang ang jago berdebat itu biasanya kurang pengamalannya, tetapi retorikanya jagoan. Kalau kita mengikuti hawa nafsu, tidak mau mengamalkannya, maka itu termasuk golongan orang-orang yang digambarkan dalam ayat 86 surat Al Baqarah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: