• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

7 Desember 2008

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 7 Desember 2008

TINJAUAN TENTANG QURBAN (Lanjutan)

Ustadz : Sambo

clip_image002

Telah dibahas pada kajian sebelumnya bahwa secara simbolis atau disimbolkan, dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Akan tetapi sebenarnya korban ini telah dilakukan jauh sebelumnya, yaitu oleh Qabil dan Habil (putera Nabi Adam). Memang korban yang dilakukan oleh Qabil dan Habil tidak dalam bentuk menyembelih anaknya sebagaimana Nabi Ibrahim. Peristiwa korban telah ada sejak awal adanya manusia. Ini dijelaskan oleh Allah dalam surat Al Maidah : 27 :

 

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahkan korban itu dibedakan antara yang baik dan korban yang tidak baik, ada korban yang diterima Allah dan korban yang tidak diterima oleh Allah. Dalam riwayat dijelaskan mereka berkorban (wallaahu’alam) bahwa Qabil dan Habil masing-masing mempunyai saudara kembar, lahirnya berbarengan dengan mereka dan keduanya adalah perempuan. Qabil mempunyai kembaran yang cantik, sementara Habil mempunyai kembaran yang tidak cantik. Dalam peraturan ketika itu, karena manusia belum ada, maka Qabil tidak boleh menikahi saudara seperutnya, dan ia harus menikah dengan saudara lainnya. Calon isteri Qabil itu adalah kembarannya Habil dan calon isteri Habil adalah kembarannya Qabil. Qabil tidak mau, “Enak banget ia”, begitu pikirnya. Akan tetapi apakah kisah ini benar atau tidak, wallaahu a’lam; ini adalah bagian cerita Israeliyah. Karena keduanya bertengkar dan Nabi Nabi Adam tidak bisa mengambil keputusan, keduanya diminta berkorban untuk menentukan siapa yang benar di antara keduanya. Yang korbannya diterima, ia boleh memilih calon isterinya. Akhirnya masing-masing memberikan korban. Qobil kebetulan seorang petani, sedang Habil adalah seorang peternak yang mempunyai banyak domba. Qobil korbannya sembarangan saja, pikirnya korban yang buruk-buruk saja, yaitu sayur dan buah yang sudah jelek yang ia korbankan. Sedangkan Habi tidak demikian, ia mengambil yang terbaik, sengaja dipilihnya domba yang paling gemuk. Ternyata yang diterima adalah korbannya Habil, yaitu ditandai dengan adanya petir yang menyambar korbannya. Korban Qobil tidak diterima. Ini dikisahkan dalam surat Ali Imron : 183:

 

(yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada Kami, supaya Kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum Dia mendatangkan kepada Kami korban yang dimakan api”. Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, Maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Pada jaman dahulu, tanda diterimanya korban adalah petir, tetapi sekarang tidak demikian. Kalau sekarang tanda diterimanya korban adalah disambar petir, maka sangat menakutkan. Sebelum jaman rasulullah, mu’jizat itu kelihatan, mana ibadah yang diterima dan mana ibadah yang tidak diterima juga kelihatan. Demikianlah asal muasal korban itu disyariatkan, yaitu jauh sebelum Nabi Ibrahim, korban sudah dilakukan, yaitu sejak anak Nabi Adam.

Korban ditinjau dari sisi historis dapat diambil pelajaran bahwa : (1) betapa Nabi Ibrahim itu sangat cinta kepada Allah. Saking cintanya kepada Allah, apa saja permintaan Allah dikabulkan, meskipun harus dengan menyembelih anaknya sendiri. Ini adalah sangat berat, apalagi ibu-ibu, tidak kuat. Tentang pengorbanan ini, di jaman Nabi Sulaeman dan Nabi Daud ada dua orang perempuan bertengkar memperebutkan anak. Mereka masing-masing mempunyai anak, tertukar dan bayi yang satu meninggal dan yang satu hidup. Salah seorang perempuan mengaku bahwa anak yang hidup itu adalah anaknya, sementara yang satunya lagi juga mengaku bahwa anak itu adalah anaknya. Mereka minta keadilan ke Nabi Daud. Oleh Nabi Daud diputuskan bahwa yang menang adalah perempuan yang tua, padahal itu adalah anak dari perempuan yang muda. Nabi Suleman usul agar anak itu dipancung saja, nanti dilihat siapa yang rela. Akhirnya keputusan Nabi Daud dibatalkan, diganti dengan keputusan bahwa anak tersebut dibelah menjadi dua, separoh untuk perempuan yang muda dan separuh untuk perempuan yang tua; agar adil dan fair. Kata perempuan yang muda, ”Janganlah dibelah anak itu, bagianku untuk dia saja”. Akhirnya diputuskan bahwa yang mempunyai anak tersebut adalah perempuan yang muda. Bagi yang tua, tidak ada masalah anak tersebut dibagi dua, karena anaknya memang sudah mati dan sekalian saja dua-duanya mati, adil; begitu pikirnya. Oleh karena itu ibu-ibu itu kalau berurusan dengan anak, tidak kuat dan tidak tega. Tidak kuat kalau anaknya sakit apalagi meninggal, sehingga kalau disuruh mengorbankan anaknya, biasanya ibu-ibu merasa tidak kuat.

Pelajaran kedua dari peristiwa Nabi Ibrahim adalah bahwa ternyata Nabi Ismail tidak kalah hebatnya dalam berkorban. Kalau Nabi Ibrahim mengorbankan anaknya, orang barang kali akan mengatakan itu wajar, tetapi ini (Nabi Ismail) mengorbankan dirinya sendiri. Itulah kehebatan Nabi Ismail: taat kepada perintah Allah melalui orang tuanya.

Pelajaran yang ketiga dari kisah ini adalah bahwa Nabi Ibrahim memberikan yang terbaik dalam berkorban. Kalau ini digabungkan dengan cerita tentang Nabi Adam dan anaknya (Qobil dan Habil), maka cerita ini adalah nyambung.

Pelajaran yang keempat adalah bahwa ujian itu ada batasnya. Allah itu tidak dzalim, Allah Maha mengetahui batas kemamapuan manusia. Walaupun Nabi Ibrahim telah ikhlas untuk mengorbankan Nabi Ismail, tetapi oleh Allah tidak dilanjutkan pengorbanannya itu, tetapi digantikannya dengan seekor domba. Walaupun Nabi Ibrahim menytakan kuat menghadapi pengorbanan itu, Nabi ismail pun menyatakan kuat; Allah menyatakan cukup sampai di situ saja. Allah tidak memberi beban kepada hambaNya melebihi batas kemampuannya. Hikmahnya adalah bahwa walaupun kita mampu, tetapi kondisi pada saat itu sudah sangat berat; jangan sampai mengorbankan diri sendiri. Dalam kaidah ushul fiqih dinyatakan bahwa kalau dalam keadaan darurat, jangan korbankan diri kita; diperbolehkan mengambil yang dilarang (walaupun sebenarnya mampu menghadapinya). Misalnya, ketika di hutan tidak ada makanan yang lainnya, berpendirian daripada makan babi, lebih baik mati; tidak boleh demikian. Okelah kita ikhlas biarpun mati, tetapi tidak demikian: jangan mengorbankan diri sendiri, diperbolehkan mengambil yang haram karena dalam keadaan darurat; walaupun mampu melakukannya. Itulah kemurahan hati Allah: ujian itu ada batasnya. Begitu kita dalam keadaan teruji yang paling tinggi, maka Allah memberikan jalan keluarnya.

Pelajaran yang kelima adalah bahwa setiap ujian itu pasti ada jalan keluarnya. Setiap ujian, kalau sudah mencapai puncaknya, rasanysa sudah tidak sanggup lagi menghadapinya; pasti Allah memberikan jalan keluarnya.

Bagaimana peristiwa atau tinjauan historis korban ini bisa diambil hikmahnya?

1. Aspek ketaatan dan aspek kecintaan

Kecintaan dan ketaatan itu harus dibuktikan. Artinya, kalau kita disuruh menyembelih qurban, maka sembelihlah qurban. Sekarang ini ada tafsir tentang qurban ini bahwa untuk sekarang ini qurban sudah tidak perlu, karena hewan qurban itu adalah untuk orang miskin. Mengapa? Karena hakekat qurban itu adalah memberi makan orang miskin. Sekarang orang sudah banyak yang kelebihan atau berpenyakit kolesterol, makanya qurban tidak perlu lagi; apalagi qurbannya adalah kambing. Daripada memberi makan orang nanti malah menjadi penyakit, lebih tidak usah. Qurban bagi mereka tidak masuk akal. Kesannya bahwa alasan mereka itu masuk akal. Kalau dalam urusan syariat atau perintah, kita harus sami’naa wa atho’naa. Kalau Nabi Ibrahim memakai akalnya dalam menerima perintah Allah, tidak akan mau mengorbankan anaknya. Kalau menggunakan akal, maka gilalah orang yang tega mengorbankan anaknya, anaknya sendiri disembelih. Kalau menggunakan akal, maka akan berpikir: bagaimana Allah tu, katanya Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Mengapa anaknya disuruh untuk disembelihnya? Untuk urusan perintah Allah, sami’naa wa atho’naa, langsung kerjakan; terlepas itu masuk akal kita ataukah tidak masuk akal. Di situlah ketaatan dituntut. Makanya qurban itu adalah salah satu wujud ketaatan kita kepada perintah Allah. Kalau urusan memberi makan orang miskin, ada lagi: ada zakat, sedekah, infaq; tetapi ini perintahnya adalah qurban, disuruh menyembelih kambing, sapi atau unta, maka lakukan itu; tidak usah diakal-akali. Baru disuruh menyembelih kambing saja inginnya diakal-akali, apalagi disuruh menyembelih anak? Dalil yang sudah tegas seperti itu saja masih dicoba untuk dibelokkan, diakal-akali; apalagi dalil yang kurang tegas; akan lebih-lebih lagi dicari alasan untuk menolak perintahnya. Misalnya, masalah poligami, maka tafisrnya bisa macam-macam, berbagai alasan dikemukakan yang pada akhirnya ingin menolaknya. Kalau itu menyangkut perintah, laksanakan; masalah kita tidak mampu melaksanakannya, itu urusan berikutnya. Masalah apa di balik perintah, itu urusan nanti. Kalau begitu apa donk hikmahnya? Hikmahnya adalah agar manusia taat! Selesai! Di situlah letak ujian ketaatan kita. Demikian pula perintah thawaf, sa’i; apa hikmahnya? Hikmahnya adalah agar taat! Begitu disuruh, lakukan! Karena, orang yang beriman itu terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasulNya: sami’naan wa atho’naa. Selama ada dalilnya, jangan diakali; kecuali tidak ada dalilnya boleh diakali. Misalnya, ketika dalam perjalanan atau di daerah yang dingin, di daerah yang sulit air; diperbolehkan memakai sepatu (quf), maka wudhu berikutnya, tidak perlu lagi membuka sepatunya, cukup dilap sepatunya, menurut fiqih Syafi’i bisa sampai 3 hari, setelah 3 hari baru sepatunya dibuka lagi. Kalau memakai logika, maka harus berwudhu dan membuka sepatu, yang dibasuh adalah semuanya; tetapi Nabi mencontohkan tidak demikian, cukup bagian atasnya saja yang diusap. Begitulah syariatnya. Yang lebih tidak masuk akal adalah mengapa yang diusap yang bagian atas, bukan bagian bawah yang kotor yang seharusnya dibersihkan? Kalau ada dalilnya, maka kedepankan dalil itu. Boleh kita memakai dalil akal, kalau dalil atau nashnya tidak ada atau belum jelas. Kalau dalilnya jelas, jangan diakal-akali.

Banyak orang yang memakai dalil akal, padahal itu salah. Misalnya lagi, ketika qomat berkumandang sedang makanan sudah disiapkan; kalau memakai logika semangat ibadah maka shalat dulu, karena shalat itu urusan akhirat dan makan itu urusan dunia, shalat dulu untuk menunjukkan kesholehannya. Tetapi itu justru menunjukkan kesalahannya: nabi menyatakan bahwa kalau apabila qomat sudah dikumandangkan dan makanan sudah disiapkan, maka dulukanlah makan. Kalau shalat didahulukan, karena kita ingin agar makannya khusyu’. Kalau shalat lebih dahulu, maka nanti makannya tidak terganggu, bisa makan berlama-lama. Niatnya adalah makannya yang khusyu’, bukan shalatnya yang khusyu’. Tetapi kalau makan lebih dahulu, maka shalatnya bisa berlama-lama. Dalam agama, kalau ada dalilnya, kedepankan dalilnya.

2. Berikan yang terbaik untuk menunjukkan kecintaan

Hikmah berikutnya adalah dalam mewujudkan kecintaan itu dilakukan dengan memberikan yang terbaik supaya mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Karenanya bagi yang punya uang, dalam berkorban jangan yang tanggung-tanggung, jangan mencari yang paling kurus, cari kambing atau sapi yang paling bagus; kecuali tidak ada yang bagus atau uangnya pas-pasan. Mengapa? Karena, kita tidak akan bisa mencapai tingkat iman yang tertinggi, kalau kita tidak bisa memberikan yang terbaik. Itulah salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa: memberikan yang terbaik. Kalau korban begini saja tidak mau, apalagi yang lain? Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 92:

kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Kalau mampu korban yang super, korbankan yang super; kalau ada yang harga Rp. 2 juta, atau kurang-kurang sedikit; itu kalau ada. Bagaimana kalau yang kecil juga tidak mampu, bolehkah korban ayam? Tidak boleh! Minimal adalah kambing. Kalau ayam, itu bukan korban, tetapi sedekah. Kalau mau berkorban, berikan yang kita cintai, berikan yang terbaik. Bahkan kalau mencontoh anaknya Nabi Adam, menurut riwayat, korbannya dielus-elus, ia rawat betul. Kalau kita, korban itu dibeli langsung, bukan hasil pemeliharaan sendiri. Menurut riwayat, banyaknya pahala yang akan diterima dari korban yang diberikan adalah sebanyak bulu domba yang dikorbankan. Ayat di atas menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan kebaikan yang sempurna sebelum memberikan yang terbaik. Korban itu adalah latihan untuk bisa mmeberikan yang terbaik. Sering kali kita terbalik, kalau untuk urusan Allah seadanya, kalau urusan ibadah seadanya, tetapi kalau urusan dunia inginnya nomor satu. Padahal dalam Al Qur’an dinyatakan (Surat Al A’laa : 16-17):

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Kalau untuk urusan dunia, inginnya nomor satu: rumah ingin number one, mobil ingin number one, baju ingin yang terbaik, dst. Tetapi untuk berkorban? Inginnya yang murah-murah saja. Mestinya yang nomor satu juga. Nomor satu itu bukan berarti termahal, sesuai dengan kemampuan. Nomor satu orang yang kemampuannya pas-pasan berbeda dengan yang hartanya banyak. Ini adalah latihan memberikan yang terbaik.

3. Menyembelih sifat-sifat kehewanan

Dengan berkorban berarti kita menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang jelek. Oleh karena itu dianjurkan agar menyembelih sendiri hewan korbannya. Dengan menyembelih sendiri hewan korbannya, maka ini adalah melatih keberanian, berani menyembelih sifat-sifat kebinatangan. Ada pertanyaan, ”Ini kan kesannya sadis”. Memang kesannya sadis, kalau menyembelihnya dengan geram. Tetapi kalau menyembelihnya dengan membaca basmallah, dengan pisau yang tajam yang cepat mematikan, dengan ikhlas; tidak sadis. Karenanya menyembelih itu harus ikhlas. Justru yang sadis itu adalah seperti kebanyakan yang berlaku sekarang ini: ditusuk, disetrum listrik (ini lebih sadis). Menyembelih itu kesannya sadis, tetapi itulah cara yang efektif untuk membunuh. Termasuk dalam hukum mati, hukum pancung itu adalah cara yang paling efektif untuk membunuh. Justru dengan ditembak atau digantung, disetrum listrik; sepertinya tidak sadis, tetapi itulah yang sebenarnya sadis. Mengapa? Karena disetrum itu bisa tidak mati, demikian pula ditembak juga bisa tidak mati. Makanya kalau hukum tembak, kalau belum mati, maka ditembak lagi. Demikain pula hukum gantung, bisa tidak mati. Lain halnya dengan pancung, kalau kepalanya sudah terpisah, tidak akan ada yang tidak mati.

Sifat-sifat kebinatangan yang harus kita bunuh di antaranya: (1) Hidup hanya untuk makan, tidur dan mambuat anak. Itulah binatang, (2) Egois, serakah, tidak memikirkan kepentingan orang lain, hanya mementingkan diri sendiri. Orang yang hidupnya hanya untuk yang tiga hal tersebut, hidupnya egois. (3) Tidak mempunyai malu. Binatang itu tidak mempunyai malu, telanjang pun tidak malu; bahkan berhubungan badan pun tidak maul di depan kawan-kawannya. (4) Meskipun tahu akan mati, masih enak-enak makan. Yang tepat itu istilahnya adalah membunuh sifat kehewanan, karena itu adalah hewan ternak. Salah satu sifat jelek hewan ternak adalah ia sudah tahu akan mati, masih bisa makan enak. Kalau kita perhatikan hewan yang akan kita korbankan, masih enak-enak makan; melihat kawan-kawannya disembelih, masih enak-enak makan. Seharusnya kalau sudah tahu akan mati, maka tidak akan bisa makan. Banyak orang yang seperti ini, sudah tahu akan mati, masih enak-enak makan. Sudah jelas kematian akan datang, masih tidak mau bertobat. Rasul bersabda: I’mal li alkhirotika ka-annaka tamuutu ghodan, berbuatlah untuk akhirat, seolah-olah besok akan mati. (5) Tidak mau mendengarkan kebenaran. Sifat-sifat binatang ternak itu dijelaskan oleh Allah dalam surat Al Baqarah : 171:

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja[107]. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.

[107] Dalam ayat ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya.

Binatang itu meskipun kita panggil berulang-ulang hingga capek, ia tidak mau datang. Yang dipikirkannya hanya yang tiga: makan, tidur, membuat anak.

4. Mampu memberikan dua per tiga harta

Ini adalah sangat berat: dalam berkorban, hak korbani adalah sepertiganya, sedang dua per tiganya diberikan kepada yang berhak menerima korban. Mampukah kita memberikan dua per tiga dari penghasilan dan sepertiganya untuk diri sendiri? Kalau bisa seperti ini, berarti mencapai tingkat yang paling tinggi. Para sahabat dahulu minimal seperti ini: menginfaqkan dua per tiga dari hartanya. Abdurrahman bin Auf, misalnya, ketika berdagang, keuntungannya dibagi: sepertiga ia infaqkan, sepertiga untuk menambah modal, dan sepertiga untuk dirinya sendiri. Umar lebih hebat lagi: separoh hartanya ia infaqkan. Abu Bakar lebih hebat lagi: seluruh hartanya ia infaqkan. Kita tidak usah mengikuti Abu Bakar, ia bukan kelas kita. Dengan berkorban seperti Umar saja, itu sudah sangat hebat. Yang dilakukan oleh sahabat itu baru infaq, belum zakatnya. Syukur-syukur bisa dua pertiganya yang diinfaqkan, hanya sepertiga saja yang untuk dirinya sendiri.

Bagian korban untuk dirinya maksimal adalah sepertiganya, dua pertiganya dibagikan. Ad pertanyaan, ”Kalau berkorban tiga ekor, bolehkah yang satu ekor tidak dibagikan atau tidak disembelih, kan sepertiga dari korban adalah haknya, yang disembelih hanya dua ekor saja?”. Tidak boleh! Alasannya: 1/3 + 1/3 + 1/3 masing-masing ekor, berarti sama dengan satu ekor? Dengan demikian dari tiga ekor, yang dipotong dua ekor saja? Sembelih ketiganya dan bagi sepertiga untuknya, jangan menggunakan akal.

Kalau bisa menyerahkan dua pertiga untuk infaq, sepertiga untuk sendiri; luar biasa. Dalam memanfaatkan harta itu ada beberapa tingkatan. Tingkat pertama adalah 2,5% dikeluarkan untuk zakat. Tingkat kedua adalah lebih dari 2,5% zakat dikeluarkan, Tingkat ketiga adalah separoh untuk orang lain. Yang ini adalah level abror. Tingkat yang keempat adalah yang sepertiga untuk dirinya, dua pertiga untuk orang lain. Ini adalah levelnya Umar. Tingkat yang kelima adalah yang mengambil hartanya secukup yang ia butuhkan, sisanya untuk orang lain. Ini adalah tingkatan Umar bin Abdul Aziz. Tingkat keenam adalah seluruh hartanya diinfaqkan.

6. Cari akhirat sebanyak-banyaknya, jangan lupakan dunia

Boleh berkorban untuk orang lain, tetapi ambil juga untuk diri sendiri. Walaupun kita relakan korban itu, ambil juga untuk diri sendiri. Kita disuruh mencari akhirat sebanyak-banyaknya, tetapi jangan melupakan urusan dunia. Allah berfirman dalam surat Al Hajj: 28 dan 36:

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

[985] Hari yang ditentukan ialah hari raya haji dan hari tasyriq, Yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.

[986] Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang Termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.

 

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.

Walaupun kita memberikan untuk orang lain, jangan lupakan diri sendiri. Nikmatilah berkah yang diberikan oleh Allah. Kalau dahulu inginnya semua untuk orang lain, tetapi agama melarangnya. Kita turut bergembira dengan korban ini. Berbeda pula korban dengan aqiqah, kalau korban dagingnya dibagikan mentah, sedangkan aqiqah dagingnya dibagikan ketika sudah dimasak. Bagaimana kalau tidak bisa memasaknya, karena tidak mempunyai bumbu? Berikan pula uang untuk membeli bumbunya, itu lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: