• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 281,751 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

25 Januari 2009

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 25 Januari 2009

TAFSIR AL BAQARAH : 102

(Bagian 3: Sihir)

Ustadz : Sambo

 

 

102. dan mereka mengikuti apa[76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[79]. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

[76] Maksudnya: Kitab-Kitab sihir.

[77] Syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).

[78] Para mufassirin berlainan Pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang Malaikat itu. ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat.

[79] Berbacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.

Pada kajian yang lalu berkenaan dengan surat Al Baqarah : 102, telah dibahas bahwa pelaku sihir adalah kafir. Berkenaan dengan sihir itu, ada beberapa catatan:

1. Sihir adalah kolaborasi antara manusia dan jin

Pada intinya sihir itu adalah berbagai macam perbuatan atau peristiwa/kejadian yang merupakan kolaborasi antara manusia dan jin. Jin itu sebenarnya tidak pernah ujug-ujug, tiba-tiba, menyerang manusia; demikian pula syaitan. Tetapi justru banyak kejadian yang menimpa manusia yang terganggu atau diganggu oleh jin, itu disebabkan oleh kolaborasi antara manusia dan jin. Jin-jin yang mengganggu manusia, apalagi yang dikatakan suka mengganggu anak kecil, itu adalah jin-jin yang kurang kerjaan. Yang jahat dalam hal ini adalah keduanya: manusia maupun jinnya. Jin atau manusia yang baik tidak akan berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah. Allah melarang manusia untuk meminta tolong kepada jin. Jin yang baik pun tidak akan mau menolong manusia. Kalau ada orang yang mengatakan, ”Wow, ini jin muslim”, tidak ada yang seperti itu! Pasti itu adalah jin yangkafir atau yang tidak solih. Jadi, kalau ada jin yang berkolaborasi dengan manusia, maka keduanya pasti sesat. Karena keduanya adalah sesat, maka orang atau jin yang beriman dan solih, tidak akan mau berkolaborasi.

Pada ayat tersebut dinyatakan :  ”Mereka dengan sihir itu memisahkan seorang suami dari isterinya”. Maksudnya bukan sebatas pada bagaimana sihir itu dapat memisahkan suami-isteri, tetapi cakupannya lebih luas lagi: bisa menyantet orang, mengganggu orang, termasuk juga bisa menunjukkan berbagai macam keahlian, kekebalan, dlsb. Itu semua adalah bagian dari ilmu sihir. Dalam pemahaman selama ini bahwa sihir itu hanya untuk mengelabui mata manusia, tetapi sihir itu adalah semua yang berhubungan dengan jin dan manusia dengan berbagai macam bentuknya.

2. Sihir bisa terjadi atas ijin Allah

Apapun yang menimpa kepada manusia adalah atas ijin Allah. Jin tidak akan bisa berbuat apa-apa kalau tidak atas ijin Allah. Jin berbuat sesuatu atas manusia bukan bersifat pasti. Misalnya, jin akan menyantet orang, kalau Allah menyatakan bahwa itu tidak bisa, maka tidak bisa pula jin itu menyantet orang. Maksud dari pernyataan ayat : , bahwa jin itu tidak akan bisa memberikan mudhorot apapun kepada manusia, kecuali dengan ijin Allah. Ijin di sini mempunyai makna dua, pertama adalah bahwa kalau Allah menyatakan tidak bisa, maka sihir itu juga tidak bisa. Makna kedua adalah bahwa sihir itu berjalan sesuai dengan sunnatullah, artinya kalau kita tidak kuat, maka sihir itu bisa terkena kita, tetapi kalau kita kuat, maka sihir itu tidak akan mengena. Sama halnya dengan orang berkelahi, kalau kuat akan menang, tetapi kalau lemah akan kalah. Ini adalah sunnatullah, tergantung kondisi kita. Misalnya, tentara Yahudi menyerang tentara Palestina di Gaza, itu semua dengan sunnatullah, artinya Hamas tidak akan hancur kalau Allah menyatakan ”Tidak”. Makna yang kedua, sesuai dengan sunnatullah, artinya kalau mereka mempunyai strategi yang sesuai dengan sunnatullah, tidak akan hancur, tetapi kalau tidak mempunyai strategi, akan hancur pula. Jadi, kita bisa terkena sihir atau tidak, maka itu tergantung kondisi kita sendiri. Ada kisah, seorang pemuda berkelahi dengan syaitan, hari pertama ia menang, tetapi hari berikutnya ia kalah. Pemuda tadi bertanya kepada syaitan, ”Wahai syaitan, kemarin saya menang, mengapa sekarang saya kalah?”. Ternyata dalam kisahnya disebutkan bahwa pemuda tersebut ingin menghancurkan suatu pohon di mana di situ dijadikan tempat orang melakukan kemusyrikan, maka pohon itu akan ditebangnya. Jin yang ada di pohon itu marah, karena pohonnya akan ditebang; akhirnya berkelahi. Karena niat yang pertama pemuda tadi adalah lillaahi ta’ala, ingin meluruskan akidah orang; ia menang. Setelah ia menang, syaitan mengatakan, ”Sekarang saya sudah kalah, dan kau menang; sekarang pulang sajalah, tidak usah menebang pohon, nanti aku akan memberimu emas setiap harinya”. Pada hari pertama ada emas seperti yang dijanjikan, hari kedua ada emas, tetapi pada hari ketiga tidak ada lagi emas, demikian pula hari keempat juga tidak ada emas. Akhirnya pemuda tadi marah, ”Ternyata syaitan itu bohong, guwa dikadalin”. Memang syaitan itu adalah tukang bohong, jangan heran! Oleh karena itu apapaun berita yang disampaikan oleh syaitan, jangan percaya. Akhirnya pemuda tersebut berangkat akan menebang pohon tadi, di tengah jalan bertemu dengan syaitan yang sebelumnya telah ditemuinya dan terjadi perkelahian, ternyata pemuda tersebut kalah Kata syaitan, ”Kemarin engkau menang, sekarang engkau kalah, karena begitu tidak aku kasih emas, engkau marah”. Jadi, kekalahan pemuda tersebut tergantung kepada dia sendiri. Ketika kondisinya kuat, mempunyai akidah yang kuat, ia menang; tetapi begitu ia lemah imannya, kalahlah ia. Ini adalah kisah sebelum rasulullah datang, kisah tentang Bani Israil.

3. Pelaku sihir adalah musyrik

Sebenarnya orang yang melakukan penyihiran atau orang yang melakukan kolaborasi dengan jin adalah orang yang merusak dirinya sendiri dan itu merukan bentuk kesyirikan. Oleh karena itu pelakunya telah melakukan dosa besar. Oleh karena itulah dalam Islam, orang yang melakukan sihir, hukumnya adalah dibunuh, dianggap murtad. Para normal, dukun, kahin-kahin, dlsb; yang suka menjadi perantaranya, hukumnya adalah dibunuh. Oleh karena itu jangan mencoba-coba berkolaborasi dengan jin. Demikian pula kita tidak usah takut, karena tidak ada kekuatan yang diberikan oleh Allah kepada jin, kalau kita tawakal dan imannya kuat. Kita lihat dalam surat An Nahl : 99:

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atau kekuatan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.

Yang tidak terganggu atau tertembus oleh syaitan adalah oang yang beriman dan tawakal. Oleh karena itu kita tidak perlu takut dengan syaitan, jangan takut disantet. Buktinya Ki Gendeng yang menyatakan akan menyantet seseorang, misalnya George Bush dengan menyembelih kambing, ternyata tidak tembus pula. Menyantet orang kafir saja tidak bisa, apalagi menyantet orang yang beriman dan tawakal. Kalau kita tawakal, tidak perlu takut. Yang bermasalah adalah orang yang menjadikan jin itu sebagai kawan dan orang yang berbuat syirik. Apa yang dimaksud dengan berkawan dengan jin? Termasuk pula di sini adalah berkawan dengan orang yang berkolaborasi dengan jin. Orang yang berkawan dengan dukun-dukun, harus hati-hati, mudah terkena. Orang yang suka berbuat syirik, mudah pula terkena sihir. Makanya kalau ada orang yang terganggu dengan syaitan, yang diperbaki pertama kali adalah konsep ia terhadap syaitan itu. Meskipun diruqyah beberapa kali, tidak akan sembuh, kalau persepsinya terhadap syaitan tidak berubah. Ruqyah itu ibarat analgetik, hanya menghilangkan rasa sakit, tetapi bukan menyembuhkan penyakit. Kalau sumbernya bermasalah, maka tetap akan bermasalah. Begitu diruqyah, jinnya keluar, tetapi setelah itu kembali lagi. Oleh karena itu tidak perlu takut dan kepada anak-anak juga harus ditekankan bahwa jangan takut dengan syaitan. Mekanisme penangkalnya perlu pula kita ketahui, tetapi yang pokok adalah keimanan dan tawakal. Biarpun membaca penangkalnya: ayat kursi, surat falaq-binnas, dlb; tetapi kalau ia suka berkawan dengan jin dan suka berbuat syirik, tetap saja kena sihir. Orang yang seperti itu kalaupun membaca ayat kursi, yaitan mengatakan, ”Saya pun sudah hafal ayat kursi!”. Intinya bukan pada kalimat yang diucapkan, tetapi bagaimana kondisi yang membacanya. Kalaupun ia membaca penangkalnya, tetapi ia tidak yakin atas apa yang dibaca, tidak akan bisa menangkalnya. Kita tidak perlu takut kepada syaitan, asalkan beriman kepada Allah dan tawakal. Apa arti tawakal? Kita yakin bahwa kalau Allah menyatakan tidak, maka tidak akan bisa terjadi.

Ada beberapa catatan tentang masalah jin ini, berkaitan dengan kondisi saat ini, agar kita tidak terjebak menjadi kawan-kawannya:

1. Jin tidak bisa dilihat

Prinsip yang pertama adalah bahwa jin atau syaitan itu tidak bisa dilihat oleh manusia. Orang-orang tertentu bisa bekomunikasi dengannya, tetapi tidak bisa melihatnya. Kita lihat dalam surat Al A’raaf : 27:

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

Kita dihijab terhadap jin dan syaitan, sehingga tidak bisa melihatnya. Itu adalah pernyataan Allah.

2. Jin dapat berwujud sesuatu

Jin atau syaitan itu dapat berwujud sesuatu sehingga bisa dilihat oleh manusia. Jadi, jin bisa terlihat kalau ia berwujud sesuatu. Tetapi kalau dalam wujud aslinya, jin itu tidak bisa kita lihat. Kalau jin berubah wujud, dan bisa dilihat, kita pun tidak tahu bahwa itu jin atau syaitan, misalnya berwujud ular, manusia; itu bisa ia lakukan. Kalau ada orang yang menyatakan melihat jin, itu hanya sepertinya melihat, tetapi hakikatnya tidak bisa tahu apakah itu jin atau bukan. Kalau ada yang menyatakan, ”Tiba-tiba ia menghilang”, bisa saja itu karena mata kita yang bermasalah. Misalnya, ketika kita menepuk naymuk, tidak terkena, karena kecepatan gerakan nyamuk lebih tinggi daripada tepukan tangan kita. Atau, kita melamun, tiba-tiba kita sudah sampai di suatu tempat. Itu adalah kejadian tiba-tiba. Dulu ketika jaman rasulullah, sahabat bertemu dengan jin, tetapi ia tidak sadar bahwa itu adalah jin. Setelah diberitahu oleh rasulullah barulah ia sadar bahwa yang ditemuinya itu adalah jin. Ada sahabat rasulullah yang diajarkan tentang cara menagkal jin dengan ayat kursi. Diriwayatkan Abu Hurairah ditugaskan menjaga baitul mal, ada orang mencuri dan berhasil ditangkapnya. Setelah mengakui kesalahannya dan memohon ampun, dilepaskan lagi, tetapi keesokan harinya ia mencuri lagi, ditangkap lagi. Sampai ketiga kalinya tertangkap, akhirnya ia ditangkap, sebelum dilepaskan ia mengajarkan cara menangkal syaitan yaitu ayat kursi, ”Kalau engkau baca ayat itu, maka engkau akan terhindar dari gangguanku”. Setelah itu ia pergi kepada rasulullah dan menceritakannya dan rasulullah membenarkannya khusus untuk membaca ayat itu, sedangkan untuk yang lain-lainnya, syaitan berbohong. Abu Hurairah tidak tahu bahwa yang mengajarkan itu adalah syaitan. Ia mengetahui bahwa itu syaitan, setelah diberitahu oleh rasulullah SAW. Demikian pula ketika dikisahkan bahwa ketika ada Umar, syaitan lari tunggang langgang, karena ketakutan. Umar sendiri tidak mengetahui bawa syaitan tunggang langgang. Ia tahu hal itu setelah rasulullah memberitahukannya. Oleh karena itu, misalnya, kalau kita melihat sesuatu, tidak usah diceritakan kepada orang lain, tidak usah pula direka-reka; meskipun syaitan itu bisa terlihat dalam bentuk yang lain kalau ia menghendakinya. Namun demikian kita pun tidak mengetahui apakah itu jin atau bukan.

3. Kekuatan syaitan hilang bila berubah wujud

Kalau syaitan berubah wujud sesuai dengan yang kita lihat, maka syaitan itu tidak mempunyai kekuatan selain kekuatan makhluk seperti yang terlihat itu. Kalau ia berubah wujud menjadi ular, maka kekuatan jin itu hilang dan berubah sebagaimana kekuatan ular. Tidak ada istilah ular sakti, kucing sakti, orang sakti, dlsb. Apa yang dirupai, kekuatannya seperti yang diserupai itu. Jin mempunyai resiko yang besar kalau berubah wujud, karena begitu ia terlihat oleh manusia, tidak tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau ia dibunuh orang, mati! Itulah resikonya. Karenanya, kalau kita bertemu dengan ular, jangan cepat-cepat dibunuh, usir saja; sebab jangan-jangan ia saudara kita. Kalau tidak mau diusir, atau mematok orang, baru boleh dibunuh. Jin itu kalau berubah bentuk, sebenarnya ia nekad. Oleh karena itu kita tidak usah takut dengan istilah kucing siluman, ular siluman, dlsb. Kalau jin berubah wujud seperti itu, maka seperti wujud itulah kekuatannya. Kalau kita bertemu ular, misalnya, jangan cepat dibunuh. Ular itu termasuk binatang yang tidak pernah mau menyerang. Ia mematok, kalau ia merasa terganggu. Makanya orang bisa tidur atau bermain-main dengan ular. Pawang-pawang ular itu bukanlah jagoan, tetapi ia hanya mengetahui tingkah laku ular. Kalau bertemu dengan ular, jangan melakukan gerakan yang membuat reflek ia menyerang. Ular itu termasuk binatang yang matanya rabun, tidak melihat; tetapi insting gerakannya tajam. Jadi, kalau jin berubah wujud menjadi sesuatu, ia menjadi lemah. Seperti jin yang berubah wujud menjadi manusia sebagaimana ditangkap oleh Abu Hurairah, ia menjadi lemah, sama layaknya seperti manusia. Karenanya, kalau misalnya bertemu dengan ”kucing jadi-jadian”, tendang saja pasti kabur; itu kalau kucing itu macam-macam. Kalau tidak berbuat macam-macam, jangan pula disiksa, biarkan saja.

4. Jangan percaya kehebatan syaitan

Kalau ada orang yang menceritakan tentang kehebatan jin atau syaitan, maka ia akan bertambah senang. Ia akan bertambah hebat. Atau, kita ketakutan dengan syaitan, ia pun semakin senang. Kalau misalnya kita bertemu dengannya, diam saja, jangan diceritakan. Banyak orang yang suka bercerita kalau bertemu dengan yang seperti itu dan menceritakannya kepada orang lain. Yang demikian itu bisa merusak iman. Karena, siapa orang yang membesar-besarkan jin, atau yang takut karena jin; sebenarnya ia sudah termakan oleh godaan jin atau syaitan. Kalau ada orang yang menyatakan, ”Di sana ada jin sedang begini…begitu…”, jangan percaya. Kalaupun ada, memangnya ia mau apa? Tidak usah digubris. Apalagi kalau malah ketakutan, ”Aduuuhhh, hiii..hiii…”, semakin senang syaitan. Kita jangan menjadi penyebar gosip kehebatan syaitan.

5. Orang yang menyatakan bisa berkomunikasi dengan syaitan atau bisa melihat jin, maka ia adalah temannya jin

Kalau ada orang menyatakan bahwa ia bisa melihat atau bisa berkomunikasi dengan jin, maka ia adalah antek-anteknya jin/syaitan. Yang memburu jin seperti yang ditayangkan oleh televisi itu juga kawannya syaitan. Biarpun ia memakai tasbih atau memakai ayat, memakai sorban, kita tidak usah terpukau dengan penampilannya itu, pokoknya ia adalah kawannya syaitan. Yang bisa melihat syaitan adalah kawannya syaitan, karena syaitan membuka rahasianya. Rasulullah saja tidak bisa melihat syaitan, apalagi manusia biasa. Karenanya kalau di rumah, misalnya, ada orang yang mengatakan, ”Di sini ada syaitannya”, maka ia adalah kawannya; jangan percaya, nanti bisa terkena, biarpun bertitel kyai atau ustadz, memakai sorban, jenggotnya panjang. Mengapa? Karena dalam Al Qur’an dinyatakan bahwa orang yang tolong menolong dengan jin, maka keduanya akan tersesat. Adapun orang-orang yang ahli ruqyah, ia pun tidak bisa melihat jin. Kalau ia mengatakan bisa melihat jin, maka ia adalah kawannya jin. Ini perlu kita tanamkan kepada keluarga kita, jangan takut. Kalau tidur di tempat gelap, takut ke kamar mandi misalnya, tidak perlu takut syaitan, karena kita tidak akan pernah melihatnya.

Kalau ada orang yang disinyalir terkena jin, belum tentu ia terkena jin. Oleh karena itu jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa ini terkena godaan jin atau syaitan. Kalau ia kesurupan, misalnya, belum tentu ia benar-benar kesurupan, jangan-jangan kita ditipunya. Kalau benar ia terganggu syaitan, kalau dibacakan ayat, maka ia sadar. Kalau tidak juga sadar, maka ia bukan terkena syaitan, tetapi terkena penyakit. Makanya ru’yah itu doanya adalah doa umum: qul a’udzu birobbil falaq (doa umum), min syarri maa kholaq, juga doa umum, baru wa min syarrin nafaatsati fil uqod, doa khusus untuk syaitan. Doa yang pertama, kita minta perlindungan dari godaan makhluk Allah, umum: baik yang bersifat nyata maupun yang tidak nyata. Doa-doa yang dibaca ketika ruqyah adalah doa-doa yang bersifat umum. Ruqyah itu bukan hanya untuk orang yang sakit non fisik saja, sakit fisik pun tidak apa-apa diruqyah. Kebanyakan orang berpikir bahwa ruqyah itu hanya dipakai untuk jin saja, padahal untuk sakit apa saja.

Pada kajian berikutnya, kita akan belajar bagaimana menangkal syaitan, apa saja yang harus kita baca, dlsb, bagaimana cara meruqyah, apa saja yang harus dilakukan, serta apa syarat-syaratnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: