• Berita Terbaru

    Alumni ESQ mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat di Menara 165

    Photo bareng -2 Sebanyak 156 alumni ESQ dengan penuh antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN) pada tanggal 10-11 Januari 2009 yang diselenggarakan di Gedung Menara 165 Jl. Simatupang, Jakarta Selatan. Peserta pada pelatihan tersebut langsung dibimbing oleh Instruktur yang juga merupakan penggagas MSKN, Ustadz Ansufri Idrus Sambo, dengan dibantu oleh para asisten trainer. Berita Selanjutnya ….

  • Sekretariat

    Jl. Cempaka G1

    Budi Agung

    Bogor - Jawa Barat

    16710

    Telp. 0251 8315 914

    Fax. 0251 8315 914

    Manajemensholat@gmail.com

    100_3269

  • Translate This Site

  • Aktivitas Info

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Silaturrahim

    • 282,149 pertemuan
  • Arsip MSKN

  • Kategori

  • Pos-pos Terbaru

  • Komunitas

    Indonesian Muslim Blogger

4 Januari 2009

MASJID AL FALAAH TAMAN YASMIN VI

PENGAJIAN SHUBUH TANGGAL 4 Januari 2009

BEBERAPA CATATAN

SERANGAN ISRAEL KE PALESTINA

Ustadz : Sambo

 

Palestina itu adalah kota suci tiga agama: Islam, Nasrani, dan Yahudi. Awalnya adalah bahwa Nabi Ibrahim mempunyai dua isteri, yaitu Siti Sarrah dan Siti Hajar. Ketika menikah dengan Siti Sarrah, Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dan belum mempunyai anak hingga tua. Kemudian Allah menikahkan Nabi Ibrahim dengan Siti Hajar dan lahirlah Nabi Ismail yang dibawa ke negeri Mekah. Selanjutnya Nabi Ibrahim kembali ke Palestina dan Allah berikan rejeki dengan memberi anak yang namanya Ishak. Ishak mempunyai anak yang bernama Ya’kub. Nabi Ya’kub ini mempunyai anak sebanyak 12 orang, di antaranya adalah Nabi Yusuf dan yang terakhir adalah Bunyamin.

Ketika Nabi Yusuf menjadi penguasa di Mesir, anak-anak Nabi Ya’kub semua pindah ke Mesir, akhirnya tanah Palestina kosong. Ini terjadi sampai ribuan tahun, tanah itu tidak ditempati oleh anak keturunan Nabi Ya’kub, sehingga Palestina bukan lagi menjadi miliknya. Akhirnya anak keturunan Nabi Ya’kub beranak pinak semuanya di Mesir. Di sanalah lahir Nabi Musa. Masa antara Nabi Ya’kub dengan Nabi Musa itu lama sekali, beratus bahkan ribuan tahun. Pada masa Nabi Musa itulah mereka menyeberangi laut Merah kembali ke Palestina. Pada saat itu pun mereka tidak berani masuk Palestina. Meskipun hanya disuruh masuk dan itu dijamin aman, mereka tidak mau masuk Palestina juga, bahkan kurang ajarnya mereka mengatakan, ”Masuklah engkau, wahai Musa bersama Tuhanmu. Kami menunggu saja di sini”. Ini dijelaskan dalam surat Al Maidah : 20 – 26:

20. dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi Nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”.

21. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu[409], dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

[409] Maksudnya: tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah.

22. mereka berkata: “Hai Musa, Sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, Sesungguhnya Kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. jika mereka ke luar daripadanya, pasti Kami akan memasukinya”.

23. berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

24. mereka berkata: “Hai Musa, Kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya Kami hanya duduk menanti disini saja”.

25. berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara Kami dengan orang-orang yang Fasik itu”.

26. Allah berfirman: “(Jika demikian), Maka Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang Fasik itu.”

Semenjak itu Allah menyatakan bahwa tanah itu diharamkan bagi mereka. Allah yang menyatakan demikian, karena sudah ribuan tahun ditinggalkan, masih juga diberi kesempatan untuk bernegosiasi dengan penduduk baru tersebut, tetapi mereka tidak mau masuk. Penduduk baru itu disinyalir oleh Bani Israil adalah kaum jabbariin, kaum yang bengis (ada istilah barbar, bengis). Saking kurang ajarnya bahkan mereka mengatakan tidak mau masuk selama kaum itu ada di Palestina, malah menyuruh Nabi Musa masuk ke negeri Palestina berserta Tuhannya. Oleh karena itulah Allah mengharamkannya. Ayat itulah yang menjadi dalil bahwa tanah itu bukan tanah mereka. Sampai sekarang dan seterusnya tanah itu tidak akan selesai, akan bergolak terus; dan mereka selalu mengklaim bahwa tanah itu adalah tanah mereka. Anehnya, kita dibuat bingung oleh orang atau masyarakat di sekitar itu, mereka diam-diam saja, tidak pernah mau bersatu. Di daerah itu berbatasan dengan Libanon, Jordania, Mesir, Suriah; semuanya adalah negara Islam. Kalau melihat ayat itu, dan itu merupakan keyakinan umat Islam, tanah itu bukanlah tanah mereka. Tetapi dalam keyakinan mereka, tanah itu adalah miliknya.

Pada jaman Umar bin Khattab, mereka diusir semuanya hingga habis; terus terjadi Perang Salib di mana Nasrani ingin juga di situ. Sebenarnya Yahudi dan Nasrani itu juga menginginkan tanah itu. Orang Nasrani sebenarnya tidak cocok dengan Yahudi, hanya saja ketika berjumpa dengan Islam, mereka bersatu. Dalam bahasa kita adalah “Musuhnya musuh itu adalah kawan”. Namun pada akhirnya di jaman Al Ayyubi, tanah itu direbut juga oleh umat Islam. Tetapi itu terjadi dengan pertarungan yang fair, ketika mereka menaklukkan Palestina, yang kalah diberi kesempatan untuk hidup. Nah, dengan gerakan kaum Zionis, pada tahun 1948 orang-orang Yahudi merebut tanah itu. Sekarang bagaimana sikap kita, kaum muslimin seperti di Indonesia ini? Untuk kaum muslimin yang ada di sana sudah tentu itu adalah suatu peperangan, suatu kewajiban (fardhu ‘ain) untuk berperang. Mengapa? Karena di sana kaum muslimin diusir, maka harus melawan. Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa diperbolehkannya berperang itu dalam beberapa hal. Islam itu bukan agama perang! Kalaupun ada perintah membangun angkatan perang, maka itu bukan untuk perang. Dalam Al Qur’an memang ada ayat yang menyuruh untuk membangun angkatan perang, tetapi itu bukan untuk perang, melainkan untuk “menakut-nakuti” agar orang lain tidak menganggap remeh (show of force). Angkatan perang dibangun itu bukan untuk ofensif, tetapi untuk defensif. Dijelaskan dalam surat Al Anfaal : 60-62:

60. dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

61. dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

62. dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan Para mukmin,

Ayat tersebut jelas bahwa angkatan perang itu dibangun untuk menakut-nakuti. Tetapi dijelaskan pada ayat berikutnya bahwa kalau orang itu cenderung kepada perdamaian, maka diperintahkan oleh Allah untuk berdamai. Akan tetapi perdamaian itu tidak akan muncul kalau kaum muslimin dalam posisi lemah. Tidak ada orang berdamai dengan orang yang lemah, biasanya ajakan damai itu terjadi kepada orang yang kuat. Misalnya, mobil kita ditabrak orang dengan tidak sengaja, biasanya kita marah dulu. Tetapi begitu yang keluar adalah orang ”kuat”, ingin berdamai saja, tetapi kalau ia orang lemah, sulit untuk berdamai, bahkan inginnya dihajar. Makanya dunia ini akan damai kalau umat Islam kuat, karena perdamaian itu hanya pada orang Islam. Hanya orang Islamlah kalau mempunyai kekuatan berdamai. Tetapi kalau orang lain yang kuat, maka agresilah yang dilakukan. Oleh karena itu mestinya yang menjadi polisi dunia itu adalah orang Islam, kalau ada kedzaliman di mana-mana, maka bisa menghentikannya. Karena polisinya lemah, maka dunia ini menjadi kacau.

Alasan-alasan yang memperbolehkan berperang adalah:

1. Diperangi

Boleh berperang, kalau kita diperangi. Berperangnya pun harus fair, karena Islam itu adalah agama fair. Tidak ada orang yang diperangi, diam saja. Kita lihat dalam surat Al Baqarah : 194:

194. bulan Haram dengan bulan haram[118], dan pada sesuatu yang patut dihormati[119], Berlaku hukum qishaash. oleh sebab itu Barangsiapa yang menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

[118] Kalau umat Islam diserang di bulan haram, yang sebenarnya di bulan itu tidak boleh berperang, Maka diperbolehkan membalas serangan itu di bulan itu juga.

[119] Maksudnya antara lain Ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram.

Kalau ada orang menyerang, maka diibalasnya itu harus semisal, tidak boleh lebih. Uniknya dalam Islam, kalau diperangi, maka wajib membalas dengan perang; tetapi kalau pribadi, lebih baik memaafkan. Tidak ada cerita orang diperangi, diam saja. Tetapi kalau pribadi, lebih baik memaafkan. Memang ayatnya menyatakan bahwa kalau engkau dipukul, maka pukul lagi; tetapi kalau memaafkan, itu lebih baik. Ini kalau kaitannya dengan pribadi. Pada ayat 90 (Al baqarah) dijelaskan:

190. dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Kalau diperangi, balas perangi semisal ia memerangi, tetapi ingat: jangan melampaui batas, tidak boleh lebih. Kalau pribadi dipukul, balas pukul lagi, tetapi memaafkan lebih baik (Asy Syuura : 41):

41. dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.

Kalau gigi copot satu, balas copot satu juga; jangan gigi copot satu, balasannya copot lima. Itu tidak boleh! Itulah hebatnya Islam, membalas itu harus ada takarannya. Artinya, orang Islam itu harus tetap dalam kontrol. Kalau hidung berdarah, balas dengan hidung berdarah. Kalau mata ditonjok, balas mata ditonjok; fair. Itulah yang disebut qishash. Hukum internasional pun begitu, membalas dengan semisal, fair.

2. Tanah/harta milik dicaplok

Kita boleh berperang apabila tanah/harta kita dicaplok oleh orang lain. Kita lihat dalam surat Al Baqarah : 246:

246. Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, Yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk Kami seorang raja supaya Kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. mereka menjawab: “Mengapa Kami tidak mau berperang di jalan Allah, Padahal Sesungguhnya Kami telah diusir dari anak-anak kami?”[155]. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang zalim.

[155] Maksudnya: mereka diusir dan anak-anak mereka ditawan.

Kalau kita diusir dari kampung kita, misalnya, kita boleh keluar membangun kekuatan. Setelah kuat, kembali lagi untuk dengan berperang. Kalau diusir, berarti kita dalam kondisi lemah, boleh keluar dulu untuk membangun kekuatan, setelah itu kembali lagi melawan. Rasulullah pun demikian, ketika di Mekah, posisinya lemah. Hijrah itu karena posisinya lemah, diusir. Makanya begitu di Madinah, sesudah membangun kekuatan, kembali ke Mekah untuk merebutnya kembali. Kalau tidak kuat, jangan melawan; keluar dulu, hijrah. Tetapi kalau dalam posisi yang kuat, lawan dengan berperang. Dalam surat Al Hajj : 39-40 dijelaskan:

39. telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,

40. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan Kami hanyalah Allah”. dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,

Dalam Islam, kalau berperang tidak boleh merusak rumah ibadah. Tetapi kalau Islam kalah, habis semua rumah ibadah. Oleh karena itu Islam itu harus menjadi penguat, karena kalau kalah, habislah semua rumah ibadah; dihancurkan. Yang tidak boleh dirusak itu adalah rumah ibadah yang sudah ada ketika berperang. Kalau belum ada, tidak boleh dibangun! Misalnya, kita berperang dengan suatu negara, di sana kita tidak boleh merusak tempat ibadah yang sudah ada. Itu adalah hak asasi mereka. Tetapi kalau mereka membangun rumah ibadah di negeri kita, itu tidak boleh. Ayat itu sering dipakai sebagai dalil oleh orang-orang tertentu untuk tidak boleh merusak rumah ibadah. Benar tidak boleh merusak, tetapi itu kalau rumahnya sudah ada sebelumnya; tetapi kalau belum ada, tidak boleh dibangun.

Bagaimana dengan orang Palestina yang terjadi sekarang ini? Saat ini mereka tidak mau keluar, berarti mereka masih mampu. Bagaimana posisi kita terhadap perang yang terjadi di Palestina itu? Kewajiban perang itu ada dua: fardhu ’ain dan fardhu kifayah. Kalau fardhu ’ain, kalau diperangi, maka seluruh penduduk wajib berperang. Penduduk yang ada di luar negeri itu, maka mereka itu fardhu kifayah: kalau sudah ada yang melakukan, yang lainnya terbebas. Ini seperti shalat jenazah, kalau sudah ada yang menyelenggarakannya, maka gugurlah kewajiban kita. Dalam hal membebaskan tanah Palestina itu, bagi kita adalah fardhu kifayah, karena ada yang berperang melawannya. Makanya kita bersyukur dengan bangsa Palestina yang melawan perang itu, sehingga kita terbebas dari kewajiban. Kalau tidak ada yang melawan, maka kita bedosa kalau tidak berperang. Bagi yang mampu harus berangkat ke sana. Karena sekarang adalah fardhu kifayah, maka kita harus berkontribusi sebagai rasa syukur tidak harus pergi ke sana. Paling tidak turut mendukung perlawanan itu, entah dengan harta, atau dukungan lainnya. Yang bagus itu menyumbang senjata, menyumbang peluru. Menyumbang obat-obatan adalah perlu dan memang diperlukan, tetapi dengan hanya membantu obat-obatan, makin banyak yang sakit dibiarkan perlakuan yang dilakukan oleh Israel. Obat-obatan itu untuk yang luka, tidak menghentikan serangan. Yang bagus itu adalah menghentikan serangan. Anehnya, Israel menyerang Palestina, tetapi semua negara mengirim obat-obatan; bukan pasukan! Hanya saja kita tidak setuju juga, kalau yang dikirim ke sana adalah relawan yang tidak mengetahui cara berperang, memegang senjata saja juga tidak tahu; malah membuat repot orang-orang di sana. Yang berangkat itu jangan relawan, tetapi kirim pasukan militer. Oleh karena itu dalam Al Qur’an, selalu jihad itu dimulai dari harta, baru kemudian jiwa. Seandainya Al Qur’an menyuruh jihad dengan jiwa terlebih dahulu, maka akan kacau.

Ada tiga kemungkinan mengapa jihad itu diawali dengan harta terlebih dahulu. Kemungkinan pertama adalah memang hartalah yang paling mudah dikeluarkan. Kita lihat dalam surat Ash Saff : 10:

10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Kemungkinan kedua adalah bahwa orang yang sudah bisa mengorbankan harta, nantinya tidak akan sulit mengorbankan jiwanya. Ini merupakan tahapan untuk berjihad. Makanya dulu pada jaman Nabi, ada seorang pemuda akan mengikuti jihad, berperang. Oleh nabi ditanya, ”Engkau mempunyai apa?”. Jawa pemuda tersebut, ”Saya tidak mempunyai apa-apa”. Pemuda tersebut tidak boleh berangkat. Mengapa? Karena tidak mempunyai apa-apa, nanti bagaimana ia berperang? Kalau ia mempunyai senjata, mempunyai kuda, misalnya, maka boleh ikut berjihad. Tetapi kalau tidak mempunyai apa-apa turut berperang, nanti peralatannya dari mana, makannya dari mana? Bagaimana keluarga yang ditinggalkannya? Kecuali ada yang menanggungnya, maka itu diperbolehkan. Kalau orang sulit mengeluarkan harta, maka bahkan akan sulit mengorbankan jiwanya.

Kemungkinan ketiga mengapa harta didahulukan dalam berjihad adalah bahwa itu bukan berarti urutan, tetapi itu adalah satu paket (harta dan jiwa). Itu terlihat dari perintah nabi untuk berperang, yang tidak mempunyai harta kalau tidak ada yang menanggung, tidak boleh berperang. Seseorang yang hanya bisa perang, tetapi tidak mempunyai apa-apa; tidak boleh ikut berperang. Apalagi kalau senjata juga tidak punya, perbekalan juga tidak punya.

Untuk kasus Palestinam sayangnya kita hanya bisa memberi bantuan kemanusiaan. Kalau ada bantuan persenjataan atau bantuan militer, maka akan besar dampaknya.

Cerita tentang Israel dan Palestina itu adalah cerita yang akan terjadi terus menerus. Bisa jadi adalah skenario yang lainnya, bukan untuk menghabisi Hamas atau menghancurkan Palestina. Sebelum Palestina diserang, para pemimpinnya ditangkapi dulu. Bisa jadi aspek ekonomi juga sangat kentara berperan di situ. Negara maju barang kali sudah mulai kebingungan ke mana senjata dilemparkan (dijual)? Apalagi dalam kondisi kiris seperti sekarang ini: mobil tidak laku, rumah tidak laku; yang laku keras adalah senjata, perang baru. Jadi peperangan ini memang disetting, nanti berhenti sendiri, terus serangan lagi. Di beberapa negara juga mungkin seperti itu, keadaan yang aman, dibuat sedikit rusuh, sehingga ada biaya oprasional dan hitung-hitung sebagai latihan.

Kalau Palestina dihabisi, maka dikhawatirkan akan terjadi perang semuanya, perang antara muslim dan non muslim. Tetapi kalau skenario yang kedua, perang ini sengaja diciptakan hanya sebatas itu saja, bukan perang total. Kalau dikaji lebih dalam, misalnya, ”penguasa ekonomi” di Jordania itu kebanyakan adalah orang-orang (keturunan) Palestina. Orang Palestina itu istilahnya adalah ”cina”-nya Arab, bisnisnya hebat. Kalau semuanya habis, maka akan repot. Oleh karena itu perang itu dibuat-buat. Kalau skenario yang pertama, maka perang itu menjadi fardhu ’ain. Kalau itu dilakukan, maka itu adalah kesalahan besar bagi Israel dan sekutunya, bisa menjadi perang dunia. Makanya dalam jaman sekarang tidak ada suatu negara ditaklukkan, lalu penduduknya diusir seperti yang terjadi jaman dulu. Sekarang ini adalah pendudukan dengan tidak mengusir penduduknya. Misalnya di Irak, Amerika turut campur, tetapi pemerintahnya tetap orang Irak, hanya menjadi bonek saja. Ini yang malah membuat repot. Afganistan, misalnya yang lain, pemerintahannya adalah menjadi boneka Amerika. Kalau jaman dulu penjajahannya dilakukan dengan jelas, seperti Belanda menjajah kita. Jaman sekarang kalau penjajahan dilakukan seperti dulu, akan mendapatkan perlawanan. Yang aman adalah menjadikannya negara boneka. Orang-orang akan menyatakan, ”Oh, masih ada koq negara Irak, Afganistan, Palestina”. Dulu ketika Palestina dikuasai oleh Fatah, menjadi boneka juga. Karena yang sekarang sudah tidak bisa disetir, maka akan dikuasai pula, pemerintahannya dikerjain. Yang enak itu adalah skenario pertama, jelas; tetapi itu tidak mungkin, karena semua akan berperang, jihad fardhu ’ain; negara Arab bisa bersatu. Oleh karena itu dijaga agar jangan sampai itu terjadi, dan Indonesia pun sepertinya menggunakan skenario yang kedua, menganggap itu bukan perang agama. Berbeda dengan dulu, tentang sejarah Spanyol, di mana negerinya dikelilingi oleh negara-negara non muslim, sehingga Islam di sana hilang. Kalau Palestina, dikelilingi oleh negara muslim, Israel itu negara yang kecil dibandingkan negara-negara Arab lainnya. Di sana ada Libanon, Mesir, Suriah. Jadi, kemungkinan penghilangan Palestina itu tidak mungkin. Memang untuk saat ini mereka tidak secara terang-terangan membantu Palestina, karena negara Arab itu penakut juga. Tetapi solidaritas masyarakatnya masih tetap ada, meskipun dengan gelap-gelapan.

Ini sebenarnya adalah dalam rangka membangun solidaritas bahwa mereka adalah saudara kita. Ada pertanyaan: ”Kan di negara kita masih juga banyak yang miskin yang memerlukan bantuan kita?”. Benar tetangga kita juga memerlukan bantuan. Tetapi kalau masalah kemiskinan itu masih bisa besok atau lusa, masih bisa ditunda.

Isu-isu seperti ini juga didengar oleh anak-anak kita, keluarga kita mendengar. Urusan semangat membangun solidaritas itu harus kita turunkan kepada anak-anak kita, tetapi jangan pula melupakan membantu yang miskin. Sebab kalau ini kita biarkan, tidak kita turunkan kepada anak-anak kita, kalau itu benar-benar kejadian; bagaimana generasi setelah kita? Begitu sudah perang terus hanya mengurusi orang miskin. Jadi, membangun semangat kepada keluarga itu adalah penting, jangan sampai mereka tidak mengerti. Mereka mengetahui bagaimana Yahudi itu. Itu dilakukan dalam rangka menjaga semangat kebersamaan, jangan semangat saling mendendam, ini adalah suatu kedzaliman.

Ada lagi hal yang tidak perlu kita ikuti, yaitu berupa sms tentang amalan-amalan tertentu terkait dengan Palestina ini, seperti disuruh membaca qul-hu sekian kali, lalu diforward ke sekian nomor agar menang perang. Yang perlu kita kirim ke sana itu adalah duit dan senjata. Mereka tidak memerlukan qul-hu kita, di sana sudah banyak qul-hu. Sebab, jangan-jangan ini adalah masalah bisnis, pekerjaan operator. Ia membuat seperti itu agar diforward ke sekian nomor telepon dan itu berantai. Mereka di Palestina tidak memerlukan itu, tetapi mereka memerlukan doa yang kita bacakan. Mereka tidak memerlukan sms seperti itu. Bunyi sms-nya, misalnya seperti: ”Tolong bacakan Laa ilaaha illallaahu allaahu akbar, surat Al Ikhlas 3x untuk saudara2 kita di Palestina. Kirimkan ke 10 orang”. Siapa yang untung? Operator! Ini sepertinya bagus, tetapi itu tidak benar. Mereka tidak membutuhkan kalimat itu, yang dibutuhkan adalah uang atau senjata atau doa qunut nazilah. Bangsa Indonesia harus mengirimkan doa qunut nazilah. Itu yang dicontohkan oleh Nabi. Itulah pekerjaan operator, buat sms yang bagus-bagus yang diforward ke mana-mana. Kalimat-kalimat seperti ucapan lebaran, tahun baru, dll; itu adalah pekerjaan operator. Kita tidak mengetahui itu berasal dari HP siapa, kemudian kita kirim ke mana-mana. Yang diuntungkan adalah operator. Tidak ada hadits yang menyatakan bahwa kalau ditimpa sesuatu harus membaca qul-hu, laa ilaaha illallaah sekian kali. Yang ada adalah qunut nazilah. Oleh karenanya itu jangan diikuti.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: